Lampu-lampu jalanan kota mulai berpijar pelan, memantul di atas aspal yang basah sisa hujan sore itu. Di ujung jalan, kubah Masjid Al-Hidayah nampak megah dengan sorotan lampu hijau yang tenang. Suara tadarus sayup-sayup terdengar, mengalun lembut membelah kebisingan knalpot kendaraan yang terburu-buru mengejar waktu berbuka.
Di seberang jalan, seorang pria bernama sapaan “Bara” berdiri mematung. Jaket kulitnya yang kusam dan aroma tembakau yang lekat di pakaiannya seolah menjadi garis pembatas yang tegas antara dirinya dan bangunan suci itu. Tangannya yang dipenuhi bekas luka kecil gemetar saat ia merogoh saku, bukan untuk mencari pemantik, melainkan untuk meraba sebuah tasbih kayu kecil—satu-satunya benda peninggalan ibunya yang masih ia simpan.
“Ayo, Bara. Tinggal menyeberang saja,” bisiknya pada diri sendiri. Namun, kakinya terasa seberat timah.
Setiap kali ia berniat melangkah, potongan-potongan masa lalunya berkelebat seperti film horor. Wajah-wajah orang yang pernah ia tipu, botol-botol minuman yang pernah ia tenggak, dan malam-malam yang ia habiskan dalam kubangan dosa, semuanya seolah berteriak: “Tempatmu bukan di sana!”
Seorang pemuda berbaju koko putih bersih berjalan melewatinya sambil tersenyum ramah. Bara membalas dengan anggukan kaku, merasa senyum itu terlalu suci untuk pria sepertinya. Ia merasa seolah-olah jika ia menginjakkan kaki di lantai marmer masjid itu, lantai tersebut akan retak karena tak sudi menopang beban dosanya.
“Bapak mau masuk?” sebuah suara membuyarkan lamunannya. Seorang pedagang asongan yang sedang merapikan dagangannya menatap Bara.
“Eh, nggak. Cuma… cuma mau numpang lewat,” jawab Bara gugap.
“Sayang, Pak. Sebentar lagi iqamah Isya. Ramadhan tinggal menghitung hari, sayang kalau dilewatkan,” ujar si pedagang sambil tersenyum kecil.
Bara hanya terdiam. Ia melanjutkan langkahnya, tapi bukan menuju masjid, melainkan berputar-putar di trotoar depan masjid itu. Ia seperti planet yang terperangkap dalam gravitasi, ingin mendekat tapi takut terbakar.
Ia sampai di depan pintu gerbang masjid. Ia melihat orang-orang masuk dengan wajah berseri. Ada kakek-kakek yang berjalan tertatih, ada anak kecil yang berlarian, dan semuanya nampak memiliki “hak” untuk berada di sana. Sementara Bara? Ia merasa seperti penyusup.
Ia bersandar di tiang lampu, kepalanya menunduk dalam. Di tenggorokannya, ada sebuah doa yang sudah berhari-hari ia susun. Sebuah doa sederhana tentang minta ampun. Namun, setiap kali doa itu akan meluncur keluar, ia merasa seolah-olah langit akan menolaknya mentah-mentah.
“Bagaimana mungkin aku meminta surga, sementara bau neraka masih melekat di badanku?” batinnya getir.
Tiba-tiba, suara adzan Isya berkumandang. Suara itu begitu menggelegar sekaligus lembut, seolah memanggil namanya secara pribadi. Bara memejamkan mata. Air mata yang sejak tadi ia tahan mulai mendesak keluar. Ia merasa sangat haus, bukan haus akan air, tapi haus akan kedamaian yang selama bertahun-tahun ini hilang dari hidupnya.
Ia memberanikan diri melangkah ke area wudhu. Saat air dingin menyentuh kulitnya, ia merasa setiap tetesnya mencoba meluruhkan noda hitam di hatinya. Namun, rasa tak pantas itu kembali muncul saat ia berdiri di ambang pintu ruang shalat. Ia melihat shaf-shaf mulai merapat. Ia memilih berdiri di pojok paling belakang, dekat rak sandal, tempat yang ia rasa paling aman untuk orang ‘buangan’ sepertinya.
Ia tidak ikut takbir. Ia hanya berdiri, menatap punggung-punggung orang di depannya. Doanya macet di tenggorokan. Ia ingin berteriak meminta tolong pada Tuhan, tapi mulutnya kaku.
Tiba-tiba, saat sujud pertama dilakukan oleh jamaah, Bara jatuh terduduk di lantai. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tanpa suara. Bahunya terguncang hebat. Di saat itulah, ia merasa kesunyian yang paling menyakitkan; kesunyian seorang pendosa yang merasa Tuhan tak lagi sudi mendengarnya.
“Kenapa aku di sini? Aku hanya mengotori tempat ini,” isaknya pelan.
Saat itulah, sebuah kehangatan terasa di pundak kirinya. Sebuah tangan yang kokoh namun lembut menyentuh jaket kulitnya. Bara tersentak dan menoleh.
Seorang lelaki tua dengan jenggot putih yang rapi dan wajah yang memancarkan cahaya ketenangan sedang berjongkok di sampingnya. Pria itu bukan sang imam, melainkan salah satu jamaah yang nampaknya sengaja membatalkan shalatnya demi melihat Bara.
