Malam-malam terakhir Ramadan selalu memiliki rasa yang berbeda. Udara terasa lebih tenang, langit tampak lebih dalam, dan suara takbir yang kadang terdengar dari kejauhan seperti memanggil sesuatu yang lama terpendam di dalam hati manusia.
Bagi kebanyakan orang, lima malam terakhir adalah waktu untuk memperbanyak ibadah. Masjid lebih ramai dari biasanya. Orang-orang berlama-lama dalam sujud, membaca doa dengan suara bergetar, berharap ada satu malam di antara malam-malam itu yang akan menghapus dosa-dosa mereka.
Namun bagi Rafi, lima malam terakhir Ramadan tahun ini terasa seperti ruang pengadilan yang sunyi. Ia duduk bersandar di dinding masjid, memandang sajadah yang terhampar di depannya, sementara pikirannya berjalan jauh ke masa lalu.
Sudah tujuh tahun ia tidak berbicara dengan kakaknya sendiri. Semua bermula dari sebuah warisan yang tidak seberapa besar, namun cukup untuk menumbuhkan luka yang panjang. Ayah mereka meninggal dengan meninggalkan sebidang tanah kecil di pinggir kampung. Tanah itu tidak luas, tetapi cukup bernilai karena berada di dekat jalan raya.
Awalnya mereka sepakat untuk menjualnya dan membagi hasilnya. Namun entah bagaimana, percakapan sederhana itu berubah menjadi perdebatan. Perdebatan berubah menjadi kemarahan. Kemarahan berubah menjadi kata-kata yang tidak seharusnya diucapkan oleh dua saudara yang tumbuh dari rumah yang sama.
“Aku tidak pernah menyangka kamu serakah seperti ini!” kata Rafi waktu itu. Kakaknya hanya menatap dengan wajah yang juga keras.
“Dan aku tidak pernah menyangka kamu bisa menuduh saudaramu sendiri seperti itu.”
Sejak hari itu, mereka tidak pernah berbicara lagi. Lebaran datang dan pergi, tetapi rumah keluarga mereka selalu terasa ada yang hilang. Di meja makan, selalu ada satu kursi yang kosong. Saat saling bersalaman di hari raya, selalu ada satu tangan yang tidak terulur. Rafi pernah beberapa kali berniat meminta maaf. Namun setiap kali niat itu muncul, gengsi datang lebih dulu.
“Kalau dia memang salah, kenapa harus aku yang minta maaf?” pikirnya setiap kali.Waktu berjalan cepat. Tujuh tahun terasa seperti kedipan mata.
Dan kini Ramadan hampir selesai. Malam itu adalah malam ke-27. Masjid penuh oleh jamaah yang berharap malam tersebut adalah Lailatul Qadar. Suara doa terdengar lirih, sebagian orang bahkan menangis di dalam sujud panjang mereka. Rafi ikut bersujud, tetapi pikirannya tidak benar-benar berada di sana.Ia teringat wajah kakaknya. Teringat bagaimana dulu mereka sering berjalan bersama ke masjid saat masih kecil. Teringat bagaimana kakaknya selalu membelikan es lilin setelah pulang mengaji.
Kenangan-kenangan itu datang seperti gelombang yang tidak bisa dihentikan.Ia mengangkat kepalanya dari sujud dan melihat orang-orang di sekitarnya menangis memohon ampunan. Tiba-tiba sebuah pertanyaan sederhana muncul di dalam hatinya.
Bagaimana mungkin aku berharap diampuni oleh Tuhan, sementara aku sendiri belum memaafkan saudaraku? Pertanyaan itu terasa seperti palu yang mengetuk keras kesadarannya. Tiba-tiba saja, seluruh ibadah yang ia lakukan selama Ramadan terasa ringan seperti kertas. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan: ia rajin bersujud, tetapi hatinya masih memelihara luka yang belum ia selesaikan.
Malam itu, setelah shalat selesai, Rafi tidak langsung pulang. Ia duduk lama di serambi masjid, menatap langit yang penuh bintang. Akhirnya ia mengeluarkan ponselnya. Nomor kakaknya masih tersimpan di sana, meskipun sudah bertahun-tahun tidak pernah ia hubungi.
Jarinyanya gemetar saat mengetik pesan.
“Assalamu’alaikum. Aku tidak tahu harus mulai dari mana. Tapi kalau selama ini aku pernah menyakitimu, aku benar-benar minta maaf.” Ia menatap layar ponselnya beberapa detik. Hatinya berdebar seperti seorang anak kecil yang sedang menunggu hukuman. Lalu ia menekan tombol kirim. Pesan itu terasa sangat sederhana, tetapi bagi Rafi, itu seperti memindahkan gunung yang selama ini menekan dadanya.Beberapa menit berlalu. Ponselnya bergetar. Ia membuka pesan itu dengan napas tertahan.
“Wa’alaikumussalam. Aku juga minta maaf. Sudah lama aku menunggu pesan ini.” Tulis Kakaknya di layar ponsel itu.
Rafi menatap layar itu lama sekali. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dadanya terasa ringan. Seolah-olah ada pintu yang akhirnya terbuka setelah terlalu lama terkunci. Di kejauhan, angin malam berhembus lembut membawa suara orang-orang yang masih membaca doa di dalam masjid.
Rafi tersenyum kecil. Ia baru menyadari bahwa rahasia terbesar dari lima malam terakhir Ramadan bukanlah sekadar memperbanyak doa, tetapi membersihkan hati dari beban yang selama ini kita sembunyikan.Dan terkadang, satu kalimat maaf yang tulus jauh lebih berat daripada seribu rakaat shalat tambahan.Namun justru di situlah pintu kedamaian seringkali dibuka.
“Seringkali kita mencari Lailatul Qadar di langit yang tinggi, padahal pintu keberkahan itu tersembunyi di dalam hati yang mau merendahkan diri untuk meminta maaf. Sebab tidak ada ibadah yang lebih indah daripada hati yang bersih dari dendam, dan tidak ada kemenangan Ramadan yang lebih sejati selain pulangnya manusia kepada saudaranya dengan hati yang lapang.”
