Majalah Hidayah Edisi 37 Tahun 2024 (Sumber: Instagram/gundallasgallery)
Majalah Hidayah pernah menemani hari-hari masyarakat di Indonesia. Di tengah maraknya majalah dan surat kabar yang ngetren dan terkesan gaul di waktu itu. Hidayah jadi majalah yang mampu membawa Islam lebih dekat, dan lekat dengan kehidupan masyarakat dengan berbagai lika-liku dan realita kehidupan beragama.
Pernahkah anda mendengar atau melihat mayat melekat di keranda? Orang yang sedang sakaratul maut tapi teringat dan menyebut angka-angka togel? Atau, pernahkah anda mendengar, ada petir yang menyambar pengantar jenazah? Jika pernah mendengar, maka kisah nyata itu, pernah dimuat dalam Majalah Hidayah edisi 37 tahun 2004.

Bagaimana Relevansinya dengan Kehidupan di Masa Sekarang?
Merenungi FTV Azab di Televisi
Beberapa waktu lalu, salah satu stasiun TV di Indonesia, pernah menyuguhkan acara tontonan yang bertujuan memberikan pemahaman kepada umat Islam. Setiap umat manusia di dunia ini, tidak boleh berbuat sesuatu yang tidak baik, apalagi kepada sesama manusia. Karena sebelum berjumpa dengan Tuhan di kehidupan selanjutnya, dunia pun akan menghakimi, bahkan sebelum diantarkan ke liang lahat.
Siapa yang tahu FTV azab? Sebuah tontonan yang memperlihatkan kisah-kisah orang yang melakukan kecurangan, keserakahan, atau melakukan sesuatu yang tidak baik kepada orang lain. Diceritakan banyak peristiwa aneh sebelum meninggal, atau setelah meninggalnya.
Banyak tanda-tanda yang menimpa padanya, misalkan dia hidupnya dulu pernah mempersulit orang lain. Namun setelah meninggal dan akan dimakamkan, kerandanya tiba-tiba terperosok ke jurang karena pembawa jenazahnya tiba-tiba terpeleset. Atau tiba-tiba ada petir, dan tanda lain seperti liang lahat terus berair, atau tanda-tanda buruk dan menyulitkan lainnya.
Dalam akhir kisah, mereka menyebutkan kalau FTV itu adalah kisah nyata. Walaupun pengakuan itu banyak dihujat masyarakat. Karena, sejauh kita berkehidupan nyata, tidak mungkin ada kisah-kisah seperti itu.
Bahkan mungkin dalam sudut pandang saya pun demikian, karena situasi-situasi dalam FTV itu sangat berlebihan. Sisi lainnya, saya juga mengerti bahwa dunia hiburan dan peran memang banyak improvisasi dan adegan fiksi lainnya. Namun, ketika saya membaca majalah Hidayah edisi 2004, yang menuliskan beberapa kisah nyata Menuliskan beberapa kisah nyata yang memang kejadian secara nyata di Indonesia.
Kesesuaian dengan Kehidupan Masa Kini
Saya lantas bertanya pula pada orang di sekeliling saya. Saya pernah berdiskusi dan membahas isi buku ini dengan bapak mertua saya. “Pak, dalam Majalah Hidayah ini sepertinya karena dicetak tahun 2004 ya? Jadi cerita-cerita azab seperti ini, mungkin masih relevan di telinga orang-orang. Tapi zaman sekarang, sepertinya sudah tidak terdengar hal-hal seperti itu.” Tanya saya penasaran.
Belum juga bapak berkesempatan menjawab, saya meneruskan pertanyaan. “Disamping orang sudah tidak percaya banyak hal, termasuk pamali. Orang-orang sekarang kayaknya jarang yang mengaitkan peristiwa aneh dengan perilaku di dunia. Lagi pun langka kayaknya yang diluar nalar seperti itu?”
Bapak sambil berbisik menjelaskan pada saya, “Sejauh pengalaman Bapak, sampai usia sekarang ini, sebenarnya kejadian-kejadian seperti itu masih ada. Tapi orang-orang banyak menutup mulut, mata dan pikiran, supaya kabar-kabar seperti itu tidak menjalar kemana-mana.”
Saya menjelaskan dengan berapi-api sambil menatap mata bapak. “Contohnya ada ini yang saya baca. Ada kisah seseorang yang ketika hidupnya sering menggeser-geser patok tanah milik dia dan tetangganya. Anehnya, saat ia meninggal kuburannya sulit sesuai dengan ukuran. Setiap akan dicoba dikuburkan, pasti ukurannya berubah menjadi tidak pas. Padahal beberapa kali ukurannya sudah benar-benar dipastikan.”
Belum juga air liur saya kering, bapak terlihat antusias menyetujui apa yang saya ceritakan. “Nah itu, itu! Ada salah satu yang seperti itu dan akurat sekali seperti di majalah yang kamu baca! Persis sekali.” Saya tersentak, mengingat-ingat beberapa bulan ini memang banyak yang meninggal dan saya bersama jiwa yang tidak baik menerka-nerka.
Kata bapak, sebenarnya hanya warga yang sering menjadi relawan di makam sampai selesai saja yang banyak tahu. Tahu tentang kisah kematian warga-warga di kampung kami. Mereka hanya tutup mulut dan tidak berbicara banyak, biasanya mereka hanya sesekali berspekulasi dan mengulas kilas balik kehidupan si jenazah ini.
Apakah dia baik, serakah, jujur atau curang? Bisa jadi cerita-cerita ini bukan tidak relevan di masa kini, tetapi semuanya telah berubah menjadi banyaknya musibah, dan kesengsaraan yang menimpa umat manusia. Majalah Hidayah ini memberikan saya pelajaran yang cukup berharga.
Padahal buku ini terbit 21 tahun yang lalu. Akan tetapi muatan-muatan di dalamnya masih sangat mengena di hati. Semoga menjadi pelajaran dan sesuatu yang berharga bagi kehidupan saya kedepannya.
