SDN Indragiri 1 (gambar: bu guru Yayah)
Saya adalah generasi milenial yang merasakan kenangan indah saat perpisahan ketika lulus Sekolah Dasar. Tanpa wisuda sekolah dan tanpa banyak mengeluarkan biaya. Anak tetapi acara yang diselenggarakan waktu itu begitu meriah dan berkesan buat kami.
Saya yakin, yang sama-sama lulus bareng dengan saya merasakan hal yang sama.
Kami tinggal di sebuah desa yang jauh dari kota. Desa Indragiri Kecamatan Panawangan namanya. Sekolah kami berada di daerah persawahan. Lokasinya memang dikelilingi dengan sawah dan pemandangannya pun sangat indah memanjakan mata. Setiap hari kami akan dimanjakan dengan udara yang segar, sepoi angin yang sejuk, suara cicit burung yang bahkan masih terdengar di area sekolah kami karena ditumbuhi pepohonan yang dirawat baik oleh penjaga sekolah yang baik hati.
Jika tahun ajaran akan berakhir, guru-guru akan sibuk melatih kami untuk menjadi “artis dadakan” yang akan naik ke panggung saat pesta kenaikan kelas dan perpisahan. Guru-guru sangat telaten melatih kami. Bahkan seolah sengaja, kalau ada anak yang masih pemalu, bapak dan ibu guru akan membuatnya tampil percaya diri di atas panggung dengan memberinya tugas khusus. Sehingga itu menjadi kejutan yang sangat istimewa. Para penonton yang notabene adalah para orang tua dan penduduk desa berdecak kagum sambil bergumam, “kok bisa ya. Padahal anak itu kan pemalu.”

Berbagai pertunjukkan disiapkan. Ada yang idenya berasal dari siswa, ada juga yang memang sudah disiapkan bapa dan ibu guru, seperti drama musikal, calung, gondang khas Sunda, tarian tradisional, serta tampilan kawih yang diiringi dengan degung dan kecapi suling. Adapun tampilan yang berasal dari ide siswa biasanya berupa gerak dan lagu (dance) yang latihan masing-masing tanpa bimbingan ibu dan bapa guru.
Satu yang luar biasanya, di sekolah kami ibu dan bapak guru semuanya bisa menabuh gamelan. Jadi ketika pembukaan acara, ibu dan bapak guru menabuh gamelan sekaligus lengkap dengan juru kawih/sinden.
Acara menjadi begitu meriah dan membuat penonton terpukau karena ibu dan bapak gurunya menampilkan “kabisa” dengan sangat kompak.
Para wali kelas duduk di belakang gamelan tabuhannya masing-masing, guru agama menjadi juru kendang dan guru yang dikenal paling serius dan galak ternyata adalah seorang pemain suling sunda yang sangat andal. Masyaalah, mengesankan.
Hari perpisahan sekolah adalah hari yang sangat sibuk. Ibu dan bapa guru yang hanya beberapa orang saja itu dengan hebatnya menangani acara. Semua sibuk sejak jauh-jauh hari. Ada yang menjadi pembawa acara, penanggung jawab konsumsi (karena semua undangan dan orang tua siswa akan dipersilahkan makan prasmanan saat kenaikan kelas), ada juga yang sudah sibuk merias wajah siswa yang akan tampil ke panggung sejak pagi buta.
Secara bergantian para siswa tampil sesuai urutan acara. Kostum yang digunakan pun hampir semuanya menggunakan bahan dan barang yang ada. Ibu dan bapak guru akan membantu membuat dan menyediakannya secara bersama-sama. Ada yang dibuat dari kertas ermas atau kertas craft, tali rafia yang disisir dengan sikat kawat, dari kain samping/sarung, selendang warna-warni yang dipinjam dari siapapun yang memilikinya. Semua kebutuhan akan diumumkan oleh ibu guru dan yang memilikinya akan dibawa (dipinjamkan) ke sekolah untuk properti tampilan.
Saat pementasan berlangsung, penonton bersorak, terkesan. Dag dig dug dalam hati pun semakin berdentum bersahutan dengan suara alunan lagu, musik pengiring atau hentakkan kendang pak guru.

Tampilan demi tampilan akan dijeda dengan pidato kepala sekolah, komite, kepala desa, perwakilan tamu dari dinas pendidikan, serta pengumuman dan pemberian hadiah kepada siswa yang berprestasi.
Hadiah Istimewa yang Lain daripada yang Lain
Nah, bagian ini saya yakin tidak akan ada di sekolah lain. Ketika pembagian hadiah kepada siswa berprestasi terutama kelas 6 yang lulus, ada hadiah istimewa yang diberikan sekolah kepada siswanya yang berprestasi. Sekolah akan menghadiahkan buku dan alat tulis yang dibungkus dengan rapi dan sebuah piala hidup yang memang bisa hidup seumur hidup – sebuah kitri (tunas kelapa) hidup untuk kemudian kami tanam di pekarangan rumah/kebun kami sendiri.
Sekolah kami tidak memberikan piala. Namun memberikan hadiah berupa buku untuk dipakai sekolah dan pohon hidup yang penuh manfaat. Seolah ingin membuat kami teru sbelajar agar bisa seperti pohon kelapa yang kaya manfaat itu. Kitri-kitri itu berasal dari buah kelapa dari kebun sekolah yang disemai di samping bangunan kelas (tempat khusus pembibitan). Setiap tahunnya akan berkurang dibawa anak berprestasi yang melanjutkan ke jenjang berikutnya. Sayangnya, konon budaya ini sudah tidak ada lagi kini.
