
Hujanku tak lagi dingin ketika deru rinduku menginginkan pertemuan denganmu yang sejak lama sudah kutunggu. Deretan tugas yang selalu mengular memenjarakanku dari rutinitas lain kecuali bekerja keras yang entah untuk siapa. Bahkan diriku sendiri rasanya tidak sempat merasakan hasil jerih payah ini.
Hari-hari kulaui hanya untuk bekerja. Mengatur schedule, mencatat hasil meeting, dan ikut kemana bosku pergi. Lelah? Tentu saja. Namun, ah, entah. Yang aku tahu hanyalah bagaimana menyelesaikan hari-hari tanpa masalah. Tanpa jadwal yang keliru, tanpa terlambat datang, dan atau melewatkan satu meeting penting untuk institusi. Tanpa kemarahan bos tentunya.
Kupandangi tumpukan kertas yang kian banyak. Layar laptop yang semakin hari rasanya semakin membosankan. Gemericik hujan terdengar samar di balik jendela.
Sesekali aku menoleh ke luar ruangan. Hanya gedung-gedung perkuliahan yang ku dapati. Beberapa pohon berkerja keras untuk membuat kampus ini sedikit lebih asri.
“A, kamu lagi apa?” Pertanyaan itu biasanya kudapatkan dari Hani di tengah kesibukan begini. Sayangnya hari ini tak kutemukan satu pun pesannya di ponselku.
Hani adalah perempuan cantik satu almamater. Kerap bertemu di acara temu alumni. Usia kami terpaut cukup jauh. Hanya saja, siapa yang bisa menolak cinta tumbuh dalam dada? Sayangnya ketika aku mau memberanikan diri menyatakan cintaku dulu, Hani sedang menjalani cinta dengan seseorang, teman kuliahnya. Belakangan, ketika aku bersama yang lain Hani malah putus di tengah jalan. Ya, kisah asmara memang serumit itu.
Aku melihat Hani sebagai gadis cantik yang selalu ceria. Otaknya cerdas, tindak-tanduknya tersusun rapi. Namun semua itu tidak lantas membuatnya terkesan so old. Hani justru selalu riang gembira seperti gadis-gadis. Ya, Hani tetap awet muda. Ah, hari ini aku merindukannya.
Udara dingin menelusup ke pori kulit. Jenuh memuncak. Aku mencoba membuka pesan-pesan lama Hani di ponselku. Tidak terasa senyum-senyum sendiri.
Hujan makin deras. Ini masih pukul 15. Ku tekan tombol panggil ke nomor Hani.
“Hallo, iya A…? Apa kabar?”
Suara Hani menjawab teleponku. Seperti biasa Shafa selalu terdengar renyah.
“Kamu di mana? Aa ke sana boleh ya?”
Tiba-tiba kalimat itu terlontar begitu saja. Hani pasti kaget. Selama ini aku tidak pernah berani senekat ini.
Hani adalah cintaku sejak kuliah dulu. Tetapi tidak pernah berani berbuat lebih selain tetap menjaga silaturahmi sebagai sesama alumni. Hani tahu aku menyukainya, tetapi ia selalu bilang, “jangan begitu, cukup Teh Donna di hati Aa.”
“Boleh ya?” aku sedikit memaksa.
“Mau apa? Hani lagi dinas luar?”
Tak lama kemudian, telepon terputus.
Hani mungkin tidak percaya jika aku akan benar-benar menemuinya kali ini. Namun aku tak peduli, meskipun harus menerjang badai, aku akan tetap menunaikan rinduku padanya.
Hujanku tak lagi dingin, ketika kakiku menginjak pedal gas. Kenangan demi kenangan menari di kepala menemaniku sepanjang perjalanan.
Mobil ku berhetikan di lokasi dimana mbak google bicara bahwa aku sudah sampai di tempat tujuan.
Asing, tidak kutemukan tanda-tanda tempat Hani bekerja. Gedung-gedung berdiri tidak beraturan, “apakah benar ini tempatnya?” gumamku.
“Hallo, Han. Kamu di mana? Aa sudah di tempat kamu.”
“Wah, masa?” Jawabnya diiringi dengan gelak tawa renyahnya.
Benar saja, Hani benar-benar tidak percaya aku datang mencarinya.
Masih dengan candanya, Hani malah menyuruhku pulang kembali karena dia sedang tidak ada di tempat.
“Lain kali kalau datang bilang dulu. Gak bakalan begini ceritanya, ha ha ha,” gelak Hani.
Ah, kamu, Hani!
Aku mengirim beberapa pesan berusaha merayu Hani agar mau menemuiku. Aku masih yakin jika Hani ada di sekitar tempat aku menunggu kini.
Namun balasan Hani masih sama, “Aku lagi dinas luar.”
Aku mulai putus asa dan merasa begitu bodoh. Beberapa pesan masuk tidak sengaja kubaca di ponselku.
“Ayah kamu di mana? Bunda butuh bantuan, bisa?”
Seketika dadaku terkesiap. Hani memang benar, cukup Donna saja yang seharusnya ada di hati dan pikiranku.
“Hallo, Han. Beneran nih gak akan mau ketemu? Kamu di mana sih? Coba share lokasi! Aa ke sana ya!”
“Pulang saja!”
Dua kata balasan dari Hani membuatku semakin sadar. Bukan hanya karena Hani sedang sibuk. Namun rupanya ia pun tidak pernah mau kutemui.
Hujanku tak lagi dingin. Deru rindu pada Hani, tiba-tiba padam. Berubah menjadi rasa was-was yang semakin memanas.
Ponselku berdering.
“Hallo, Ayah, pulang jam berapa malam ini?”
Kunyalakan mesin, segera memutar kemudi. Akhirnya aku kembali pulang menuju tempat kerjaku lagi.
Hujanku tak lagi dingin. Meskipun semakin derasa turun membasahi bumi. Menyiram ketololanku yang telah bertindak bodoh hari ini.
