
Tidak harus salah pergaulan dulu baru terjerumus kepada lingkaran judol alias judi online. Nyatanya diam saja di rumah pun setan masih begitu pandai membisiki hati.
Tidak pula karena hidup susah lalu terjerat utang dan harus melakukan pinjol. Nyatanya hidup berkecukupan tetap saja terlilit utang yang membuat semua asetku hilang. Hanya kuatan iman yang bisa membentengi. Teruslah beribadah,m jangan sampai kesadaranmu datang terlambat. Sesal di akhir tiada juga, jangan sampai kita mati sia-sia.
Dari kisahku, aku akan mengajak kalian berkaca.
Namaku Arman. Keseharianku sebagai sopir panggilan. Mengapa aku memilih menjadi sopir panggilan? Alasannya adalah karena aku sudah tidak terlalu butuh uang. Hanya saja aku butuh pengakuan bahwa aku pun tidak hanya duduk diam. Terlebih istriku yang selalu ngomel kalau aku hanya diam di rumah duduk di sofa dan asik main game di ponsel pintarku.
Ponsel pintarku lah yang pada akhirnya menyeretku pada keterpurukan. Nanti aku ceritakan.
Aku adalah seorang pemuda yang termasuk berwajah tampan rupawan di desaku. Desa yang sangat asri dan jauh dari hingar bingar seperti di perkotaan. Kata orang, hidup di sini susah majunya. Sebab semua rata-rata profesinya sebagai petani. Lebih jelasnya mengurus lahan warisan dari orang tua sendiri. Sawah, ladang atau beberapa orang memiliki ternak kambing yang bisa dijual sebagai tabungan atau modal dan biaya kehidupan harian.
Tidak ada yang menarik. Semua serba sederhana. Kalaupun ada yang berpikir ingin jauh lebih memiliki kemajuan, pemuda di sini akan pergi merantau ke kota besar dan bekerja sebagai kuli bangunan, buruh pabrik atau berjualan apa saja di tanah rantau. Ada yang jualan bakso, cilok, atau sapu keliling.
Namun tidak banyak yang berani meninggalkan kampung halaman. Suasana yang sejuk dan asri memang membuat nyaman kaum rebahan untuk tetap bisa bangun siang, lalu makan kenyang. Soal makanan jangan ditanya. Di pedesaan masih melimpah ruah tanpa harus menjadi orang kaya dan banyak uang. Asal kamu rajin menanam kama tiap hari sudah bisa makan banyak makanan olahan dari hasil pertanian. Uangmu tidak akan habis banyak untuk membeli minyak goreng dan bahan tambahan lain, bukan? Ya, jauh lebih hemat dibandingkan hidup di kota yang harus segala beli. Biaya hidup tinggi, gengsi, gaya pun tidak bisa biasa-biasa saja. Kalah gengsi, maka kita akan mati dan dipandang sebelah mata oleh teman tongkrongan.
Nah, karena aku malah kalau harus adu gengsi, aku memilih untuk tetap tinggal di desa dengan profesi terbaik yang aku pilih yaitu sebagai supir panggilan. Sekali lagi kenapa?
Alasan keduanya adalah, bisa mengemudi adalah hal yang masih jarang di sini. Banyak orang yang sudah mampu membeli mobil tetapi dia tidak bisa mengemudikannya, sehingga perlu supir yang bisa mengantar mereka bepergian. Apalagi yang memiliki anak, cucu, dan saudara di kota besar. Kalaupun ada yang sudah bisa menyetir mobil, keremapilan mereka belum teruji kalau harus masuk masuk jalur tol atau menghadapi kemacetan di tengah kota yang semakin hari semakin semrawut.
