Ardi mengikuti istrinya yang belanja banyak sekali menu takjil untuk hari ini. Sepertinya karena lapar, Rosita kalap dan ingin mencicipi semua sajian yang ada di stand pasar takjil. Ardi mengingatkan supaya jangan berlebihan, biar makanan gak banyak terbuang.
Ardi belajar dari Ramadan kemarin, istrinya pernah membeli banyak makanan. Alasannya untuk sahur juga katanya, tapi ketika disantap saat sahur, ternyata tekstur dan rasanya sudah berbeda. Sebenarnya dari rumah, mereka sudah mempersiapkan lauk yang akan nanti menjadi menu buka puasa.
Namun istrinya berkebiasaan mengolah masakannya menuju waktu buka. Katanya supaya lauknya hangat dan menggugah saat disajikan ketika berbuka. Sebelum pergi ngabuburit, mereka hanya mempersiapkan bumbu dan alat masaknya saja.
Setelah pulang ngabuburit Rosita berencana untuk memasak dan menata gorengan yang tadi didapatkan pada saat war takjil di stand pasar Ramadan. Setibanya di rumah, Ardi tiba-tiba marah karena ternyata listrik di rumah padam.
“Aduh gimana ini? Mana kita belum beres masaknya? Enggak bakalan kedengeran lagi azannya. Gimana ya?”
Rosita dengan santainya memasak lauk yang akan mereka santap. “Sudahlah Mas, jangan marah-marah seperti itu. Toh masih bisa kok aku masak, pakai handphone kan bisa.”
Tapi Ardi tetap merasa kesal, “Kok gak ada angin, enggak ada hujan. PLN kok pemeliharaan jam segini gak kira-kira.”
“Mas, puasa kan menahan diri dari amarah. Kita harus sabar, sebaiknya kamu duduk, aku aja yang masak ya.” Rayu istrinya menenangkan.
Ardi memang sering membantu istrinya di dapur. Ardi meski kesal, ia tidak membiarkan istrinya sendirian memasak. Tetap dilanjutkan sambil ngoceh tak karuan, Ardi meneruskan membantu istri memasak Ikan kesukaannya.
Ardi tetap dengan penekanannya dipenuhi rasa kesal. “Bisa-bisanya di bulan Ramadan kaya gini mereka buag jadwal pemeliharaan di waktu Maghrib ya Ros.”
Rosita menggelengkan kepala melihat suaminya yang bicara kemana-mana tak tertahankan. Ia mengerti betul, sepulang bekerja ia harus mengantar istrinya belanja. Maklum lapar dan capek sepertinya, belum lagi pekerjaan yang menumpuk dia bawa ke rumah.
“Nanti kalau azan dari kampung sebelah kedengeran kok ke sini Mas. Di Musala RT juga nanti Pak Hendra pasti pukul beduk.” Ucap istrinya menenangkan.
Prediksi Ardi memang benar, saat waktu buka puasa, lampu tak kunjung menyala. Terdengar Pak Hendra memukul beduk tanda azan Maghrib telah berkumandang.
“Alhamdulillah.” Ucap Ardi sambil memegang cangkir teh manis yang disediakan istrinya.
Setelah membaca doa dan meminum teh hangat untuk pembuka, Ardi sejenak memejamkam mata. “Ujian sabar ya ternyata. Masalah bisa datang dari mana saja.”
“Itulah Mas, di sana letak ujiannya. Allah mengajarkan untuk kita lebih sabar. Apalagi di bulan Ramadan ini.” Ucap Rosita sambil mengelus tangan suaminya.

Sambil makan dalam kondisi yang gelap, Ardi dan Rosita melanjutkan makannya. Lalu mereka mengambil wudhu untuk melaksanakan Salat Maghrib. Saat melaksanakan Salat di rakaat ke dua, tiba-tiba lampu kamar mereka nyala, itu menandakan bahwa aliran listrik sudah berjalan normal seperti biasa.
Setelah selesai Salat, Ardi tampak lebih tenang dan mengucap syukur Alhamdulillah. “Alhamdulillah sayang, nyala lagi ya. Lanjutin gih ke meja makan, jajanan kamu kan tadi belum habis.”
Sambil menanggalkan mukenanya, Rosita menatap suaminya dan tersenyum tipis. “Kamu tadi marah-marah kayaknya karena lapar ya Mas. Udah makan dan udah Salat kayak gini aja, lebih dingin kelihatannya.”
Ardi tertawa kecil dibuatnya. “Astaghfirullah, iya juga ya sayang. Aku berlebihan tadi. Maafkan saya ya Allah. Saya sulit mengendalikan diri tadi, soalnya saya udah enggak sabar mau nyicip Tahu Pocong yang dibeli istri saya tadi di pasar Ramadan.” Ucapnyasambil mengangkat tangan dan menegadahkan kepala selayaknya orang berdoa.
“Dasar ya kamu, ada-ada saja.” Rosita tak kuat menahan tawa dan sedikit mendorong lengan suaminya itu.
“Maaf ya sayang, Mas tadi memang gak kekontrol emosinya. Maaf kalau muka Mas masam dan nggak nyaman di meja makan. Habisnya, hari ini mumet banget ditambah malah mati lampu. Orang antusias mau buka puasa juga.” Kata Ardi sambil memeluk istrinya.
Hikmahnya mereka lebih belajar arti sabar dan memahami ujian-ujian kecil dalam hidup. Mati lampu mungkin hal sepele, namun bisa sangat mempengaruhi ekspresi seseorang. Ramadan tahun ini bagi Ardi dan Rosita menjadi sangat istimewa. 08:31:42
