Hari Ibu banyak diperingati oleh orang-orang di tanggal 22 Desember. Ditandai sebagai hari yang sangat spesial bagi orang tua perempuannya, yakni ibu yang telah melahirkan. Lalu, apa esensi hari ibu bagi mereka yang menjalani peran ganda, menjadi ibu sekaligus ayah?
Di luar sana banyak yang sudah tidak memiliki Ibu, dan tentunya mereka memikirkan bagaimana dirinya di kemudian hari tanpa sesosok ibu. Begitu pula dengan mereka yang berperan sangat berat, menjadi Ibu sekaligus Ayah secara bersamaan. Banyak sisi yang luput dari perhatian, bahkan hari ibu adalah momen yang menyeramkan bagi sebagian perempuan.

Kurangnya apresiasi dan penghargaan atas kerjas keras mereka selama ini menjadi alasan yang sangat melekat. Menjadi orang tua tunggal dengan peran ganda tentunya memerlukan tenaga yang ekstra. Sebagai ayah yang mengayomi dan mencari nafkah, menjadi ibu sebagai pendidik dan berhati lembut di rumah.
Semuanya harus ia lakukan, banting tulang sambil berusaha melembutkan hati untuk anak-anaknya. Bagaimana dengan mereka? Apakah arti hari Ibu bagi mereka?
Banyak perempuan yang harus berkeras kepada dirinya sendiri, dan menahan banyak hal untuk kehidupan anak-anaknya. Ia menanggung nafkah bagi keluarganya. Tampaknya sanjungan, pujian, penghargaan dan perayaan selama 24 jam tidak sebanding dengan seluruh keringat yang pernah dia peras untuk menunda mimpi.
Mereka bekerja bukan hanya untuk kebahagiaan dirinya, tapi untuk memenuhi hajat orang banyak. Mereka banyak yang sanggup melakukan apa saja demi menopang hidup mereka. Apresiasi untuk mereka harusnya lebih dari sekadar ucapan dan doa dalam kurun waktu 24 jam.
Berterima kasih, berbakti dan membantu jika dia yang berperan ganda adalah ibu kita. Lebih dari itu peluk mereka, berikan mereka kekuatan dan dorongan untuk tetap bersemangat menjalani hidup. Kita patut berbangga, karena peran ganda mereka memberi dampak bagi keluarga maupun masyarakat,
Tuhan tidak pernah salah menitipkan tanggung jawab.
