Saya pernah melihat satu penggalan video yang isi kalimatnya begini, “Bahasa cinta laki-laki adalah upaya.” Kalimat itu disampaikan oleh Ning Imas Fatimatuzzahra, sebagai narasumber dalam acara tersebut. Banyak sumber lain yang mengatakan hal demikian dan menyetujui statement tersebut.
Bahasa cinta laki-laki adalah upaya, usaha, mengusahakan. Sumber lain mengatakan, laki-laki menunjukan rasa cintanya dengan memberi. Sebuah fakta yang menyakitkan bagi laki-laki adalah keadaan yang mengharuskan mereka untuk terus menyediakan, memberikan, dan mengupayakan agar tetap dicintai.
Sayangnya, makna ini menjadi berlawanan arah ketika orang-orang yang memahaminya sedang merasa dalam titik yang bukan dia inginkan. Seperti ketika seorang laki-laki yang kehilangan pekerjaan dan berpenghasilan sedikit, sedangkan dia merasa lemah dan rendah. Dirinya selalu merasa bahwa saat itu adalah waktu datangnya kesulitan, dan sesuatu yang sangat menyakitkan untuknya.
Seakan-akan telah habis usaha dan materi yang ia curahkan, dalam benaknya terpikir. Apalagi yang harus diberikan? Apalagi yang harus dipersembahkan agar bisa dicintai? Nampaknya hal ini sangat kompleks jika dilihat dari sudut pandang perempuan.
Perempuan akan merasa dicintai ketika diberi, sementara laki-laki merasa dihargai ketika dia dibutuhkan dan dilibatkan dalam banyak hal. Lantas ketika laki-laki telah berupaya dan telah memberikan segala kemampuannya tapi tetap tidak dihargai? Apalagi yang harus dilakukan?
Setelah pria memaksimalkan usaha apa saja yang dia bisa diberikan, kita bisa melihat sisi lain dari dirinya. Apakah dia masih memperlakukan perempuannya dengan penuh cinta, kasih dan sayang? Bahkan sebagai perempuan, kita tidak banyak menyadari jika kehadiran laki-laki pun adalah bentuk cinta.
Memberikan perlindungan dan rasa aman adalah poin kecil dari upaya laki-laki untuk keluarganya yang jarang diapresiasi perempuan. Padahal, hari-hari yang damai adalah dambaan semua keluarga, bukan hanya ketersediaan materi, tapi tentramnya keluarga akan menjadi sesuatu yang berharga jika kita menyadarinya. Cinta akan menggerakkan sendiri perasaan berupaya itu.
Tak heran banyak laki-laki yang semangat bekerja dan berubah menjadi lebih baik untuk mempertahankan perempuan yang dicintainya. Hati yang penuh cinta akan menimbulkan upaya yang lebih besar, cinta akan memancing perasaan lebih giat dan semangat yang lebih membara. Bukan hanya dalam hal materi saja, tapi laki-laki yang menyediakan kasih sayang, menyediakan rasa aman, juga hati yang lembut, itu sudah sangat istimewa.
Bagi banyak perempuan, kehidupan akan terdengar lebih sulit ketika memutuskan untuk menikah dengan laki-laki nerpenghasilan pas-pasan. Tetapi, ketika sesama pasangan saling menghargai dan membentuk bahasa cinta yang mudah dipahami. Maka, upaya laki-laki untuk keluarganya dalam bentuk apapun, akan tetap dihargai.
Sebagai perempuan yang penuh cinta pula, baiknya kita mengerti, bahwa bentuk cinta seorang laki-laki bukan hanya diukur dari ketersediaan materi dan kemudahan melakukan banyak hal. Tapi menemani dengan setia di setiap langkah kecil laki-laki, akan sangat mereka hargai. Sebab cinta memuat banyak hal didalamnya, termasuk kesetiaan.
Ada nasihat populer bagi perempuan yang mengatakan bahwa, cari laki-laki yang takaran cintanya lebih darimu. Benar saja, faktanya laki-laki dengan upaya yang paling besarlah yang berhasil memikat banyak perempuan. Mereka yang serius memperjuangkan akan cepat mendapat tempat di hati para perempuan.
Laki-laki dengan istilah Mokondo (Modal Komitmen Doang) menjadi hal yang ditakuti perempuan. Karena laki-laki seperti itu biasanya sangat ingin dimengerti. Tanpa disadari oleh banyak perempuan, justru laki-laki seperti inilah yang biasanya ingin didukung dan diperjuangkan.
Laki-laki berkekurangan bukan berarti tidak cinta, lihatlah seberapa besar upaya yang telah ia berikan pada kita, itulah cinta. Ketika mereka telah cukup mengusahakan kita, ketika mereka telah kepayahan memberikan kita segalanya, tinggal kita yang mengubah cara pandang kita dalam hal mencintai. Dicintai bukan hanya dianggap spesial dan diratukan, tapi ketika kita menjadi perempuan pertama yang dicari dan dirindukan.
