Orangtua yang Malas Berkaca

orangtua yang malas berkaca

Orangtua yang malas berkaca adalah cerminan dari kebiasaan kita sebagai orangtua yang senantiasa menuntut kesempurnaan kepada anak-anaknya. Anak nakal dikit, marahnya habis-habisan. Anak melawan dikit, tersinggung dan bapernya minta ampun. Pikiran dipenuhi dengan pertanyaan-pertanyaan yang terlalu jauh. Dihubungkan dengan hal-hal eksternal yang diduga sebagai penyebab utama munculnya “ketidakberesan” yang terjadi pada anak-anak.

“Belakangan ini, anak saya jadi ngomong kasar, membantah saat saya beri perintah. Kenapa ya, Bu Guru? Kok bisa begitu? Apakah di sekolah tidak diajarkan sopan santun? Apakah di sekolah guru tidak memberikan pengarahan dan pengawasan kepada mereka terkait cara bersikap?”

Kira-kira begitu bunyi pertanyaan yang sering saya dapatkan. Baik secara langsung bertanya kepada saya lewat pesan singkat, atau mendapat informasi dari para guru yang selalu terbuka dan mendiskusikan setiap permasalahan yang ada.

Baiklah, saya merasa harus memerinci satu per satu dari tugas sekolah tanpa berniat untuk cuci tangan dan lari dari masalah dan pertanyaan seperti tadi.

Read More

1. Sekolah hanya sebagai partner pendidikan bukan sebagai pendidik utama.

Anak-anak di sekolah paling lama 9 jam untuk tingkat sekolah dasar full day. Bersama. Ini pun tidak semuanya dihabiskan untuk belajar secara formal. Mereka hanya diwadahi dalam sebuah sistem yang dibuat sedemikian rupa oleh lembaga. Perbandingan guru dan siswa pun rasionya tentu tidak seperti ayah dan ibunya paling banyak punya anak empat. So, waktu pendidikan secara khusus face to face antara anak dan guru secara personal hanya berlangsung beberapa jam dalam satu pekan. Sisanya, kegiatan klasikal.

2. Guru/wali kelas menangani banyak anak.

Seperti yang dikatakan di atas, guru di sekolah menangani banyak anak. Bukan hanya satu anak. Jika ingin benar-benar didampingi setiap saat, setiap gerak gerik, cobalah hadirkan helper, pengasuh khusus, pelayan, bodyguard, atau apapun namanya untuk anak-anak. So, simpan harapan kita rentang kesempurnaan penanganan pada anak-anak kita. Terutama soal buku yang tertinggal, tempat makan yang hilang, atau soal pensil warna baru yang berantakan. Itu bukan tugas guru untuk membereskan . Akan tetapi itu tugas kita semua untuk menumbuhkan tanggung jawab anak pada barang bawaan sendiri. Guru mengingatkan & memotivasi, orangtua pun seharusnya memiliki pernah yang lebih besar.

3. Guru itu pengajar, pendidik, bukan sebagai pengasuh.

Kita harus bedakan, antara pendidik dan pengasuh. Pengasuh mungkin akan segera mendatangi anak dengan berlari, ngemong, meredakan tangisan dengan bujukan ini itu saat anak menangis. Pengasuh akan melakukan apa saja demi anak yang diasuhnya aman tanpa gangguan apapun.

Lain halnya dengan pendidik. Ketika ada permasalahan yang terjadi menimpa anak-anak ia akan melihat duduk permasalahan terlebih dahulu, agar bisa melakukan tindakan seadil mungkin. Tidak mudah menyalahkan, menghukum, atau memihak pada anak tertentu.

Anak yang mudah menangis pun akan dilatih menjadi anak yang tangguh dengan treatment tertentu. Bukan langsung dirangkul berlebihan dielukan seperti anak raja yang tidak boleh disakiti sama sekali.

Pendidikan memandang bahwa masalah yang dihadapi anak adalah ajang belajar untuk pembentukan karakter dan mental mereka.

Pendidik tentunya paham, kapan harus lembut sebagai pengasuh, kapan harus tegas untuk menjadikan anak-anak jauh lebih baik.

4. Lingkungan keluarga dan masyarakat memiliki andil dalam mendidik anak-anak

Ketika ada karakter yang tidak menyenangkan pada anak, mari periksa panyebabnya baik-baik. Telusuri dengan akal nalar yang sehat. Jika sudah begitu, kita tidak akan serta merta menyalahkan satu pihak.

Kalaupun ada yang harus benar-benar disalahkan, maka itu adalah kita sebagai orangtuanya.

Tanpa harus berpikir untuk menyalahkan orang lain, mari bercermin! Ketika kita menuntut anak menjadi sempurna, apakah kita adalah orangtua yang sempurna? Ketika anak kita terlambat solat, apakah kita orangtuanya selalu solat tepat waktu? Ketika anak membentak, membantah, apakah kita sudah sesempurna itu untuk mejadi teladan, ditaati dan dipatuhi anak-anak kita?

Mari kita bercermin. Ketika anak-anak dianggap nakal dan menjengkelkan, cobalah sejenak meluangkan waktu untuk bernostalgia bersama orang tua kita tentang masa kecil kita. Lalu coba tanyakan pada mereka, apakah kita adalah anak yang selalu manis setiap saat, ketika kecil dulu?

Bersabar, berusaha untuk terus memperbaiki diri terlebih dahulu, memberikan pendampingan maksimal, kasih sayang dan perhatian maksimal, serta terus mendoakan anak-anak dengan penuh keyakinan kepda Allah yang menciptakan mereka adalah hal paling mungkin dilakukan oleh kita para orangtua.

Dah gitu aja. Semoga bermanfaat.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *