Hujan di Penghujung November

Hujan

Hujan turun lagi, Lea. Ku harap tidak perlu turun deras seperti tadi malam di pipimu. Aku tidak mau lagi melihatmu bersedih apalagi sampai berderai air mata. Air matamu terlalu berharga untuk menangisi sesuatu yang nyatanya sudah membuatmu lelah selelah-lelahnya. Kamu terlalu berharga untuk itu.

Sejak lama, bahkan sebelum kita kenal dekat, aku menyimak betul perjalanan hidupmu. Penuh liku dan dan kau berjuang keras untuk itu. Mendedikasikan diri pada seseorang yang kau anggap sebagai malaikat. Mengabdikan hidup pada sebuah institusi yang selama ini kau urus dengan sepenuh hatimu. Kini? Semua hancur lebur karena sebuah kesalahpahaman yang kurasa tidak akan mungkin bisa diluruskan.

Namun aku tidak merasa heran, apalagi turut kecewa. Sejak awal, aku sudah mengira, pada akhirnya akan seperti ini endingnya. Kuharap kamu bisa bertahan dan kuat menghadapinya, Lea. Biarlah seperti itu, memang inilah saatnya kamu pergi, Lea.

***

Read More

Aku beranjak dari tempat tidur saat Lea masih tertidur pulas. Gurat lelah tergambar jelas di wajahnya. Kasihan, Lea pasti begitu letih. Sepanjang malam kudengar ia menangis, memikirkan nasib. Aku sendiri tidak berani berkata banyak selain berusaha menangkannya dengan pelukan.

“Lea, bebanmu sudah terlalu banyak,” bisikku.

Kukecup keningnya seraya mengusap rambutnya yang sedikit berantakan.

Lea terbangun. Matanya mengerjap pelan.

“Jam berapa ini, Sam?” tanyanya.

“Jam 5, tidurlah lagi!”

Lea berbalik badan, melanjutkan tidurnya.

Aku pergi ke ruang tengah, menyeduh kopi untuk menikmatinya di teras rumah. Merasakan hawa dingin sisa hujan semalam.

Musim hujan yang mulai datang, masih malu-malu membiasakan. Tadi malam saja hujan turun lumayan deras. Cukup untuk mengusir tumpukan debu dan menghadirkan sensasi sejuk di kota Bandung yang sudah lama tidak bisa dirasakan.

“Andai hujan bisa membasuh lukamu juga, Lea,” bisikku tanpa tahu siapa yang akan mendengarkannya.

Lea adalah perempuan yang sangat aku cintai. Memilihnya sebagai seorang istri dan calon ibu dari anak-anakku, adalah pilihan terbaik yang pernah aku ambil. Cintanya seluas samudra selalu terlimpah curah untukku, pria yang baru dikenalnya beberapa bulan sebelum menikah. Hanya karena kami telah resmi menikah, Lea menyerahkan seluruh cintanya padaku.

“Memang begitu adanya, Sam. Ketika aku sudah terikat dengan sebuah janji sakral, maka aku tidak akan pernah membaginya dengan siapapun. Aku sepenuhnya mencintaimu. Terlepas dengan segala kurang lebih yang aku miliki,” jelasnya di suatu pagi, ketika aku memeluknya erat.

Aku merasa harus berterima kasih banyak kepada perempuan itu karena berkat penerimaan yang dia lakukan membuat aku yang juga memiliki luka masa lalu hidup kembali setelah mati suri dalam jangka waktu yang lama.

“Aku mencintaimu, Lea,” ucapku. Kuteguk kopi pahitku sekali lagi.

“Aku juga sangat mencintaimu, Sam. Tidak akan pernah berubah.”

Tiba-tiba suara lembut itu muncul. Lea berdiri di belakangku, merangkulkan kedua tangannya di bahuku.

“Sudah bangun rupanya. Kamu menguping ya?” candaku.

“Aku selalu bisa menguping walau kata-katamu tidak kau ucapkan, Sam…. Aku selalu tahu apa yang ada di hatimu,” jawabnya diakhir tawa kecil.

Kurasakan hangat napas Lea di telinga. Sebuah ciuman mendarat di pipi kananku.

“Hm, manis sekali.”

Lea melepaskan pelukannya. Mengambil tempat duduk di sebelahku. Tangannya yang putih pucat kedinginan mengambil gelas kopiku dan meneguknya perlahan.

“Hai, kopiku! Pahit lho, Sayang!”

“Gak apa-apa, menghadapi pahitnya hidup, akan terasa manis jika aku bersamamu, Sam!” Lea tersenyum. Namun kemudian air mata mengalir dari sudut matanya. Aku segera mendekat.

“Le…, hai. Sudah lah … Apakah tidak sayang jika air matamu terus terbuang? Aku percaya kamu kuat. Selalu memiliki kekuatan untuk menghadapi semua. Bukankah sebelum kau kenal aku pun kamu lebih kuat dari ini?”

Lea berhambur ke pelukan. Bahunya berguncang keras. Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus rambut dan mempererat pelukan. Kusadari benar, perempuanku sedang rapuh.

“Lepasin semuanya, Lea. Kalau misal memang menangis bisa membuatmu lebih tenang!”

Aku menarik napas panjang. Seolah ingin menghempaskan seluruh perasaan yang tertahan di dada.

“Aku gak kuat, Sam. Besok hari aku masih harus menghadapinya!” ucap Lea masih terisak.

“Sayang, sekali lagi, aku tahu kamu kuat. Dan kita akan menghadapinya bersama.”

“Kamu akan selalu di sisiku?”

Lea mendongak. Retina kami bertemu. Wajahnya yang sudah kuyu, masih tampak begitu cantik. Aku berjanji dalam hati, aku akan menjaganya sepanjang nyawa masih melekat di ragaku.

Aku mengangguk, Lea kembali bersembunyi di dalam pelukan. Udara pagi yang dingin seketika hangat.

“Saaam….”

“Iya, Sayang?”

“Terima kasih!”

Masa sulit ini akan kita hadapi sama-sama, Lea. Selama kita masih bersama maka aku yakin semua akan baik-baik saja. Kita titipkan semua beban kepada Allah.

Esok, lapangkan hatimu, busungkan dada, katakan pada dunia bahwa kita punya Allah yang Maha Tahu Segalanya. Dia lah yang akan menunjukkan mana haq dan mana yang bathil.

Hapus air matamu. Biarlah hanya hujan di penghujung November yang turun. Tidak dengan air matamu.


"Semua konten menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi RuangPena."

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *