Ilustrasi Gambar: Priscilla Du Preez
Setiap kali angin lebaran berhembus, membawa aroma anyar kain dan kembang melati yang mekar di pekarangan, wajah Ibu kembali hadir dalam ingatan. Seperti bayangan yang tak mau pergi, dia tersenyum lembut dengan bungkusan kertas cokelat di tangan—pakaian baru untuk kami, anak-anaknya. Saat itu, kami tak pernah tahu betapa berat keringat yang harus ia kucurkan hanya untuk memastikan kami bisa tersenyum ceria di pagi Idulfitri. Kami bukan keluarga berada. Baju baru adalah kemewahan yang harus direncanakan berbulan-bulan, dihitung dengan uang receh yang ditabung di celengan tanah liat, atau kadang dipinjam dari tetangga baik hati. Tapi bagi Ibu, itu bukan sekadar baju. Itu adalah mahkota untuk anak-anaknya yang ia rajut dengan tangan penuh doa.
Aku masih ingat betul, dua minggu sebelum lebaran, Ibu akan pulang dengan langkah lelah sembari menyembunyikan bungkusan di balik punggungnya. “Jangan buka dulu, nanti hilang keajaibannya,” katanya sambil terkekeh. Malamnya, dari balik pintu kamar, aku mendengar suara mesin jahit tua berderit. Ibu menjahit sendiri keliman yang longgar, atau menambahkan renda sederhana di ujung lengan agar bajunya terlihat istimewa. Kadang matanya sembap karena begadang, tapi di pagi hari, dia tetap menyiapkan sarapan dengan wajah cerah, seolah semalam tak terjadi apa-apa.
Kini, aku telah menjadi ayah dari dua anak yang mulai beranjak remaja. Di sudut lemari, istriku menyimpan gulungan kain batik dan koko yang akan dijadikan baju seragam keluarga. “Ayah, nanti kita pakai motif yang sama, ya?” ujar anak bungsuku tahun lalu, matanya berbinar meski tak lagi meminta sepatu baru atau baju bermerek. Mereka tumbuh dalam kehangatan yang berbeda: tak lagi merengek seperti dulu, karena tahu ibunya telah menyiapkan segalanya dengan teliti. Tapi di balik rutinitas yang terlihat sempurna ini, ada rindu yang mengganjal.
Aku ingin sekali merasakan lagi sensasi menggenggam tangan Ibu, berjalan ke pasar menjelang lebaran, menyaksikan dia tawar-menawar harga kain dengan pedagang yang kadang tak sabaran. “Yang penting anak-anak bahagia,” bisiknya suatu kali, saat aku memergokinya memilih baju bekas yang masih bagus untuk dirinya sendiri, sementara kami mendapat yang baru. Kini, barulah aku mengerti: kebahagiaan kami adalah puisi terindah yang ia tulis dengan air mata dan tetesan keringat.
Lebaran tiba lagi. Istriku sibuk memotong pola kain di meja makan, anak-anak tertawa riang mencoba baju koko yang sedikit kebesaran. Tapi di tengah keriangan ini, ada ruang kosong yang tak tergantikan. Aku memandang langit-langit rumah, membayangkan Ibu sedang tersenyum dari sana. “Terima kasih, Yah, untuk bajunya!” seru anakku memecah lamunan. Aku tersentak, lalu tersenyum getir. Persis seperti yang dulu Ibu lakukan: memberi tanpa pernah mengeluh, mencintai tanpa pernah menuntut balasan.
Mungkin inilah lingkaran cinta yang tak pernah putus: seorang ibu yang berkorban, lalu anaknya yang tumbuh menjadi orang tua yang memahami arti pengorbanan itu. Baju lebaran tak lagi menjadi rebutan, tapi aroma kain baru dan senyum anak-anak tetap menjadi ritual sakral yang menghubungkan kami dengan kenangan tentang Ibu. Di setiap jahitan baju seragam ini, aku menyelipkan doa agar dia tenang di sana, tahu bahwa cucu-cucunya bahagia—dengan cara yang mungkin berbeda, tapi dengan cinta yang sama persis seperti yang ia tanamkan dulu: tulus, tak bersyarat, dan abadi.
Namun, di balik semua itu, kadang aku masih ingin menjadi anak kecil lagi. Berdiri di teras rumah lama, menanti Ibu pulang dengan bungkusan kertas cokelat di tangan, dan berkata, “Ini untukmu, Nak. Selamat Hari Raya.”
