Malam Jumat Kliwon menyelimuti Lembah Cikundul dengan keheningan yang mencekam. Kabut tipis merayap di antara pepohonan bambu yang berjajar rapat, menciptakan siluet-siluet aneh yang menari tertiup angin malam. Aroma tanah basah dan bunga melati yang terlalu menyengat menusuk hidung, pertanda malam keramat telah tiba.
Di sebuah gubuk reyot di tepi hutan, tinggallah seorang kakek renta bernama Ki Jampang. Matanya yang cekung memancarkan keteduhan sekaligus kewaspadaan. Malam Jumat Kliwon selalu membangkitkan kenangan pahit, malam di mana tragedi mengerikan menimpa keluarganya puluhan tahun silam.
Malam itu, suara gamelan sayup-sayup terdengar dari kejauhan, bercampur dengan lolongan anjing hutan yang memilukan. Bulu kuduk Ki Jampang berdiri. Ia menggenggam erat tasbih kayu cendana di tangannya, bibirnya komat-kamit melantunkan doa-doa pelindung.
Tiba-tiba, ketukan pelan terdengar di pintu gubuknya yang lapuk. Jantung Ki Jampang berdegup kencang. Siapa gerangan bertamu di malam sesunyi ini? Dengan langkah hati-hati, ia mengintip melalui celah papan. Tak ada siapa pun. Namun, suara gesekan halus terdengar dari bawah jendela.
Ki Jampang memberanikan diri membuka pintu. Angin malam langsung menerobos masuk, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Di ambang pintu, tergeletak seikat bunga kantil putih yang layu. Air mata Ki Jampang menetes. Bunga kantil adalah bunga kesukaan mendiang istrinya, yang tewas secara misterius di malam Jumat Kliwon bertahun-tahun lalu.
Ketakutan mencengkeram Ki Jampang. Ia tahu, ini bukan sekadar keisengan. Ada kekuatan gelap yang sedang bermain-main dengannya. Ia segera menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Tak lama kemudian, suara tangisan wanita terdengar dari luar gubuk. Tangisan yang lirih namun penuh kepedihan. Ki Jampang mengenali suara itu. Suara istrinya.
“Kang… dingin… tolong…”
Ki Jampang membekap mulutnya sendiri agar tidak berteriak. Ia tahu, itu bukan arwah istrinya yang sebenarnya. Itu adalah jelmaan iblis yang ingin menyesatkannya. Ia terus melafalkan ayat-ayat suci, berusaha mengusir suara mengerikan itu.
Tangisan itu semakin menjadi-jadi, bercampur dengan suara gerungan rendah yang mengancam. Pintu gubuk bergetar hebat seperti ada yang berusaha mendobraknya dari luar. Ki Jampang memejamkan mata, tubuhnya gemetar hebat.
Tiba-tiba, semua suara itu lenyap. Keheningan kembali menyelimuti Lembah Cikundul, namun terasa jauh lebih mencekam dari sebelumnya. Ki Jampang perlahan membuka matanya. Di bawah rembulan sabit yang pucat, ia melihat sesosok bayangan hitam berdiri di kejauhan, tepat di bawah pohon beringin besar yang konon menjadi tempat bersemayamnya makhluk halus.
Bayangan itu melambai perlahan, seolah memanggilnya. Ki Jampang menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Ia tidak akan terpancing. Ia tahu, jika ia keluar dari gubuk ini, ia akan menemui ajal yang sama seperti istrinya.
Malam semakin larut. Ki Jampang terus berjaga, tak sedikit pun memejamkan mata. Ia terus berdoa, memohon perlindungan kepada Sang Pencipta. Hingga akhirnya, fajar mulai menyingsing, mengusir kegelapan dan kengerian Malam Jumat Kliwon.
Ketika matahari terbit sepenuhnya, Ki Jampang memberanikan diri keluar dari gubuknya. Di ambang pintu, bunga kantil layu itu masih tergeletak. Namun, bayangan hitam di bawah pohon beringin telah menghilang.
Meskipun malam kelabu itu telah berlalu, bekasnya masih terasa di hati Ki Jampang. Ia tahu, setiap Malam Jumat Kliwon tiba, kengerian itu akan kembali menghantuinya, mengingatkannya pada tragedi masa lalu dan kekuatan gelap yang tak pernah benar-benar pergi dari Lembah Cikundul.
