ilustrasi gambar: Patrick Tomasso/Unsplash)
Sajak-sajak Perjalanan
Oleh, Siagian
Harta yang paling berharga adalah keluarga
Istana yang paling indah adalah keluarga
Puisi yang paling bermakna adalah keluarga
Mutiara tiada tara adalah keluarga—penggalan lirik lagu yang berjudul “Harta Berharga” oleh BCL.
Penggalan lirik lagu ini mencerminkan perasaan bahagia memiliki keluarga. Pun Tuhan mengizinkan saya hingga sampai saat ini memiliki kedua orang tua dan dua saudara. Saya anak pertama dan anak perempuan satu-satunya. Bulan Juli lalu, saya harus berangkat ke Jambi melanjutkan pendidikan S-1. Itu artinya saya harus meninggalkan tanah tumpah darah saya—Balige, Sumatera Utara.
Dalam setiap permainan kata-kata puisi-puisi saya, terdapat proses melepaskan pelukan hangat dari keluarga demi cita-cita hingga dapat hidup di tanah rantau. Silakan nikmati permainan kata-kata saya dengan secangkir kopi bersama keelokan dari senja sebelum tergantikan malam.

Terminal Saksi Bisu
Kupeluk erat kedua orang tua dan adik-adikku
kubisikkan kata-kata penenang yang lebih indah dari syair lagu
aku berkata juga “ayah, ibu, jangan menangis biar aku saja yang menangis”
telingaku terusik mendengar tangisan mereka
solah memintaku untuk tetap menetap pada pelukan hangat mereka.
Pun demikian terminal yang ingin bersuara melihat kami berlima
biasanya ramai lalu lalang manusia, hari itu tidak
ada ruang bagi kami untuk berbaur dan mengumpulkan air mata
bak sahabat yang berkata “kita berpisah dan akan bersatu di waktu yang berbeda.”
Aku melambaikan kedua tanganku dari jendela bus,
gerakan tangan ke kanan dan ke kiri saling bersahutan di antara kami,
sebelum benar-benar menghilang dari pandangan mereka
aku mengucapkan terima kasih kepada terminal dengan lambaian tangan.
Jambi, November 2025
Rindu Yang Terpenjara
Tiba di Jambi perasaan ingin pulang mulai menerjang
tinggal di kosan sendiri, tidak ada teman berbicara,
“rindu rumah” kataku tak kala aku tak melihat mereka.
Rindu yang besar terpenjara di hati yang kecil ini
kuusap-usap dada, menerima kenyataan
air mataku yang malu-malu keluar
tak terjua saat mengingat suara-suara mereka,
aroma ikan arsik masakan ibu
hatiku tersayat-sayat, busur panah tertancap dalam,
dan aliran darah terus keluar
sampai waktu aku menginginkan untuk berhenti.
Jambi, November 2025
Gambaran Rumah di Malam Hari
Malam tiba, semilir angin yang berbisik nama penghuni kosan
aku belum kenal dengan penghuni lain, hanya dinding menemani
jika ini rumah, suara ibu dan ayah akan terdengar dari ruang makan,
kedua adik saling berlomba menghabiskan nasi hangat.
Aku keluar saling menatap dengan bulan purnama
tutur kataku keluar “tantang aku, siapa diantar kita yang lebih dulu merindu?”
ternyata aku kalah lalu menunduk tak mampu menatapnya
dia tertawa melalui sinarnya yang semakin terang
aku membalasnya melalui bisikan “bulan dua belas nanti aku akan—
pulang dan aku ingin melihat apakah tertawamu masih sama.”
Jambi, November 2025
Secercah Cahaya
Seminggu sudah tidak merasakan pelukan hangat rumah
belajar menerima kenyataan baru
tangisan mulai terganti tawa—sadar dunia tempat berpisah.
Tugas-tugas ospek kibaskan rindu
sambutan hangat rektor kobarkan semangat
hati yang tertinggal di rumah mulai menghilang
semua ini untuk masa depan yang sudah disiapkan-Nya
pintu gerbang terbuka bagiku
kumemilih gerbang dengan secercah cahaya
daripada tanpa cahaya.
Jambi, November 2025
Bukan Bulan Purnama
Waktu tidak pernah habis tenaga,
akan tetap berlari membawa manusia—salah satunya aku
seminggu sekali panggilan video masuk dari ibu
kujawab dengan suara semangat, tak ingin mereka bersedih
senyum mereka kubalas dengan senyum yang lebih lebar.
Kutunjukkan buku-buku kuliah dan dinding kosan yang dipenuhi kertas
“Bu, ini hasilnya,” kataku
tepuk tangan kudapatkan dan ucapan paling berharga
Aku sadar dari dulu sampai sekarang—
keluarga hartaku.
Jambi, November 2025
