Pulang ke kampung halaman selain melepas rindu pada sanak saudara, saya menyempatkan untuk berkeliling “napak tilas” masa-masa indah remaja. Mengunjungi lokasi-lokasi yang menyimpan cerita berkesan dan selalu dirindukan. Tidak lupa mengambil beberapa foto untuk disimpan dan dibuka sesekali saat merindukannya lagi.
Mudik kali ini berkesempatan untuk mendatangi monumen Panji Siliwangi yang berada di dusun Cirikip, desa Cinyasag Kecamatan Panawangan. Pulang berkunjung dari rumah nenek yang berada di dusun Cilimus sengaja mengambil jalan memutar via Cirikip. Mengambil jalan lebih panjang untuk pulang ke Indragiri dan melewati desa tetangga, tidak mengapa asal bisa mengenang kembali masa-masa SMP yang indah. Dulu, ketika aktif di paskibra SMPN 1 Panawangan sering melakukan latihan gabungan di pelataran monumen ini.
Meski sudah puluhan tahun berlalu dan banyak hal yang berubah, monumen Panji Siliwangi masih menyisakan kenangan yang begitu hangat. Ketika kami dilatih baris-berbaris oleh pelatih, ketika kami belajar sejarah perjuangan di sini, dan ketika kami sama-sama berikrar untuk terus memupuk jiwa nasionalisme yang tinggi saat selesai latihan.

Entah, di mana teman-teman yang dulu sama-sama latihan di sini, hanya beberapa orang yang masih berkomunikasi. Andai kami bisa berada di sini lagi sama-sama. Mungkin akan lebih bisa saling bertukar ingatan tentang sejarah mengapa monumen ini tercipta. Sejarah yang pernah kami dengar dari guru dan pelatih kami.
Sambil berjalan dan mengambil beberapa foto, saya berusaha mengingat kembali apa yang diceritakan pelatih kami ketika latihan di sini: sejarah perjuangan yang dilakukan seorang lurah Cirikip yang juga seorang petani nira, bernama abah Sunahwi yang sudah berani mengambil langkah tepat, menyembunyikan bendera/panji Siliwangi di atas sebuah pohon kelapa dari ancaman Belanda.
Sejarah Monumen Panji Siliwangi
Selepas menjalankan misi menumpas pemberontakan PKI di Jawa Tengah, pasukan Divisi Siliwangi menerima perintah penting dari Panglima Besar Sudirman melalui strategi yang dikenal sebagai Perintah Siasat No. 1 pada 9 November 1948. Isi perintah itu jelas: mereka harus kembali ke Jawa Barat.
Perjalanan pulang ini bukanlah hal mudah. Para prajurit Siliwangi harus berjalan kaki menempuh jarak jauh selama kurang lebih 40 hari. Dalam perjalanan panjang itu, mereka akhirnya tiba di wilayah Rancah pada awal Januari 1949.
Pada 2 Januari 1949, sebuah benda yang sangat berharga—Panji Siliwangi atau yang saat itu disebut Vaandel Siliwangi—diserahkan oleh Kopral Somantri kepada Letnan Satu Mung Parahadimulyo. Ia adalah Komandan Kompi IV Batalyon Nasuhi, Brigade Samsu, Divisi Siliwangi. Panji ini bukan sekadar simbol, tetapi lambang kehormatan dan semangat perjuangan.

Namun, perjalanan menjaga panji tersebut penuh ancaman. Serangan udara dari Belanda di sekitar Gunung Sawal hingga konflik di daerah Antralina membuat keberadaan panji ini semakin terancam. Bahkan, dalam situasi genting, panji tersebut sempat jatuh ke tangan kelompok DI/TII yang menawan prajurit Siliwangi, sebelum akhirnya dilemparkan begitu saja ke tanah.
Menyadari besarnya risiko jika panji itu direbut kembali oleh musuh, Letnan Mung Parahadimulyo mengambil keputusan penting. Ia menitipkan Panji Siliwangi kepada seorang tokoh lokal yang ia percaya: Sunahwi, seorang lurah sekaligus penyadap nira. Wilayah tempat tinggal Sunahwi dikenal relatif aman dari pengaruh politik luar, dan masyarakatnya kompak mendukung perjuangan kemerdekaan.
Sunahwi bukan orang asing bagi para pejuang. Daerah Cirikip tempat ia tinggal sering dijadikan lokasi persembunyian, dan warga setempat turut membantu perjuangan secara diam-diam.
Di tengah situasi yang semakin genting—dengan meluasnya pengaruh DI/TII di wilayah Ciamis utara serta adanya kabar pergerakan mata-mata Belanda—Sunahwi berusaha menyembunyikan panji tersebut sebaik mungkin. Awalnya, panji itu disimpan dalam ransel yang dimasukkan ke dalam besek yang selalu ia bawa. Namun, cara itu dirasa belum cukup aman, apalagi ketika pasukan Belanda melakukan penyisiran.
Akhirnya, Sunahwi mengambil langkah cerdik. Ia mengeluarkan panji dari ransel, lalu menyembunyikannya di dalam bumbung bambu—wadah yang biasa digunakan untuk menampung nira. Bumbung tersebut kemudian diletakkan di atas pohon kelapa setinggi sekitar 10 meter, tempat yang tidak mudah dijangkau dan tidak mencurigakan.
Selama kurang lebih tiga bulan, Panji Siliwangi disimpan dengan aman di tempat itu. Hingga akhirnya, seorang utusan dari pasukan Siliwangi yang dipimpin Letnan Kosasih datang untuk mengambil kembali panji tersebut. Panji itu kemudian diserahkan kepada Panglima Siliwangi dan kini menjadi bagian dari koleksi bersejarah di Museum TNI.
Atas keberanian dan jasanya, Sunahwi mendapat penghargaan dari negara. Tindakan sederhana namun penuh risiko yang ia lakukan telah menyelamatkan simbol penting perjuangan bangsa.
Harapan Pribadi tentang Monumen Panji Siliwangi

Dulu, ketika saya sekolah sekitar tahun 2001/2002, pohon kelapa tempat disembunyikannya panji siliwangi masih ada. Sayangnya beberapa tahun kemudian pohonnya mati dimakan usia.
Waktu sudah begitu lama berlalu. Kini, ketika saya kembali berkunjung, sudah ditanam pohon pengganti, pohon kelapa yang masih kecil. Bisa jadi pohon ini pohon pengganti yang kesekian kali.
Kisah perjuangan penyembunyian panji siliwangi ini rutin dikenang melalui kegiatan napak tilas setiap tahun. Menurut beberapa sumber, pada tanggal 16 Desember 2025 lalu, TNI AD membangkitkan kembali semangat juang anggotanya di monumen ini. Dengan dipimpin oleh Danrindam III/Siliwangi Brigadir Jenderal TNI Teddy Arfiyanto TNI AD menyelenggarakan pembukaan sekaligus pemberangkatan Peleton Beranting Yudha Wastu Pramuka Jaya dalam rangka memperingati Hari Jadi TNI AD 2025.
Sebagai warga kecamatan Panawangan saya merasa bangga karena Panawangan menjadi bagian penting dari sejarah perjuangan.
Pulang ke rumah dan meninggalkan monumen Panji Siliwangi, saya pribadi berharap lokasi bersejarah ini benar-benar menjadi bagian sejarah yang tidak pernah terlupakan. Sebagai pengingat sejarah perjuangan untuk menularkan jiwa nasionalisme dan perjuangan pada generasi muda, seperti ketika masa sekolah dulu.
