Banyak terjadi dalam hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan yang belum menikah, namun sudah saling menafkahi—baik lahir maupun batin. Dengan alasan sayang dan cinta, seseorang tidak segan memberikan apa pun yang dianggap terbaik untuk pasangannya.
Memberikan waktu sepenuhnya, memberi hadiah dengan harga mahal, bahkan tidak sedikit yang sudah berani berbagi aset, membeli rumah bersama, hingga meminjam uang pasangan demi memenuhi kebutuhan satu sama lain. Semua itu dilakukan sebelum adanya ikatan resmi di mata negara dan agama.
Antara Cinta dan Batasan
Bagi saya pribadi, hal ini adalah sesuatu yang tabu. Tidak apa-apa jika saya dianggap kolot atau tidak kekinian. Namun, seberapa maju pun pola pikir kita, mengikuti teknologi dan tren masa kini, menjaga adab tetap harus diutamakan.
Ada batasan yang tidak boleh dilampaui. Ada nilai yang harus dijaga demi martabat dan harga diri. Aturan itu bukan untuk membatasi kebebasan kita, tapi justru untuk menyelamatkan kita dari hal-hal yang merugikan di kemudian hari.
Jangan Sampai Menyesal di Akhir
Jangan sampai kita menyesal karena telah memberikan sesuatu yang begitu berharga kepada seseorang yang belum halal. Termasuk dalam hal meminjam uang pasangan, yang sering dianggap wajar karena dilandasi rasa percaya, padahal bisa menjadi sumber masalah di kemudian hari
Agama sudah memberikan batasan, termasuk larangan pacaran, bukan tanpa alasan. Semua itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Seseorang yang sudah memberi banyak sebelum menikah cenderung memiliki tuntutan yang lebih besar. Ia merasa berjasa, sehingga hubungan menjadi menekan, bahkan toxic.
Hubungan Sehat Sebelum Menikah
Padahal, hubungan yang sehat sebelum menikah adalah saling menyemangati, saling mendukung dalam mengejar karier dan prestasi, serta saling mengingatkan dalam kebaikan.
Kalaupun harus ada rasa, cukup menjadi pribadi yang lebih baik. Karena sejatinya, memperbaiki diri akan mendatangkan jodoh terbaik dari Tuhan.
Tanpa harus memberikan harta, waktu, dan perhatian berlebihan, seseorang yang tulus akan tetap mendukungmu. Ia tidak akan membebani, tidak akan menghalangi langkahmu, dan tidak akan menuntut hal yang belum seharusnya.
Dampak yang Sering Terjadi
Belakangan ini, banyak kasus yang muncul akibat hubungan yang terlalu jauh sebelum menikah. Mulai dari hamil di luar nikah, pasangan yang tidak bertanggung jawab, pernikahan dini yang berujung perceraian, hingga hubungan rumah tangga yang penuh tekanan.
Semua ini sering kali dipicu oleh tuntutan yang sudah terlalu besar sejak masa pra-pernikahan.
Pernikahan Itu Suci
Padahal, pernikahan adalah ikatan suci. Tempat di mana hal-hal yang sebelumnya tidak diperbolehkan menjadi halal. Di dalamnya, pasangan belajar saling memahami tanpa tekanan dari masa lalu yang penuh tuntutan.
Menafkahi pasangan, baik secara materi maupun fisik, seharusnya dilakukan setelah menikah. Karena di sanalah ada ridho Tuhan. Jika dilakukan sebelum itu, justru membuka celah masalah—perempuan bisa dirugikan, laki-laki terbebani oleh tanggung jawab yang belum seharusnya dipikul.
Untuk Kamu yang Sedang Jatuh Cinta
Untuk para remaja laki-laki dan perempuan yang sedang dimabuk asmara, tetap gunakan akal sehat. Jangan sampai terjerumus terlalu jauh hingga merugikan masa depanmu.
Kejar prestasi, fokus pada pendidikan, dan berbaktilah kepada orang tua. Tidak perlu bersusah payah mengabdi pada seseorang yang belum tentu menjadi jodohmu.
Perbaiki diri, perbaiki hidupmu. Karena hidup yang baik sedang menunggumu di masa depan.
