Pembeli yang berbelanja ke tempatku mulai mengeluh. Katanya bukan karena sikapku yang judes, bukan karena anakku yang sulit dipanggil ketika mereka ingin dilayani. Atau bukan tempat yang kurang tertata rapi. Ternyata ini semua karena ulah seekor kucing hitam yang nakal.
Rasanya tokoku sudah maksimal dan di desain sedemikian rupa mengikuti jaman dan minat konsumen. Rasanya semuanya terlihat rapi dan baik. Aku bahkan sering menempatkan diriku sendiri sebagai pembeli.
Membayangkan bagaimana jika mereka datang ke tokoku. Apakah mereka nyaman melihat toko yang sedikit sesak dan penuh dengan pajangan. Menurut mereka akhir-akhir ini banyak mereka mulai mempertanyakan jaminan kebersihan dan higenitas di barang-barang yang aku jajakan.
Padahal aku belanja ke pasar pasti mandi dulu, suamiku bersih dan kendaraan kami oke. Barang-barang yang dijajakan yang sebelumnya dibeli dari pasar juga aku berani menjamin kebersihannya. Namun salah satu pelanggan ternyata melihat Kucing Hitam mencium kue pasar yang ku pajang rapi.
Kucing tetangga yang sangat nakal itu kadang masuk gerai sembarangan. Di beberapa kesempatan bahkan Kucing itu mengambil ikan segar. Dia terlalu pintar, datang saat aku melayani pembeli atau saat suami merapikan barang.

Entah bagaimana caranya dia selalu punya celah untuk mengambil kesempatan dan mengambil barang-barang di tokoku. Ia mengambil makanan, sayuran, makanan ringan, hingga kantong kresek. Apapun dia gasak dan bawa ke luar rumah.
Pernah satu ketika, si Kucing Hitam itu tidak terlihat seharian. Tapi toko kami compang camping dibuatnya. Sebelumnya aku bertanya pada suami, apakah dia kurang rapi membereskan rak atau ada pelanggan yang mencari sesuatu sampai seberantakan ini?
Setelah dicek melalui kamera pengawas, ternyata si Kucing Hitam sialan itu lagi. Katanya kucing itu bernama Mengku, dia itu hewan kesayangan tetanggaku. Katanya kucing itu sangat sangat disayangi oleh majikannya.
Aku sadar majikannya itu sering membelikannya ikan segar yang dibeli dari geraiku. Lantas ketika sang majikan sedang tidak membelikan, atau sedang bekerja di luar kota, dia sering nekat mengambil ikan segar di tempatku. Mungkin dia kira itu hanya pakan untuknya yang diambil cuma-cuma.
Karena kelewat nakal, dia sering mengobrak abrik barang yang sudah kami jajakan. Dia sering sekali mengambil makanan yang sudah siap saji dan siap dipajangkan ke teman-teman pengunjung. Aku tiba-tiba punya ide untuk mengakhiri hidupnya, disamping terlihat jorok tentunya keberadaannya jelas merugikan.
Karena belakangan pelanggan berpikir beberapa kali saat melihat Kucing kampung lalu lalang di tempat kami berjualan. Kucing sialan itu menggaruk-garuk kepalanya sedangkan bulunya beterbangan. Dibalik kekesalanku padanya, tanpa sepengetahuanku suami dan anakku membantu tetangga kami yang kehilangan Kucing.
Iya, Si Kucing Gila itu yang merugikan tempatku berjualan. Secara sadar suami dan anakku membantu tetangga mencari Si Mengku. Aku terheran-heran, kok maunya mereka ikut mencari si hama itu.
“Mas, Dek? Kenapa sih kalian bantu cari Si Mengku?” Tanyaku dengan nada tinggi sambil bertolak pinggang.
“Namanya juga tetangga, ya dimintai tolong nyari. Aku sama Reya mengiyakan dong. Sekitaran sini saja kok buk, gak jauh-jauh.” Jawab suamiku sambil melihat-lihat kolong meja tempatku memajang kue pasar.
