II. Lagu Kopi Susu dan Takdir
Langit Surabaya sore itu terbakar jingga, dan aroma kue tradisional berpadu dengan debu jalanan. Misri, gadis kecil dari Besuki yang baru seminggu bergabung dengan rombongan sandiwara Dardanella, duduk di sudut panggung latihan. Rambutnya digulung seadanya, wajahnya bersih meski tanpa riasan. Ia menyimak para aktor dewasa berlatih dialog dan gerakan panggung, matanya menyala—campuran kagum dan ambisi.
Rombongan itu bagaikan dunia lain. Ada pemain yang bisa menangis di tengah nyanyian, ada penari yang kakinya serupa bayangan melayang, dan ada pelatih yang suaranya lebih tajam dari cambuk. Tapi Misri tahu: inilah tempatnya sekarang.
Willy Piedro, sosok berwibawa yang menjadi pemimpin Dardanella, mulai mengamati bakat terpendam gadis itu. Ia membawa Misri ke sebuah latihan khusus. Di sana, di tengah ruangan berlantai semen dan langit-langit bocor, Misri diminta menyanyikan lagu yang dulu menarik perhatian Piedro—“Kopi Soesoe.”**
Nada pertama keluar lirih. Tapi kemudian, seperti aliran sungai yang menembus karang, suara Misri melebar. Matanya tertutup, tubuhnya bergoyang lembut, dan bait demi bait mengalun seperti mantra.
“Kopi Soesoe… manis dan hangat seperti pelukan ibu…” ia berbisik setelah selesai menyanyi.
Ruangan hening. Pelatih tari yang semula meragukannya, mendekat dengan pelan. “Anak ini punya nyawa,” katanya singkat. Willy mengangguk. Di sanalah, pertama kalinya, Misri diberi nama panggung baru: Devi Dja.
“Nama itu berarti ‘dewi dari Timur’,” ucap Willy, sambil menggambar huruf-huruf di udara dengan jarinya. “Dja untuk menari, Devi untuk bersinar.”
Transformasi dimulai. Dari kostum yang kebesaran, sepatu panggung yang menjerat kaki, dan naskah yang rumit—semuanya ditelan bulat oleh semangat Devi. Ia belajar aksen, gerakan halus tangan Jawa, dan juga improvisasi yang jadi ciri khas teater hidup.
Tapi tak semua mendukung. Beberapa pemain senior mencibir, menganggap Devi hanya ‘boneka’ yang dibawa Willy. Salah satu aktris utama bahkan berkata, “Dia cuma anak jalanan. Apa bisa ia memahami karakter Soekaesih yang berpendidikan dan lembut?”
Devi tak membalas. Ia menari lebih keras, bernyanyi lebih tulus, dan menghafal naskah sampai larut malam. Saat tokoh Soekaesih benar-benar jatuh sakit sebelum pentas besar, Willy mengambil keputusan mengejutkan: Devi yang akan menggantikan peran utama itu.
Sebagian orang protes, tapi waktu tak bisa ditunda. Di malam pertunjukan, ketika lampu panggung mulai redup dan tirai dibuka, Devi berdiri di tengah. Wajahnya tegang, bibirnya gemetar, tapi matanya tajam.
Ia melafalkan kalimat pertama sebagai Soekaesih: “Kadang cinta itu datang lewat suara. Seperti kamu, yang kutahu lewat lagu…”
Penonton terpukau. Malam itu, Devi Dja tak hanya tampil—ia bersinar.
Di belakang panggung, Willy tersenyum bangga. “Lagu Kopi Soesoe membawamu kemari,” ujarnya. “Tapi hatimu yang membawamu ke sini.”
Bersambung ….