Nah, aku. Akulah satu-satunya orang desa yang sering main ke kota. Sepekan bisa sampai dua atau tiga kali pergi ke luar kota. Bayaran jasaku juga lumayan. Ya, tidak jauh beda dengan honor tukang kategori ahli yang bayarannya diberikan per bulan. Jumlah ini bahkan bisa lebih banyak, tergantung jarak tempuh dan sewa jawa hariannya. Lebih jauh dan lebih lama berarti lebih besar lagi honornya. Belum kalau yang punya mobilnya royal. Uang upah nyetir tidak akan terganggu sama makan dan beli rokok.
Awal Mula Tergoda Judol
Seperti yang aku katakan di atas. Bahwa gara-gara ponsel pintar yang aku miliki lah hidupku menjadi hancur lebur. Semua berawal dari keisengan. Karena merasa semua kebutuhan rumah sudah terpenuhi dengan hasil jadi sopir panggilan, penghasilan istri yang buka warung juga cukup lumayan, jadi ada uang lebih untuk aku mengganti ponselku yang sudah lama. Rasanya membeli model terbaru akan lebih menyenangkan. Itung-itung menikmati hasil keringat sendiri. Ningsih istriku sudah beli HP baru dua bulan lalu. Televisi sudah ku ganti dengan yang layar sentuh dengan ukuran yang cukup besar. Jajan anak? Anak kami masih kecil usia empat tahun. Jajannya belum terlalu banyak dan tidak menyita isi kantong. Belum lagi, kadang Hasbi cukup dengan makan makanan yang ada di warung.
Aku membeli ponsel pintar itu dengan harga yang cukup lumayan. Tidak mengapa, toh fiturnya lengkap dan aku merasa puasa dengan itu. Aku bisa berselancar lebih bebas di media sosial. Bahkan sejak memiliki ponsel itu aku memiliki berbagai akun media yang membuka interaksi dengan banyak orang. Bahkan kawan lama yang sudah sangat jarang bertemu.
Namun entah dari mana dorongan itu ada. Bukan hanya berselancar di media sosial. Aku pun mulai berani ngintip-ngintip hal yang sebelumnya tidak pernah berani kulakukan. Situs-situs yang ku tahu itu dilarang malah memberiku tantangan tersendiri. Semakin vulgar semakin ingin kulihat. Semakin tahu itu dilarang semakin aku ingin mencobanya.
Sampai pada suatu hari aku tidak sengaja menonton iklan aplikasi judol (judi online) yang tayang ketika kau sedang scrol akun salah satu teman lama ku.
“Menarik nih! Coba sekali saja bisa kali,” pikirku.
“Murah yan ternyata, gak akan bikin kantong bolong kalau cuma sesekali,” ucapku sambil senyum mengingat isi dompet masih tebal dan orderan terus berdatangan. Aku pikir kalau misal dipakai gak bakalan habis karena besok lusa dapat gantinya.
Sekali dua kali aku menang dan senang bukan kepalang. Bagaikan ketiban rejeki noplok, malam itu juga aku mengajak beberapa rekan dan saudara untuk “pesta” menikmati hasil “klik” yang aku lakukan.
Satu rekan memuji, “hebat kamu ya. Lain kali ikut yang lebih besar lagi!” katanya seolah mendukungku untuk terus main judol.
“Iya juga,” benakku terus memikirkan bagaimana caranya besok bisa dapat lagi uang yang jauh lebih banyak dan bisa kembali menjamu “pesta”. Kalau misal menang lagi yang lebih besar mungkin suatu hari aku bisa menghadiahi istriku mobil baru sebagai kejutan.
Sungguh sejak saat itu aku ketagihan. Sesekali kalah itu aku anggap sebagai musibah yang memang semua hal tidak selalu untung bukan?
Namun nahas. Saat aku sudah ketagihan, kekalahan demi kekalahan bukan membuat aku berhenti dan mundur. Aku malah semakin ingin mencoba dan mencoba lagi. Sampai suatu hari aku sadar bahwa aku sudah terlalu banyak menggunakan uang pribadi, uang simpanan istri untuk khitanan anak kami, uang modal warung bahkan perhiasan istri yang sebenarnya pemberianku malah kuambil lagi dan kujual demi untuk itu semua.