“Apaan sih Mas! Gak ada! Lagian gak bakal ketemu.” Ucapku sembari menghitung uang di meja kasir.
Suamiku dengan wajah masam memandang dengan tajam. Tanpa basa-basi suamiku langsung memegang tangan dan mengajakku untuk masuk ke rumah. “Jangan bilang kamu nggak ikut cari karena kamu yang membunuhnya? Aku sempat dengar kamu berniat mngakhiri hidupnya kan? Ngaku?” Desaknya dengan pertanyaan menyudutkan.
Aku kaget bukan kepalang, bisa-bisanya suamiku berasumsi seperti itu. “Kurang kerjaan banget aku Mas ngeracun Si Mengku. Aku juga sebel, nggak suka banget sama Kucing nakal itu. Tapi mana tega aku racunin dia.” Jawabku membela diri.
Suamiku tetap menatap tajam, “Di lingkungan kita kan yang paling nggak suka sama Si Mengku ya kamu kan. Ya jelas lah aku nuduh kamu.”
“Mas, sebaiknya kamu gak usah deh ikut panik gitu, nanti juga balik lagi. Toh bulan lalu juga pernah kan kejadian kayak gitu, tapi kan kembali lagi?” Jelasku tak mau kalah.
“Masalahnya kasihan, Bu Sari kan pelanggan kita. Dia minta bantuan kita karena dia tau Kucing itu sering ke sini.” Suamiku masih heran kenapa aku tenang.
“Terserah kamu deh, aku yakin rezeki kita jalannya bukan dari Bu Sari aja.” Lanjutku sambil melangkah dan meninggalkan suamiku yang marahnya mulai meredam.
“Kok kamu gitu sih, orang lain pada bantu, Bu Sari hampir stress mikirin Si Mengku nggak ketemu.” Ucap suamiku menyusulku ke tempat berjualan.
“Mas, waktu kita ke pasar tiga hari yang lalu, kamu ingat gak aku lempar sesuatu di hutan kampung sebelah?” Tanyaku sambil senyum-senyum sendiri.
Suamiku mengerinyitkan dahi. “Iya, kamu emang lempar apaan itu?”
“Iya, itu Si Mengku ku karungi lalu ku keluarkan saat motor kita berjalan pelan.” Seketika suami menatapku lekat, ekspresinya berubah seketika menjadi tawa yang meledak.
“Hahahaha.. Kok kamu nggak bilang sih, kasihan kan Bu Sari nyari-nyari, warga lain nyari juga gara-gara iba sama Bu Sari yang udah gak makan gara-gara Si Mengku ilang. Ah gila kamu ya!” Ucap suami sambil mendorong pundakku.
Suamiku tertawa cekikikan dan berhenti mencari. Katanya bingung menyampaikannya pada Bu Sari kalau ternyata Kucingnya nggak mati, cuma nggak ada di daerah sini. Suamiku nggak sadar kalau itu kelakuankuu, membawa kucing di dalam karung dan dibiarkan loncat di perjalanan saat berangkat ke pasar dini hari.
“Sudah kubilang, minggu depan juga kesini lagi, Si Mengku kan Kucing pintar. Hahahaha, jangan terlalu serius nyari, dia pasti dalam perjalanan pulang. Besok juga ketemu.” Kataku padanya.
Kami tertawa cekikikan di pojok gerai. Pada akhirnya kita semua berpura-pura mencari Si Mengku, padahal kita tahu kalau Si Mengku nggak akan ketemu hari ini. Karena Si Mengku udah anteng di kampung sebelah.
Kami cuma berdoa, semoga dalam sebulan atau dua bulan kedepan dia kembalinya ke sini. Supaya kami agak tenang dan berjualan dengan aman sementara ini. Semoga ikhlas ya Bu Sari, maafkan kami.
