“Setelah makanan, tempat tinggal, dan teman, cerita adalah hal yang paling kita butuhkan di dunia.” Kutipan Philip Pullman ini meresonansi kuat dalam benak saya, seolah menjadi penanda takdir yang mempertemukan saya dengan sosok inspiratif, Bapak Riadi Darwis. Beliau bukan sekadar penulis, dosen, atau kawan, melainkan seorang pencerita ulung yang senantiasa membawa kehangatan dan inspirasi dalam setiap perjumpaan.
Pertemuan pertama kami terjadi di Museum Sri Baduga, sebuah situs sejarah yang menjadi saksi bisu awal mula persahabatan kami. Dalam suasana diskusi budaya yang kental dengan nuansa Sunda, saya terkesima dengan keluasan wawasan dan kecintaan Pak Riadi terhadap warisan leluhur. Beliau memaparkan sejarah dengan begitu hidup, seolah membawa saya kembali ke masa lampau dan merasakan getaran semangat perjuangan para pahlawan.
Pertemuan kedua kami di ENHAI, sebuah acara bedah buku yang menjadi ajang bagi para pencinta literasi untuk saling bertukar pikiran. Di sini, saya melihat sisi lain Pak Riadi, seorang akademisi yang tajam dalam menganalisis karya sastra namun tetap santun dalam menyampaikan kritik. Diskusi kami mengalir dengan lancar, membahas berbagai genre buku dan memberikan sudut pandang baru yang memperkaya khazanah berpikir saya.
Kini, di bawah langit yang sedikit mendung setelah hujan reda, saya kembali duduk bersama Pak Riadi di kursi besi yang tampak jadul di sebuah kafe bergaya vintage di sudut kantor pos. Aroma teh tarik yang harum menyatu dengan kehangatan suasana, menciptakan momen yang begitu syahdu. Pak Riadi, dengan senyum khasnya, sedang asyik menyeruput minuman rempah kesukaannya, sambil sesekali bercerita tentang pengalaman menulis dan pandangannya tentang kebudayaan Sunda yang kian tergerus zaman.
Obrolan kami mengalir bebas, tak ubahnya air sungai yang mencari muaranya. Kami membahas tentang pentingnya melestarikan kuliner tradisional, tentang tantangan yang dihadapi para penulis di era digital, dan tentang nilai-nilai kearifan lokal yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Bagi saya, pertemuan dengan Pak Riadi bukan sekadar ajang bertukar pikiran, melainkan sebuah perjalanan untuk menemukan jati diri. Lewat cerita-cerita yang beliau bagikan, saya belajar tentang makna kehidupan, tentang pentingnya memiliki mimpi dan berjuang untuk mewujudkannya, serta tentang kekuatan sebuah cerita untuk menginspirasi dan mengubah dunia.
Pak Riadi adalah sosok yang patut diteladani. Beliau tidak hanya seorang penulis yang handal, tetapi juga seorang dosen yang berdedikasi dan seorang teman yang tulus. Kehangatan dan inspirasi yang beliau bawa dalam setiap perjumpaan adalah harta karun yang tak ternilai harganya.