“Anakku,” suara pria tua itu sangat tenang, “Kenapa kamu menangis di pintu rumah-Nya, padahal pintunya tidak pernah terkunci untukmu?”
Bara menyeka air matanya dengan kasar, wajahnya memerah karena malu. “Saya… saya nggak pantas di sini, Kek. Kakek nggak tahu siapa saya. Saya ini sampah. Saya pendosa.”
Pria tua itu tersenyum, jenis senyum yang membuat Bara merasa diterima. “Kalau masjid ini hanya untuk orang suci, maka masjid ini akan kosong, Nak. Tidak ada satu pun manusia di dalam sini yang tidak membawa dosa di pundaknya.”
“Tapi dosa saya beda,” bantah Bara dengan nada putus asa. “Dosa saya sudah setinggi gunung. Saya malu bahkan untuk sekadar menyebut nama-Nya.”
Pria tua itu menggenggam pundak Bara lebih erat. “Dengarkan saya. Gunung itu besar di matamu, tapi di hadapan samudera ampunan-Nya, gunungmu itu hanya sebutir pasir. Kamu tahu kenapa kamu merasa malu? Karena Tuhan sedang bicara padamu. Rasa malu itu adalah tanda bahwa hatimu belum mati.”
Bara tertegun. Dialog itu terasa seperti air yang menyiram api di dadanya.
“Masuklah ke shaf,” lanjut si kakek. “Jangan berdiri di pojokan seolah kamu orang asing. Kamu adalah tamu-Nya. Dan Tuhan tidak pernah mengusir tamu yang datang dengan air mata penyesalan.”
“Tapi, bagaimana kalau Dia tidak mendengar doa saya? Doa saya tertahan di sini,” Bara menunjuk tenggorokannya yang terasa sesak.
“Tuhan tidak butuh kata-katamu yang fasih, Nak. Dia mendengar suara hatimu yang hancur. Justru hati yang hancur itulah yang paling dekat dengan-Nya. Sujudlah, tumpahkan semuanya di sana. Biar bumi yang menyimpan ceritamu, dan langit yang memberikan jawabannya.”
Bara menatap mata kakek itu, mencari keraguan di sana, tapi yang ia temukan hanyalah ketulusan yang murni. Dengan perlahan, didorong oleh tangan kakek itu, Bara berdiri. Ia melangkah perlahan menuju shaf paling belakang yang masih tersisa satu celah.
Saat imam mengucap Allahu Akbar, Bara mengangkat tangannya. Kali ini, tangannya tidak lagi gemetar hebat. Saat ia meletakkan tangannya di dada, ia merasa seolah-olah tembok besar yang menghalangi tenggorokannya runtuh.
Doa yang tadi tertahan, kini mengalir deras. Bukan dalam bentuk kata-kata, melainkan dalam bentuk pasrah yang seutuhnya.
Saat dahinya menyentuh sajadah yang dingin, Bara merasakan ledakan emosi yang luar biasa. Ia bersujud sangat lama. Di titik terendah itu, ia justru merasa berada di posisi tertinggi dalam hidupnya. Ia tidak lagi merasa sebagai sampah, melainkan sebagai seorang anak yang akhirnya pulang ke pelukan ayahnya setelah tersesat di hutan belantara yang gelap.
“Ya Allah, ini aku. Si pendosa yang pulang,” batinnya berbisik.
Shalat pun berakhir. Saat salam diucapkan, Bara merasakan beban di pundaknya nampak berkurang drastis. Ia masih seorang pendosa, ia tahu masa lalunya tidak akan berubah dalam semalam. Namun, ia kini punya sesuatu yang tidak ia miliki sebelumnya: Harapan.
Ia menoleh ke samping, mencari kakek tua tadi. Namun, kakek itu sudah tidak ada di tempatnya. Ia melihat ke sekeliling, namun hanya menemukan jamaah yang sedang berdzikir tenang. Seolah-olah kehadiran kakek itu hanyalah perantara yang dikirimkan langit untuk satu tujuan saja: menyentuh pundaknya yang layu.
Bara keluar dari masjid dengan langkah yang berbeda. Ia menghirup udara malam dengan dada yang lapang. Kubah masjid hijau itu nampak semakin indah di matanya. Ia menyadari satu hal yang paling berharga malam itu.
Bahwa ampunan Tuhan tidak berjarak ribuan kilometer. Jaraknya hanya sejauh jarak antara dahi dan sajadah. Dan tidak ada dosa yang terlalu besar bagi Tuhan untuk dimaafkan, selama manusia itu masih memiliki rasa malu untuk pulang.
Malam itu, di bawah temaram lampu kota, Bara berjalan pulang. Ia mengeluarkan tasbih kayu milik ibunya. Ia mulai memutar biji-bijinya satu per satu. Tenggorokannya tidak lagi tersumbat. Doanya tidak lagi tertahan. Ia telah menemukan kembali suaranya di hadapan Sang Pencipta.
“Jangan pernah merasa tak pantas untuk bersujud, karena sujud bukanlah upacara bagi orang-orang suci, melainkan penyembuhan bagi jiwa-jiwa yang terluka dan berlumur dosa. Tuhan tidak memanggil yang layak, Dia melayakkan yang terpanggil.”
