Siang itu aku mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan. Sedikit latah, mengikuti trend tahunan; berburu baju lebaran.
Meskipun tidak berminat mencari baju baru karena koleksi gamis masih cukup di lemari, tetapi desakan tradisi mendorong kakiku melangkah pergi. Terlebih suami berbisik, “anak-anak harus beli baju,” katanya.
Melihat orang begitu berjubel di area fashion, mood untuk hunting baju anak pun semakin hilang. Namun sekali lagi, karena harus “memperbarui” baju anak akhirnya ya dijalani saja. Kakiku mengikuti kemana langkah para krucil berkeliling, mencari baju. Yang entah bentukan apa yang mereka cari. Ini bukan, yang itu juga bukan.
Setelah terasa pegal kaki, akhirnya cuma dua buah kaus diskonan dan sebuah koko warna krem yang dipilihnya. Kurasa, memang sesuai budget. Harganya tidak terlalu mahal. Namun pantas dan memang keren.
Tibalah saatnya mengantre di depan kasa. Antrean yang mengular membuat anak-anak mundur dan pamit, “kami keluar duluan,” katanya.
Aku mengagguk setuju dan bersabar menunggu giliran.
Kami dilayani oleh empat orang kasir cantik dengan dandanan serupa. Pakaian berwarna hitam khas swalayan terkenal. Melayani setiap peganggan dengan sangat ramah.
Tibalah aku di urutan kedua. Ibu di depanku belanjaannya sangat banyak. Sehingga antrean di sebelah sudah maju dua orang giliran.
Tibalah seorang bapak tua dengan pakaian sedikit lusuh. Tampak di wajahnya ekspresi kebanggaan karena ikut mengantre di sana.
