Membaca novel Re-Perempuan karya Kang Maman Suherman bukan sekadar pengalaman literer, melainkan perjalanan emosional yang mengguncang hati. Saya merasakan haru, marah, galau, dan sedih bercampur menjadi satu. Novel ini lahir dari kisah nyata yang ditulis Kang Maman berdasarkan skripsinya di kriminologi Universitas Indonesia, ketika ia masuk ke dalam lingkaran gelap perdagangan manusia. Tokoh Rey, seorang perempuan yang terjebak dalam sindikat pelacuran lesbian, menjadi pusat cerita yang tragis sekaligus penuh makna.
Sejak halaman pertama, saya merasa novel ini bukan sekadar fiksi. Ada denyut kehidupan yang nyata, ada luka yang benar-benar berdarah. Rey digambarkan sebagai seorang perempuan muda yang hamil di luar nikah, lari dari Bandung ke Jakarta, lalu dijebak dengan hutang besar oleh orang yang awalnya menampungnya. Dari situ, ia dipaksa menjadi pelacur lesbian demi melunasi hutang. Membaca bagian ini, saya terhentak. Ada rasa marah yang muncul: bagaimana mungkin manusia tega memperlakukan sesamanya dengan cara sekejam itu?
Kang Maman menulis dengan hati. Ia tidak sekadar mencatat, tetapi mendampingi Rey selama bertahun-tahun. Dalam sebuah wawancara, ia pernah mengatakan bahwa Rey meminta agar kisahnya tidak berhenti sebagai skripsi, melainkan disebarkan agar tidak ada perempuan lain yang mengalami nasib serupa. Permintaan itu menjadi amanah moral yang kemudian melahirkan novel Re. Membaca ini, saya teringat pada kata-kata Pramoedya Ananta Toer: “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Novel Re adalah bentuk keabadian bagi suara Rey, agar tidak hilang ditelan waktu.
Yang membuat saya semakin galau adalah bagaimana Rey tetap menunjukkan cinta sebagai seorang ibu. Ada satu adegan yang begitu menyayat: Rey ingin bertemu anaknya di TK, tetapi ia menolak untuk memeluk karena merasa keringat seorang pelacur tidak pantas menempel di tubuh anak yang suci. Ia hanya meminta Kang Maman untuk menggantikan pelukan itu. Di sini, saya menangis. Betapa besar cinta seorang ibu, meski hidupnya penuh luka dan stigma.
Novel ini juga mengingatkan saya pada refleksi sosiologis. Seperti yang ditulis oleh Julia O’Connell Davidson dalam Prostitution, Power and Freedom (1998), praktik prostitusi seringkali bukan soal pilihan bebas, melainkan jeratan kekuasaan, ekonomi, dan kekerasan. Rey adalah contoh nyata dari perempuan yang kehilangan kendali atas tubuhnya karena sistem yang menindas. Membaca Re, saya merasa teori Davidson menemukan wajahnya di Indonesia.
Namun, di balik tragedi, ada secercah harapan. Anak Rey, Melur, tumbuh menjadi seorang doktor. Ia adalah bukti bahwa cinta seorang ibu, meski terbungkus luka, tetap bisa melahirkan masa depan yang lebih baik. Kisah ini membuat saya terharu sekaligus lega. Ada kesinambungan antara penderitaan dan harapan, antara luka dan penyembuhan.
Kang Maman menutup novel dengan pesan moral yang kuat: jangan mengadili seseorang hanya dari masa lalunya. Husnul khotimah adalah rahasia langit. Pesan ini relevan dengan filosofi Sunda yang saya hargai: silih asah, silih asih, silih asuh. Novel Re mengasah kesadaran kita tentang realitas trafficking, mengasihi korban dengan empati, dan mengasuh generasi baru agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Membaca Re-Perempuan membuat saya sadar bahwa literasi bukan sekadar hiburan, melainkan jalan untuk membuka mata terhadap kenyataan pahit. Novel ini mengajak kita untuk peduli, untuk marah pada ketidakadilan, untuk sedih atas luka yang menimpa perempuan, dan untuk galau karena dunia seringkali tidak berpihak pada yang lemah. Tetapi pada saat yang sama, ia juga mengajak kita untuk percaya pada cinta, pada harapan, dan pada kekuatan kata-kata.
Sebagai catatan membaca, saya ingin menutup dengan refleksi pribadi: Re-Perempuan adalah novel yang menuntut kita untuk tidak hanya membaca, tetapi juga bertindak. Entah dengan menulis, berbicara, atau sekadar menyebarkan kesadaran, kita bisa menjadi bagian dari suara yang tidak boleh padam. Seperti kata Kang Maman, kisah Rey adalah guru kehidupan. Dan bagi saya, ia juga menjadi cermin: bahwa di balik luka terdalam, selalu ada cinta yang abadi.