Dengan bangga, pohon kelapa milik saya pun masih tumbuh dan berbuah hingga sekarang. Jika pulang ke kampung halaman, maka saya akan memandanginya dengan penuh takjub dan sesekali diceritakan asal muasalnya kepada anak, suami dan siapapun yang kebetulan berkunjung.
Perpisahan dan Pelepasan Siswa adalah Puncak Acara
Satu momen yang paling berkesan adalah pelepasan siswa kelas 6 yang sengaja disimpan di susunan acara paling ujung sebelum ditutup dengan doa.
Di awal bapak kepala sekolah telah menyampaikan kepada orang tua kelas 6 bahwa kami dikembalikan lagi kepada orang tua.
Siswa kelas 6 yang akan dilepas naik ke panggung semua, menyanyikan lagu perpisahan dengan lirik yang bermakna dalam. Ada yang berbahasa indonesia dan ada juga yang berbahasa Sunda.
Di awal tampilan, semuanya masih fokus bernyanyi dengan suara maksimal sebagai paduan suara sesuai ketika latihan. Sampai pada akhirnya, nyanyian kami berhenti, tinggallah melodi-melodi lagu perpisahan yang dibuat melow.
Di belakang layar, satu orang perwakilan guru (biasanya wali kelas 6) membacakan puisi yang berisi nasihat kepada siswa yang akan meninggalkan jenjang Sekolah Dasar. Suaranya yang menggema, menciptakan sayatan hingga ke relung hati.
Puisi itu dibacakan dengan nada sedih, membuat yang mendengarnya menitikkan air mata. Entah siapa yang membuat naskah itu, rasanya menyayat hati dan membuat kami tidak bisa menahan tangisan.
Itu mengingatkan kami pada dosa, mengingatkan kami pada pengorbanan orang tua dan menyadarkan kami bahwa kami tidak boleh main-main lagi. Harus meneruskan perjuangan yang belum seberapa bahkan baru akan dimulai di jenjang berikutnya.
Bait-bait puisi itu mengingatkan kami bahwa di tempat lain setelah itu, kami harus bertanggung jawab pada diri, membawa nama baik pribadi, keluarga dan membuat bangga orang tua dan almamater tentunya.
Belum juga reda tangisan kami karena mendengar puisi nasihat itu, seseorang yang suaranya nyaris tidak pernah kami dengar sebelumnya, malah menambah rasa sakit di dada kami. Ia membacakan puisi sebagai jawaban dari puisi yang tadi. Apa yang ia bacakan, benar-benar mewakili isi hati kami sebagai siswa. Membuat kami kembali sadar dan sadar.
Tanpa sengaja kami pun menemukan fakta, bahwa semua penonton pun ikt larut dalam momen itu. Beberapa menyeka air mata dengan sapu tangan atau lengan bajunya. Bahkan ada yang saling memeluk seolah saling menguatkan. “Keajaiban apa lagi ini?” bisik kami dalam hati.
Setelah itu, ibu dan bapak guru akan berjajar di bagian depan panggung. Satu per satu dari kami diminta mengantre menyalami ibu dan bapak guru. Kami menyalami orang-orang yang selama 6 tahun sudah sangat berjasa. Dengan hati yang pilu enggan berpisah, kami menangis dalam pelukan bapak dan ibu guru. Sambil memeluk kami dengan kasih sayang, bapa dan ibu guru membisikkan pesan personal yang diucapkan kepada kami. Membuat tangisan kami semakin pecah. Bahu berguncang tidak karuan.
Setelah menyalami ibu dan bapak guru, kami saling berpelukan sesama teman. Kenangan demi kenangan tentang kebersamaan kami kembali tayang di kepala. Dan hebatnya, ketika kami saling merangkul, musik pilu yang semula dikecilkan menjadi menggema lagi lebih menusuk hati kami. Sedih dan semakin sedih.
Musik mulai mengecil kembali dengan perlahan. Dengan nada yang sendu, pembawa acara mempersilahkan pembaca doa untuk menutup rangkaian acara. Namun lagi-lagi bunyi doa dan harapan yang dibacakan menyentuh hati kami.
Doa selesai, acara selesai, penonton mulai bubar menuju luar aula acara, mungkin mereka melanjutkan jajan, berburu makanan yang dijajakan penjual di luar aula. Sedangkan kami masih saling berpesan meminta agar tidak saling melupakan satu sama lain.
Sungguh kejadian itu tidak akan pernah kami lupakan. Kesedihan yang membuat kami semakin kuat dan siap menyongsong masa depan.
Ibu dan bapak guru yang hari ini ada yang sudah mulai purna bakti, ada pula yang masih mengabdi, saya mewakili alumni mengucapkan terima kasih yang tidak terhingga. Terima kasih sudah membuat acara yang begitu berkesan. Terima kasih juga sudah membuat kami merasakan suasana perpisahan tanpa acara wisuda sekolah yang wah tetapi bagi kami sangat lah istimewa.
Doa terbaik dari kami untuk ibu dan bapak semua. Semoga Allah membalas semua kebaikan bapa dan ibu semua dengan surga-Nya. Aamiin ya robbal alamiin.
** Artikel ini sudah tayang di Kompasiana.com
