Belajar adalah perjalanan panjang yang tidak pernah mengenal kata selesai. Ia tidak dibatasi oleh umur, jabatan, maupun waktu. Selama seseorang masih hidup, selama itu pula kesempatan untuk belajar selalu terbuka. Bahkan, semakin bertambah usia, seharusnya semakin bertambah pula kerendahan hati untuk terus menimba ilmu.
Kemarin, saya belajar kepada seorang penulis yang usianya lebih muda dari saya. Namanya Ibu Diantika. Ia telah memiliki banyak pengalaman menulis di berbagai media. Dari pertemuan itu, saya menyadari satu hal penting: ilmu tidak melihat usia, dan kebijaksanaan tidak selalu lahir dari rambut yang memutih. Saya tidak merasa malu belajar kepadanya, sebab tujuan saya bukan menunjukkan siapa yang lebih tua, melainkan siapa yang lebih sungguh-sungguh ingin memahami.
Dalam tradisi keilmuan Islam, sikap seperti ini justru sangat dijunjung tinggi. Seorang pencari ilmu dituntut untuk rendah hati, siap belajar dari siapa pun yang lebih mengetahui, meskipun orang tersebut lebih muda secara usia. Sebab, kemuliaan seseorang tidak diukur dari umurnya, melainkan dari ilmu dan amalnya.
Pepatah Arab dengan indah menggambarkan hal ini:
العَالِمُ كَبِيرٌ وَإِنْ كَانَ حَدَثًا، وَالْجَاهِلُ صَغِيرٌ وَإِنْ كَانَ شَيْخًا
“Orang yang berilmu itu besar (mulia), meskipun usianya masih muda. Dan orang yang bodoh itu kecil (rendah), meskipun usianya telah tua.”
Pepatah ini mengajarkan bahwa ukuran kebesaran seseorang bukanlah angka usia, melainkan keluasan ilmu dan kedalaman pemahamannya. Al-Qur’an sendiri menegaskan keutamaan ilmu dan orang-orang yang berilmu. Allah ﷻ berfirman:
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal yang dapat menerima pelajaran.” (QS. Az-Zumar: 9)
Ayat ini tidak menyebut usia, tidak pula menyebut kedudukan. Yang dibedakan hanyalah satu: berilmu atau tidak.
Dalam ayat lain, Allah ﷻ juga berfirman:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādilah: 11)
Ilmu adalah pengangkat derajat, bukan umur. Maka siapa pun yang memiliki ilmu, pantas dihormati dan dijadikan tempat belajar. Rasulullah ﷺ pun menegaskan kewajiban menuntut ilmu tanpa batas usia:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mājah)
Hadis ini bersifat umum, mencakup semua Muslim, baik muda maupun tua. Tidak ada kata “selama muda saja”, tidak ada pula syarat usia.
Belajar kepada yang lebih muda sejatinya adalah latihan keikhlasan dan kedewasaan. Ia mengikis kesombongan, menumbuhkan kebijaksanaan, dan memperluas pandangan. Orang yang enggan belajar hanya karena merasa lebih tua, sejatinya sedang menutup pintu pertumbuhan dirinya sendiri.
Karena itu, bagi saya, belajar adalah ibadah yang tak mengenal pensiun. Selama masih ada orang yang lebih tahu, selama masih ada hal yang belum dipahami, maka selama itu pula saya akan terus belajar. Tidak peduli kepada siapa, tidak peduli dari mana, dan tidak peduli berapa usia kami.
Sebab dalam ilmu, yang paling mulia bukanlah siapa yang paling tua, tetapi siapa yang paling bersungguh-sungguh mencari kebenaran.
