Di sebuah jalan yang sibuk oleh langkah-langkah tergesa, aku pernah bertemu sepasang mata yang tak meminta apa-apa—hanya diam, hanya senyuman, seolah dunia tak pernah cukup ramah untuk dijawab dengan kata. Ia berdiri di sana, seperti sepotong cahaya yang jatuh ke bumi, kecil dan bersih. Rambutnya hitam legam seperti langit tanpa bintang, dan wajahnya putih lembut, seperti bulan yang tak pernah lelah menyinari malam.
Ketika aku menyapanya, ia tak menjawab. Tidak dengan kata, tidak dengan suara. Hanya senyum. Senyum yang sederhana, namun entah mengapa terasa begitu dalam—seperti ada dunia yang terkunci di balik lengkung bibirnya. Aku sempat berpikir, mungkin ia hanya pemalu, mungkin ia belum terbiasa dengan orang asing. Pertemuan itu singkat, sekejap saja, seperti angin yang lewat tanpa jejak. Namun entah mengapa, ia menetap di ingatanku, seperti bayangan yang tak mau pulang.
Waktu kemudian berjalan, membawa cerita yang tak selalu ingin kita dengar. Aku mengetahui tentangnya—tentang anak perempuan itu yang ternyata tak sepenuhnya memahami dunia yang begitu riuh dan kejam ini. Ia tidak tuli, ia tidak bisu, namun pikirannya berjalan di jalur yang berbeda, pelan, rapuh, dan tak selalu mampu membaca niat manusia. Aku terdiam. Dunia yang bagiku sudah rumit, ternyata jauh lebih berbahaya bagi mereka yang tak mampu melindungi diri.
Lima tahun berlalu, dan takdir mempertemukan kami kembali. Bukan di jalan yang sama, bukan dalam waktu yang sama, namun dengan cerita yang jauh berbeda. Aku melihatnya lagi—masih dengan wajah yang sama, masih dengan mata yang sama, masih dengan senyum yang sama. Namun tubuhnya berubah. Ia berdiri di sana dengan perut yang membesar, seakan membawa rahasia yang tak pernah ia mengerti, seakan memikul beban yang tak pernah ia pilih.
Aku membeku. Dunia seakan berhenti sejenak, lalu berputar terlalu cepat. Anak itu—yang dulu hanya tersenyum, yang dulu hanya diam—kini membawa kehidupan di dalam dirinya. Namun bukan itu yang paling menyakitkan. Yang paling menyakitkan adalah pertanyaan yang tak punya jawaban. Siapa yang melakukan ini? Siapa yang melihat kelemahannya dan memilih untuk menyakitinya? Siapa yang tega merenggut haknya sebagai manusia—hak untuk aman, hak untuk dilindungi, hak untuk hidup tanpa luka?
Aku mencari tahu, dan jawaban yang kuterima lebih pahit dari yang kubayangkan. “Mungkin sudah dua kali,” kata seseorang dengan nada biasa, seolah itu bukan tragedi. Dua kali. Dua kali tubuh yang sama disakiti, dua kali jiwa yang sama dilukai, dua kali dunia gagal melindunginya. Anak pertamanya diambil dan dirawat oleh mereka yang masih memiliki hati. Namun ia tetap dibiarkan berjalan sendiri di dunia yang sama—dunia yang pernah merenggut darinya segalanya.
Aku ingin bertanya, kenapa? Kenapa ia dibiarkan kembali ke tempat yang sama yang pernah melukainya? Kenapa kita, yang mengaku sebagai manusia, justru sering kali abai pada mereka yang paling membutuhkan perlindungan? Ia masih tersenyum. Dan itulah yang paling menghancurkan. Di tengah semua luka yang mungkin tak pernah ia pahami, di tengah semua penderitaan yang tak bisa ia ceritakan, ia masih tersenyum—seolah dunia tidak pernah jahat padanya, seolah manusia tidak pernah menyakitinya.
Atau mungkin, ia memang tidak tahu. Dan justru di situlah letak luka yang paling dalam.
Kadang aku bertanya pada diriku sendiri, siapa yang sebenarnya gila? Dia yang tak memahami dunia, atau kita yang memahami namun tetap memilih untuk menyakiti? Siapa yang lebih kehilangan nurani? Siapa yang lebih pantas disebut manusia? Karena manusia seharusnya tahu batas, manusia seharusnya punya hati, manusia seharusnya melindungi—bukan menghancurkan. Namun di hadapanku, realitas berkata lain.
Ada tubuh kecil yang menjadi saksi betapa kejamnya dunia. Ada senyum polos yang menjadi bukti bahwa kejahatan tidak selalu berwajah menyeramkan—kadang ia tersembunyi di balik wajah manusia biasa.
Aku ingin berteriak, ingin marah, ingin dunia berhenti sejenak dan melihat apa yang telah terjadi. Namun jalan tetap ramai, langkah-langkah tetap berjalan, orang-orang tetap hidup seolah tidak ada yang salah. Dan ia masih berdiri di sana, dengan senyum yang sama, dengan dunia yang mungkin tak pernah benar-benar ia pahami.
Barangkali, yang ia butuhkan bukan sekadar belas kasihan. Ia butuh perlindungan. Ia butuh perhatian. Ia butuh dunia yang tidak menjadikannya korban berulang kali. Karena tidak semua luka terlihat, tidak semua jeritan terdengar, dan tidak semua penderitaan mampu diungkapkan dengan kata.
Sejak hari itu, aku tak lagi melihat senyum sebagai sesuatu yang sederhana. Karena di balik senyum, bisa saja tersembunyi cerita yang tak pernah selesai, luka yang tak pernah sembuh, dan dunia yang terlalu kejam untuk dipahami oleh jiwa yang polos.
Ia masih tersenyum. Dan mungkin, itulah caranya bertahan—di dunia yang tak pernah benar-benar menjaganya.