Istri mulai gelisah saat aku sudah tidak bisa membawa uang selesai jadi sopir bayaran. Akhirnya utang semakin menumpuk karena menutupi kebutuhan.
Keadaan semakin memburuk ketika putra kami jatuh sakit karena ibunya sering lupa ngasih dia makan. Kesehatan anak kami sering terbengkalai. Karena istriku ikut mencari kerja tambahan untuk memenuhi kebutuhan. Penghasilanku sudah tidak bisa dibawa pulang. Setiap bekerja, upahnya sudah ditunggu oleh penagih utang. Bahkan sering aku didatangi penagih ke rumah dan tidak jarang membuat istriku nangis bombay dibuatnya.
Utangku semakin banyak. Dari mulai jutaan kini sudah hampir seratus juta. Aku juga tidak sadar mengapa jadi sebanyak itu? Tanpa kusadari, setan di kepalaku terus mengajakku berkelana. Setan itu bilang, dengan ikut judi lagi, mungkin kamu bisa melunasi utangmu yang makin menggunung itu. Akhirnya aku diam-diam mencari pinjaman online, karena pinjam sama teman dan saudara sudah tidak ada yang percaya.
Dua bulan belakangan ini, setiap harinya selalu saja ada penagih utang ke rumah, Istriku sudah tidak kuat lagi, dia mengancam minta bercerai dan akan pergi pulang kepada keluarganya karena aku sudah ketagihan main judol. Namun, karena istriku sebatang kara hanya punya paman dan bibi, maka niat istriku itu urung karena khawatir tidak memiliki tempat di sana.
Dengan berat hati istriku masih mau tinggal bersama di rumahku. Sampai suatu hari, hal terburuk yang tidak pernah aku bayangkan itu terjadi, rumah dan mobilku disita. Ketika kepalaku sakit seperti mau pecah. Langit terasa runtuh menimpa dan menghimpitku. Sakit ini terlalu sakit daripada pusing sakit kepala mikirin bayar utang dan dikejar penagih tiap hari. Sakit ini jauh lebih sakit daripada pusing kepala saat dengerin marahan dan omelan istri tiap hari bahas menyudutkanku karena judol. Bahkan jauh lebih sakit saat aku pusing tujuh keliling harus bersembunyi di mana untuk menghindari penagih utang itu? Dan menghadapi omongan tetangga yang mengecapku sebagai tukang judol.
Sakitku belum sembuh, istriku ikut masuk rumah sakit karena muntah darah. Ternyata dia mengidap penyakit serius yang selama ini tidak pernah aku ketahui. Dia membatin karena kesalahanku, akibatnya stres memicu tukak lambung dan kanker usus.
Tidak lama dari kabar itu, dokter masuk dan menyatakan bahwa aku pun harus menjalani CT Scan karena keluhan sakitku sangat dahsyat dan memang luar biasa. Aku sudah tidak mampu membuka mata. Kesadaranku bahkan mungkin tinggal setengah. Aku malah berharap kalau aku mau mati saja. Percuma aku hidup hanya akan terus-menerus menderita. Jika pulih, siapa yang akan bayar utang-utang. Semuanya sudah raib, hilang …
Aku mencoba membaca istighfar berkali-kali. Berharap Tuhan memberikan pertolongan di masa sulit ini. Hatiku sedikit tenang. Memang, hanya dengan mengingat Allah hati ini menjadi tentram.
Namun belum juga sakit ini berkurang, seorang sanak saudara yang menjengukku ke ruang rawat bertanya, “masih punya simpanan gak? Istrimu harus dioperasi secepatnya.”
Ya Tuhan, ambil nyawaku hari ini saja.”
*Cerita tentang judol ini diambil dari kisah nyata.
