Buku 'A Diary Of Genoside'
Kapan perang akan berakhir? Pertanyaan itu yang bisa kita lontarkan hari ini. Ditengah kecamuk perang yang meledak di banyak negara, kita banyak mengakses dan melihat melalui berita di televisi dan media elektronik lain.
Jika melihat Indonesia saat ini yang sedang tidak stabil dalam hal ekonomi dan politik. Maka mari kita lihat betapa tidak tenangnya dunia ini sekarang. Perang di mana-mana, bahkan negara yang kita dengar damai kemarin, hari ini namanya menjadi berita utama dalam beberapa stasiun TV di Indonesia, baik nasional maupun swasta.
Banyak berita duka yang datang setiap harinya. Mulai dari bencana alam, sampai berjatuhannya korban perang. Banyak negara yang sekarang bahkan tengah mengalami konflik. Salah satunya adalah Israel dan Palestina yang masih mengalami permasalahan berkepanjangan.
Namun jika kita melihat peristiwa yang sekarang terjadi, mereka dijajah bukan hanya melalui kekerasan saja. Pertimbangan kehilangan nyawa mereka, bukan hanya takut ditembaki dan dijadikan sandera. Tapi mereka dibuat menderita dengan dibuat menderita secara pelan-pelan.
Bukan hanya mengalami luka emosi secara psikologis, tetapi kesehatan fisik merekapun semakin menurun seiring dengan memburuknya akses kesehatan dan sumber makanan. Bayi-bayi kekurangan nutrisi karena susu formula juga jadi sesuatu yang dipermainkan. Sebab, makanan dan air bersih, juga kebutuhan bayi, sulit diakses akibat blokade Israel berkepanjangan.
Peristiwa kelaparan dimana-mana, kehausan dan kebutuhan akan air bersih sangat menyiksa. Israel bukan hanya menggunakan senjata untuk membuat warga Palestina menderita. Sekarang mereka dibuat menderita seakan mereka akan dibuat mati perlahan, karena kelaparan dan akses fasilitas kesehatan yang buruk.
Sampai tulisan ini tayang, penulis merasakan sesuatu yang sangat getir. Saat ini menyadari, bahwa betapa panjangnya penderitaan mereka. Mereka bukan hanya mengalami kesulitan, namun tak tahu apakah hidupnya saat ini aman atau tidak.
Mereka kesulitan untuk bertahan hidup, bahkan untuk hari ini saja. Bersumber dari buku memoar yang terbit pada tahun 2024, berjudul “A Diary of Genocide” yang ditulis oleh Atef Abu Saif selaku Menteri Kebudayaan Otoritas Palestina. Isinya merangkum catatan perjalanan pembantaian dari tanggal 7 Oktober sampai 30 Desember 2023.
Melalui penggambaran cerita itu saja, kita bisa membayangkan bagaimana rasanya menjadi orang Gaza. Kepedihan setiap hari datang silih berganti, kehilangan orang tercinta hampir setiap hari. Bertahan hidup, dan berebut makanan dengan porsi kecil dan harus dibagi untuk seluruh anggota keluarga, tidak tidur nyenyak setiap hari.

Mengantre seharian penuh untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahan bakar, dan air. Betapa sulitnya keluar dari penderitaan, bertahun-tahun berpindah tempat tinggal, dari tenda ke pengungsian. Dari reruntuhan rumah ke rumah sakit darurat.
Kepedihan warga Gaza seakan tidak bisa diceritakan dan tidak cukup terwakilkan oleh buku berjumlah 406 halaman ini. Tidak akan habis cerita bertahun-tahun yang lalu sampai hari ini. Mereka masih menderita, dan hidup tak kunjung membaik dan aman.
Patutnya kita sebagai manusia yang lahir di Indonesia meski penuh kesulitan dan masalah setiap harinya. Tak sebanding dengan mereka yang menjalani semua ujian yang didatangkan oleh Tuhan untuk mereka. Mereka sangat kuat, jika masyarakat Indonesia sekarang mengeluhkan kestabilan politik dan ekonomi yang semakin hari semakin memburuk.
Hidup warga Palestina sudah tidak mempertanyakan hal itu. Masalah mereka sudah lebih jauh dari apa yang orang Indonesia rasakan. Tugas kita sebagai umat manusia dan beragama baiknya mendoakan bersama, agar saudara-saudara kita mendapatkan kekuatan, ketabahan dan titik temu yang baik.
Supaya peristiwa ini segera berakhir dan mereka mendapatkan ketenangan hidup dengan segera, sejak di dunia hingga akhirat.
Aamiin.
