Pernahkah anda melihat anak yang tantrum di depan umum, atau bahkan mendengar cerita kenakalan anak yang datang dari sekolah? Tentu semuanya bisa dipastikan, berawal dan berakar dari bagaimana cara orang tua menerapkan pola pikir yang berimbas pada pembangunan pola asuh di rumah. Sedikitnya dari riset pribadi, saya memiliki tiga tips untuk melatih anak mengelola emosi dan mengendalikan dirinya secara mental dan finansial.
1. Biasakan Anak Makan di Rumah
Sering mendengar cerita anak picky eater? Konon, itu adalah imbas karena sang Ibu membiasakan opsi makanan yang kurang beragam. Dari mulai ragam rupa, ragam nutrisi, dan ragam tekstur.
Sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang pemilih dan sensitif terhadap sesuatu. “Anak saya gak mau makan kalau gak ada nugget, mie dan sosis,” ujar seorang ibu.
Sebelum dua tahun, baiknya anak mengenal makanan rumahan dan ikut memakan menu-menu orang tua. Setelah itu, bisa sesekali memperkenalkan alternatif dan berbagai menu makanan yang berada di luar rumah. Sebagai orang tua, meski kita berhak membebaskan anak untuk memilih apa yang mereka suka.
Tetapi tentu sejak dini, tetap berikan batasan-batasan untuk dirinya. Salah satu yang populer di masyarakat dan menjadi kalimat andalan para ibu adalah imbauan kecil namun terdengar sangat bawel. “Kamu jangan jajan sembarangan ya!”
Hal ini bisa disiasati dengan kepiawan ibu dalam menyajikan makanan menarik di rumah namun pada nutrisi. Tentunya tak cukup sampai di situ, seorang ibu harus telaten menyertainya dengan diskusi dan sugesti.
“Kamu tentu boleh makan apa saja, termasuk boleh makan ini. Tapi dari rumah, kamu harus makan dulu ya.”
Melalui cara ini, anak bisa meminimalisir sendiri konsumsi pribadi terhadap makanan ringan yang minim nutrisi. Meminimalisir diri untuk tidak jajan secara berlebihan. Sebab ketika anak memegang prinsip ini, ia akan betah di rumah dan makan makanan rumah.
Sehingga ia akan mengalami kekenyangan saat keluar rumah, merasa cukup dan tidak tertarik pada makanan di luar rumah. Namun, semuanya kembali lagi pada prinsip masing-masing Ibu apakah dibolehkan makanan ringan sesekali, atau tidak sama sekali.
2. Menunda dengan Alasan
Sebagai orang tua, kadang kita berlebihan dalam memahami keinginan anak-anak. Saat mereka merengek, menangis, dan bahkan mengamuk minta dibelikan sesuatu. Lantas ternyata banyak orang tua yang masih luluh menuruti apa yang anak inginkan.
Padahal jika dirasakan, hal ini bisa saja dijadikan anak sebagai cara jitu untuk memperoleh sesuatu. Anak akan mepercayai dan menjadikan ini hal yang biasa, bahwa dengan marah dan mengamuk di tempat umum, maka orang tua akan selalu mengabulkan permintaannya. Sebelum terlambat, kita sebagai orang tua bisa berdiskusi dengan anak secara perlahan, bahwa tidak semua maksud dan tujuan bisa didapat begitu saja secara instan.
Semua ada cara kerja dan usahanya, bahkan jika tidak bisa digapai dengan cara bekerja dan mengumpulkan uang, sesuatu bisa didapat dengan cara bersabar. Anak harus tahu, bahwa orang tua menunda bukan tanpa alasan. Hal itu dilakukan untuk membiasakan anak, bahwa kehidupan tidak selalu mudah.
“Kita bisa beli itu, tapi harus nabung dulu ya.“
Saat ini populer di kalangan masyarakat, ketika seorang anak boleh mengoperasikan ponsel di akhir pekan dengan batas jam yang ditentukan. Namun ia ikut menjalankan peran di rumah dan membantu pekerjaan rumah tangga yang biasa dilakukan oleh ibu dan ayahnya. Begitu anak mencapai hal itu, ia bisa menjaga benda dan pencapaian yang diperoleh, sekaligus menghargai waktu yang ia lalui.
