Anak perempuan bernama Lakahuna mengembangkan senyumnya saat memetik beberapa tangkai bunga. Embusan angin dapat membuat bunga-bunga menari pun dengan rambut cokelatnya. Setelah dirasa cukup, ia memasuki rumah. Orang tua, paman, dan tantenya sedang berkunjung. Ia meletakkan bunga itu di meja kecil
berbentuk bulat di luasnya. Sang ayah menuangkan teh ke dalam gelas kecil khusus untuk Lakahuna. Si anak menerima dan meminum. “Ayah di mana, Ibu? Lakahuna ingin bersama Ibu.”
“Ibu, di dapur.Temuilah Ibumu,” pintanya.
Lakahuna mengangguk dan membawa bunganya. Sesampainya di dapur, ia dapat melihat gerakan tangan sang Ibu yang pelan saat mengadon sesuatu. Ibunya tidak bisa membuat kue. Selalu berakhir gosong. Ia menarik perlahan pakaian ibunya dan berkata. “Ibu, Lakahuna ingin membantu.”
“Bantu Ibu memecahkan beberapa telur,” sahut si Ibu.
Lakahuna menurut. Ia menaruh bunga di samping oven lalu mengambil beberapa telur. Dengan tangan kecilnya, ada lima butir yang terpecahkan. “Sudah Ibu.Apalagi yang Lakahuna lakukan?”
“Bersama Ayah saja, Nak,” balas wanita itu.
Lakahuna menurut lagi.
Selang beberapa menit, Ibu memasukkan adonan ke oven dan berhenti sejenak dengan harapan ia tidak akan lupa memeriksa adonan agar tidak gosong. Ia bergabung dengan suaminya di ruang tamu.
“Lakahuna tidak ingin tidur siang?” tanya Ayahnya.
Lakahuna menggeleng. “Lakahuna mau makan kue buatan Ibu.”
“Ibu sisakan nanti, Nak,” sahut Ibunya. Wanita itu mengusap pelan wajah anaknya.
“Terik matahari seperti ini jangan sering ke luar rumah, Nak. Kulitmu merah nanti.”
“Ia, Ibu. Lakahuna mau makan yang hangat. Itu lebih enak. Lakahuna mau menunggu.”
Si Ibu tersenyum dan memilih ke dapur untuk memeriksa adonan kue.
“Ayah,” teriak Ibu.
Lakahuna dan Ayahnya ditarik ke dapur.
“Ada apa? Kuenya gosong?” tanya Ayah penasaran. “Bukannya udah biasa gosong? Kenapa teriak-teriak.” Pertanyaan bertubi-tubi ia lontarkan.
Namun, laki-laki itu dapat melihat bahwa adonan sang istri masih belum matang. Lalu kenapa berteriak? Ia melihat istrinya mengusap telapak tangannya.
“Tanganku tersengat lebah. Lihat ini, jarum hitamnya menempel di telunjukku.”
Si Ayah membantu istrinya mengeluarkan benda itu. Jika tidak dikeluarkan rasa sakitnya akan tertahan. Tidak mereda.
“Bagaimana bisa tersengat lebah? Apakah ada lebah di sini?” Laki-laki itu memperhatikan tiap sudut ruangan. Tidak ada hewan-hewan kecil yang beterbangan termasuk lebah.
“Dari bunga putri kita,” jawab sang istri.
“Eh, bunga Laka. Maaf Ibu, Lakahuna seharusnya tidak diletakkan di situ. Lain kali di tempat yang aman,” ucap anak kecil itu. Ia berjinjit dan memeluk bunga itu.
“Jangan dipeluk.letakkan sebab.Ayah akan diletakkan di luar lebah-lebah pasti akan datang karena wangi dari nektar yang memikat mereka.”
Setelah dari luar si Ayah menjumpai istri dan anaknya.
“Maafkan Ibu, Nak. Seharusnya Ibu senang menerima bunga itu.”
“Loh, itu tidak untuk Ibu. Itu untuk Lakahuna sendiri karena cantik seperti Lakahuna.”
Ibunya teringat sesaat lalu tersenyum. “Ibu pikir untuk Ibu karena kamu meletakkannya di samping oven. Jujurmu menyakitkan, Nak. Namun, tidak apa. Lain kali lihat dulu, ya Nak. Ada lebah atau tidak saat kamu ingin menyentuh bunga-bunga hidup.”
“Ia, Ibu. Maaf ya. Lakahuna akan membawa bunga lagi dan Lakahuna diberikan untuk Ibu dan tidak berlebah,” timpal anak itu.
