Membaca buku Ngalanglang Kasusastran Sunda karya Ajip Rosidi bagi saya bukan sekadar membuka lembaran sejarah sastra, melainkan juga membuka pintu menuju dunia yang hampir terlupakan. Di dalamnya, Ajip menyebut nama-nama pengarang yang kini terdengar samar: Moh. Ambri, Yuhana, Tjaraka, Sayudi, dan beberapa lainnya. Nama-nama itu seperti jejak di pasir yang hampir terhapus ombak waktu.
Ajip menyingkap kembali karya-karya yang lahir sebelum dan sesudah kemerdekaan, sebagian besar sulit ditemukan. Namun berkat jasanya, beberapa di antaranya dicetak ulang—misalnya karya Tjaraka dan Moh. Ambri. Saya merasakan betapa pentingnya usaha itu: tanpa Ajip, mungkin kita hanya akan mengenal nama tanpa pernah menyentuh wujud bukunya.
Sebagai pedagang buku, perjalanan saya sedikit berbeda. Dunia jual-beli buku memberi saya jalan pintas untuk menemukan karya yang saya cari. Buku Haji Hasan Mustopa, Sayudi, Yuhana, satu per satu hadir di tangan saya. Ada kepuasan tersendiri ketika rasa penasaran akhirnya terjawab. Misalnya, buku kecil Lalaki di Tegal Pati karya Sayudi. Tipis, sederhana, namun justru di situlah letak kekuatannya. Ajip menyebutnya sebagai pelopor sajak Sunda modern. Membaca langsung buku itu membuat saya mengerti mengapa Ajip memberi penghargaan sebesar itu.
Tujuan saya sederhana: melengkapi bacaan agar saya benar-benar tahu wujud buku yang dibicarakan Ajip. Saya ingin memastikan bahwa ketika ia menyinggung sebuah karya, saya tidak hanya membayangkan, tetapi juga bisa membuka lembarannya, merasakan aroma kertasnya, dan membaca kata-kata yang pernah ia ulas.
Namun, hingga kini, saya belum menemukan sosok lain yang memiliki semangat seperti Ajip. Generasi pengarang sekarang lebih banyak berkutat pada karya pribadi. Mereka menulis, menerbitkan, dan merayakan diri sendiri. Tidak banyak yang mau menengok ke belakang, mengangkat karya orang lain, lalu menempatkannya dalam percakapan sastra yang lebih luas. Ajip, dengan segala pirajeuneun-nya, telah memberi teladan bahwa sastra bukan hanya tentang menulis, tetapi juga tentang merawat ingatan.
Saya percaya, siapa pun yang membaca Ngalanglang Kasusastran Sunda seharusnya juga membaca buku-buku yang dibahas di dalamnya. Dengan begitu, pembaca tidak hanya mengenal nama, tetapi juga memahami isi, gaya, dan semangat zaman yang melahirkan karya itu. Saya sendiri sudah melengkapi sebagian koleksi tersebut, meski perjalanan masih panjang.
Pengalaman ini tidak hanya terjadi dalam ranah sastra Sunda. Dalam kritik sastra Indonesia, Ajip juga melakukan hal serupa. Ia mengulas pengarang seperti Tatengkeng, A.A. Panji Tisna, Rustam Effendi, dan lain-lain. Setiap kali saya membaca ulasannya, saya terdorong untuk mencari buku fisiknya. Ada semacam ritual: membaca kritik, lalu mencari karya yang dikritik. Dengan begitu, saya bisa melihat apakah ulasan itu sejalan dengan pengalaman membaca saya sendiri.
Mungkin inilah yang disebut memoar seorang pencari buku. Saya tidak sekadar berdagang, tetapi juga menapaki jejak sejarah. Setiap buku yang saya temukan adalah potongan puzzle yang melengkapi gambaran besar sastra kita. Ajip Rosidi telah memberi peta, dan saya berusaha menelusuri jalannya.
Ada rasa haru ketika menyadari betapa rapuhnya jejak sastra. Satu generasi bisa hilang hanya karena buku-bukunya tidak lagi dicetak. Nama pengarang bisa lenyap dari ingatan kolektif hanya karena tidak ada yang mengingatkan. Dalam hal ini, usaha Ajip menjadi semacam mercusuar. Ia menyalakan cahaya agar kita tidak tersesat dalam gelap.
Saya ingin melanjutkan cahaya itu, meski dengan langkah kecil. Dengan mengumpulkan, membaca, dan menuliskan kembali pengalaman ini, saya berharap ada orang lain yang tergerak. Barangkali suatu hari nanti, ada yang membaca Ngalanglang Kasusastran Sunda lalu mencari Lalaki di Tegal Pati, atau menemukan kembali karya Moh. Ambri yang tipis namun penuh makna.
Sastra, bagi saya, bukan hanya soal teks. Ia adalah perjalanan, pencarian, dan pertemuan. Setiap buku yang saya temukan adalah pertemuan dengan masa lalu, dengan pengarang yang mungkin sudah lama tiada, tetapi suaranya masih bergema lewat kata-kata.
Ajip Rosidi pernah berkata bahwa sastra adalah bagian dari hidup yang harus dirawat. Saya merasakan kebenaran itu setiap kali membuka buku lama, setiap kali menemukan nama yang hampir hilang. Memoar ini adalah catatan kecil dari perjalanan itu—perjalanan seorang pencari buku yang ingin melengkapi apa yang pernah dibicarakan Ajip, agar jejak sastra tetap hidup, tetap bisa dibaca, dan tetap bisa dikenang.