Permintaan anak bisa kita ubah menjadi bentuk apresiasi dan pencapaian. Setelah ia mencuci piring bisa makan permen, setelah membantu menyapu halaman bisa makan coklat dua keping atau hal lainnya. Mudah-mudahan cara itu membuat anak mengerti, dan menghormati profesi orang lain dengan sebab bahwa mereka juga tahu cara memperoleh sesuatu itu tidaklah mudah.
3. Memasang Batasan
Tidak melulu perolehan banyak hal yang ada di dunia ini bisa di iya-kan begitu saja karena adanya uang. Seperti yang baru-baru ini terdengar, ada anak pejabat yang flexing dan menceritakan kekayaan ayahnya. Memamerkan dan mengunggahnya di sosial media dengan tulisan yang kalimatnya terdengar angkuh.
Secara pribadi, saya tidak menyalahkan model pendidikan yang dibangun orang tuanya sejak awal. Namun hal itu bisa menjadi cermin bagi orang tua lain, dan bahkan sebagai calon orang tua, untuk membangun pengelolaan diri anak sedini mungkin. Memasang batasan yang dimaksud di sini, adalah bagaimana cara orang tua memberikan batas pada anak bahwa tidak semua yang ada di dunia ini bisa kita genggam berlebihan.
Ada istilah cukup yang bisa kita pakai sebagai pedoman hidup. Pernah saya melihat influencer bernama Yoga Arizona, yang menceritakan bahwa anak-anaknya memiliki jadwal tertentu saat membeli mainan. Entah itu patokan berapa minggu sekali, atau seberapa banyak harga yang mereka batasi sebagai orang tua.
Sering kali kita melupakan, bahwa diri kita harus punya batasan agar merasa cukup. Terlihat di dalam tayangannya, anak-anak Yoga Arizona tampak antusias sekali dalam membeli mainan yang dijadwalkan oleh orang tuanya itu. Sebab hal itu menjadi waktu yang dinanti-nanti oleh mereka.
“Sesuatu tak lagi terlihat istimewa, ketika seseorang bisa dengan mudah mengaksesnya kapan saja.”
Jadi, memberikan batas pada anak bukan berarti memberikan batas juga atas kepuasan mereka. Tapi mengajarkan bahwa rasa puas itu bisa kita ganti dan kendalikan dengan perasaan cukup. Supaya saat mereka tumbuh besar nanti, ada rem di dalam dirinya yang tidak membutuhkan validasi orang lain.
Jika sekarang banyak anak yang memamerkan kekayaan orang tuanya, boleh jadi itu adalah cara regulasi dirinya. Ia menunjukkan bahwa ada kepuasan berlebih dalam diri, dan ia ingin mengekspresikannya pada pada orang lain. Cermin untuk kita sebagai orang tua, tentang beberapa tahun kehidupan anak setelah ini.
Bergantung dari bagaimana cara kita, orang tuanya. Mengekspresikan diri dan memperlihatkan sudut pandang kita terhadap dunia, dan ditularkan terhadap anak. Pola pikir anak akan terbangun dari cara kita membangun dirinya sejak dini.
Dari mulai hal-hal yang sederhana, bisa jadi kebiasaan yang nantinya menjadi dasar bagaimana ia mengambil keputusan-keputusan besar di dalam hidupnya. Jadi yuk, Moms! Kita sebagai orang tua sekarang punya pekerjaan rumah yang sangat besar.
Karena ternyata amanah Tuhan yang menceritakan bahwa kita sebagai ibu dan menjadi sekolah pertama sebelum anak menghadapi dunia, sangatlah berat. Tidak mudah, namun saya percaya kita semua bisa menjalaninya. Salah satunya dengan cara berbagi dan memungut hikmah dari banyak kejadian yang ada di sekitar kita. Ibu sebagai sekolah pertama, bukan hanya menjajal ilmu motorik dasar dan kasar untuk melatih emosi anak.
Namun seiring berkembangnya waktu, kita juga bertugas mengasah empati anak dan mempersiapkan dirinya dalam meregulasi emosi. Banyak hal lainnya yang mesti di jawab oleh kita, sebagai langkah menjawab tantangan jaman yang kini semakin hebat dan penuh tantangan. Jadi semua model pengasuhan ada di tangan kita, kita bisa membentuk generasi selanjutnya melalui pendidikan untuk anak kita.
