“Mungkin karena kita sudah tua,” kataku pelan.
Kalimat itu terdengar begitu sumbang di telingaku sendiri. Sebab, di satu sisi, aku masih ingin menggolongkan diri sebagai kaum muda—mereka yang bisa tertawa lepas, pergi sesuka hati, dan menjalani hari tanpa harus memikirkan tanggung jawab besar. Mereka yang masih bebas ha-ha-hi-hi, nongkrong, jalan-jalan, makan di tempat yang asyik dan sedang hits.
Sementara aku? Usia nyaris menyentuh kepala empat. Meski tubuh dan wajahku belum banyak berubah—belum keriput, masih segar, fisik pun rasanya masih sanggup diadu dengan mereka yang lebih muda—nyatanya hidup tak lagi sama. Ada peran, ada tanggung jawab, ada kewajiban yang tak bisa diabaikan begitu saja. Begitulah adanya, mau tidak mau harus diterima.
Seperti saat ini, ketika tugasku bukan lagi sekadar menenangkan diri sendiri, tetapi juga menenangkan istriku. Meyakinkannya bahwa tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan cepat dan mudah. Ada perkara-perkara yang memang tidak punya jalan keluar instan. Ada situasi yang terpaksa harus diterima, dengan satu-satunya solusi bernama saling pengertian.
Perbedaan usia yang cukup jauh, misalnya. Meski aku sudah berusaha menyesuaikan diri—memahami cara berpikirnya, mencoba mengikuti gaya pergaulannya, memposisikan diri sebagai kakak, saudara, bahkan sesekali seperti orang tua—tetap saja ada sekat yang tak sepenuhnya bisa ditembus. Perbedaan itu nyata, dan terkadang terasa begitu kentara.
“Aku masih muda!” sanggahnya sambil memanyunkan bibir.
Perempuan di hadapanku itu tetap keras kepala. Dan lucunya, ia tak jarang mengakui sendiri sifat itu. Kadang aku justru menjadikannya bahan bercanda.
“Maafkan aku kalau suatu saat keras kepalaku keluar sejadinya,” katanya suatu kali. Suaranya datar, tanpa nada manja, seperti sedang berbicara dengan klien, rekan kerja, atau atasannya—nada yang menuntut kehati-hatian.
“Gak apa-apa,” jawabku sengaja santai, “biar kurebus nanti kepalanya, biar empuk.”
Sekejap, raut wajahnya berubah kesal. Namun tak lama kemudian, sifat manjanya muncul juga. Ekspresi itu entah bagaimana selalu berhasil membuatku merasa dihargai—merasa benar-benar menjadi suami.
“Aku bingung harus bersikap bagaimana,” keluhnya lagi. “Diingatkan sudah, diajak bicara juga sudah. Harus dengan cara apa supaya semuanya bisa kondusif?”
Aku terdiam. Masalah yang bagiku tampak kecil itu rupanya menumpuk pelan-pelan di kepalanya. Aku baru menyadari, sekecil apa pun persoalan, jika terus dibiarkan, pada akhirnya akan menjadi beban juga—bahkan bagi kepala yang sekeras batu sekalipun.
Dan mungkin, di situlah tugasku sebenarnya: bukan menyelesaikan semuanya, melainkan menemani, mendengarkan, dan tetap tinggal, meski tidak selalu ada jawaban.
