Bulan September 2017 datang dengan pelan, seperti seseorang yang mengetuk pintu tanpa ingin mengganggu. Di antara jadwal membaca dan menulis yang tak pernah Kuring rancang dengan teratur, datang sepucuk surat elektronik dari panitia Seminar Internasional Sastera Melayu Islam di Kuala Lumpur.
Isinya singkat: undangan sebagai salah satu tamu kehormatan dan pembaca puisi dari Indonesia. Di bawah nama dan logo acara yang resmi, tertera daftar nama undangan dari berbagai negara—Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Rusia, dan beberapa negara Asia Tengah.
Ia membaca undangan itu berulang kali. Bukan karena tak percaya, tapi karena tak tahu harus merasa apa. Sudah lama ia tak menghadiri acara sebesar ini. Tapi sesuatu dalam dirinya—yang dulu selalu enggan tampil—kini tidak serta-merta menolak.
Ia membuka map biru tempat menyimpan catatan puisi. Di antara lembaran yang penuh coretan, matanya menangkap satu nama: Sekar. Entah mengapa, nama itu muncul bersamaan dengan dorongan untuk menjawab undangan tersebut dengan satu kata: Ya.
Minggu kedua September, Kuring tiba di Kuala Lumpur. Bandar udara begitu ramai, tapi ia berjalan dengan langkah tenang. Ia dijemput oleh panitia lokal—seorang pria muda yang memperkenalkan diri dengan sopan, lalu membawanya ke hotel tempat seluruh tamu menginap.
Hotel itu tidak mewah, tapi nyaman. Di lorong panjang menuju kamarnya, Kuring melihat poster-poster acara: wajah-wajah penyair dari berbagai penjuru Asia menatap balik dari balik bingkai kertas.
Dan di sudut poster utama—foto Sekar.
Ia berdiri di sana, dengan latar hutan bambu dan sepenggal puisi pendek di bawahnya. Puisi yang ia ingat pernah Sekar baca di malam yang dingin di Cisurupan.
“Kalau kamu mendengar suaraku dalam angin, biarkan aku hanya sebutir embun yang tidak memaksa jatuh.”
Pertemuan mereka terjadi di lobi hotel, tidak sengaja. Sekar mengenakan blouse putih dan rok panjang. Rambutnya tetap pendek, matanya tetap tenang.
“Pak Kuring?” katanya sambil tersenyum.
“Sekar,” jawab Kuring, kaget, tapi senang. “Kamu juga diundang?”
“Saya baru diberitahu dua minggu lalu. Mereka membaca puisi saya yang dimuat di jurnal Asia Tenggara.”
Mereka duduk berdua di sofa lobi, berbicara ringan. Tidak seperti dua orang yang lama tak bertemu, tapi seperti dua waktu yang bersambung tanpa jeda. Kuring merasa, dalam percakapan itu, tak perlu ada penjelasan tentang masa lalu. Sekar tak bertanya. Dan Kuring tak menjelaskan.
Hari pertama seminar berlangsung meriah. Aula besar penuh oleh peserta dari berbagai negara. Bahasa Melayu, Inggris, Thailand, Arab, dan Rusia bersahutan dalam panel-panel diskusi, pembacaan puisi, dan debat kecil tentang estetika dan makna dalam sastera Islam.
Kuring membaca puisinya di sesi siang. Ia memilih puisi yang tak panjang. Bercerita tentang malam, tentang kehilangan yang disimpan di dalam dada, dan tentang suara-suara yang akhirnya berani keluar. Ketika ia selesai, tepuk tangan terdengar sopan, tidak berlebihan, tapi tulus.
Di antara hadirin, Sekar duduk di barisan depan, matanya tak lepas dari panggung. Kuring menangkap tatapannya, lalu menunduk pelan.
Giliran Sekar membaca puisi terjadi keesokan harinya. Ia membacakan dua puisi—satu tentang perjalanan, satu tentang kesunyian yang dipelajari dari alam. Suaranya tenang, tapi kuat. Tidak dramatis. Tidak menuntut perhatian. Tapi justru karena itulah hadirin diam mendengarkannya, seakan angin yang pelan justru lebih menyejukkan dibanding petir.
Usai sesi, mereka berjalan berdua di taman kecil di belakang gedung seminar.
“Kamu menulis dengan sangat jujur,” kata Kuring.
“Saya hanya menulis kalau tidak bisa berkata-kata,” jawab Sekar.
“Dan sekarang? Kamu bisa berkata-kata?”
Sekar tertawa. “Sedikit. Tapi lebih suka tetap menulis.”

Mereka duduk di bangku taman, dikelilingi bunga kertas dan semilir angin sore.
Malam terakhir di Kuala Lumpur diisi jamuan makan malam untuk semua peserta. Meja bundar besar dipenuhi makanan khas Melayu, dan percakapan lintas bahasa. Tapi Kuring dan Sekar duduk di meja kecil di tepi ruangan, berbagi teh tarik dan percakapan pendek.
“Apa kamu pernah berpikir untuk menulis naskah bersama?” tanya Sekar tiba-tiba.
Kuring menoleh. “Kenapa?”
“Entah. Rasanya… kata-kata kita punya akar yang sama. Tapi cabangnya berbeda. Mungkin menarik kalau disatukan.”
Kuring tersenyum. Lalu berkata, “Boleh. Tapi dengan satu syarat.”
“Apa?”
“Tidak harus selesai.”
Sekar tertawa kecil. “Itu syarat yang justru paling masuk akal.”
Malam itu, di kamar hotelnya, Kuring menulis:
Catatan Keenambelas:
“Beberapa pertemuan tidak membawa kita kembali ke masa lalu. Tapi menuntun kita pada masa depan yang lebih lembut. Aku tidak tahu ke mana ini akan berlanjut. Tapi untuk kali ini, aku tak keberatan berjalan beriringan.”
________________________________________
