Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya naik di langit Cimahi, aroma kopi dari dapur kecil di rumah saya mulai menyebar ke sudut-sudut ruang. Di sana, di antara rak buku yang sudah mulai berdebu dan suara anak-anak bersiap ke sekolah, saya duduk di kursi tua yang menghadap ke jendela. Jalan kecil di depan rumah—Jl. Abdul Halim—masih sepi, hanya sesekali dilintasi tukang cilok yang mendorong gerobaknya dengan irama pelan. Di tengah kesederhanaan itu, saya sering merenung: tentang kata-kata, tentang warisan, dan tentang bagaimana kita menjaga martabat di tengah dunia yang kadang tak ramah.
Orang Sunda, seperti saya, kadang menjadi sasaran ejekan yang datang entah dari mana. Kata-kata itu memang bisa menyakitkan, tapi saya belajar untuk tidak membalas dengan amarah. Sebab di balik hinaan, ada ruang untuk kembali ke akar—ke nilai-nilai yang telah lama ditanam oleh leluhur. Di antara buku-buku tua yang saya kumpulkan, saya menemukan satu simbol yang terus berbicara dalam diam: Situmang.
Situmang bukan sekadar tokoh dalam dongeng Sangkuriang. Ia adalah lambang hukum, etika, dan ketatanegaraan. Leluhur Sunda menempatkannya sebagai penjaga tatanan: resi sebagai suara kebijaksanaan, ratu sebagai penggerak kekuasaan, dan rama sebagai penjaga keadilan. Ketiganya berpijak pada satu landasan: ketuhanan. Dalam kesetiaannya, Situmang mengajarkan bahwa hukum harus tunduk pada nurani, bukan pada nafsu.
Saya sering membayangkan Situmang berjalan di jalan kecil depan rumah saya, matanya tajam, langkahnya mantap. Ia tidak menggonggong sembarangan, tapi selalu waspada. Ia tahu kapan harus diam, kapan harus menjaga. Dalam bayangan itu, saya merasa bahwa rumah saya bukan hanya tempat tinggal, tapi juga ruang belajar tentang nilai. Rak buku di sudut ruang tamu menjadi saksi bisu dari pencarian saya akan makna, dan Situmang menjadi teman imajiner yang mengingatkan saya untuk tetap teguh.
Mengapa anjing dipilih sebagai simbol? Karena ia setia, waspada, dan teguh. Dalam dunia yang mudah tergoda oleh popularitas dan kekuasaan, kesetiaan menjadi barang langka. Situmang mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa etika adalah jalan menuju kehancuran. Ia bukan hanya penjaga Dayang Sumbi, tapi penjaga nilai-nilai yang membuat manusia tetap manusia.
Di tengah rutinitas harian—mengantar anak ke sekolah, membantu istri yang mengajar, lalu kembali ke rumah untuk menulis—saya merasa bahwa hidup ini adalah rangkaian kecil dari kesetiaan. Kesetiaan pada keluarga, pada kata-kata, dan pada warisan budaya. Situmang bukan hanya simbol, tapi cermin. Ia memantulkan wajah kita: apakah kita masih menjaga nilai, atau sudah tergelincir dalam amarah dan kebisingan dunia?
Dalam dunia modern yang penuh polarisasi, pesan Situmang terasa semakin relevan. Media sosial menjadi arena ejekan, dan kata-kata kasar bertebaran tanpa kendali. Tapi di rumah saya, di antara aroma kopi dan suara anak-anak, saya belajar untuk menjawab dunia dengan ketenangan. Saya menulis bukan untuk membalas, tapi untuk mengingatkan. Bahwa martabat tidak ditentukan oleh seberapa keras kita membalas hinaan, tapi oleh seberapa dalam kita memahami akar.
Situmang mengajarkan bahwa hukum tidak boleh berjalan liar tanpa etika. Ketika kekuasaan melupakan nilai moral, masyarakat akan kehilangan arah. Leluhur Sunda telah menegaskan bahwa hukum, kekuasaan, dan keadilan harus selalu berpijak pada nilai ketuhanan dan kemanusiaan. Pesan ini bukan hanya untuk masa lalu, tapi untuk hari ini—untuk setiap langkah kecil di jalan depan rumah, untuk setiap kata yang saya tulis di pagi hari.
Pada akhirnya, Situmang adalah jalan pulang. Ia mengingatkan bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian, selama kita masih setia pada nilai. Di rumah yang juga menjadi perpustakaan, di jalan kecil yang menjadi saksi rutinitas, saya belajar bahwa kesetiaan adalah cahaya yang tak pernah padam. Dan Situmang, dalam diamnya, terus menjaga cahaya itu.
