Ya, judulnya memang begitu. Sekantong ramen kiriman orang Qatar.
Mungkin terdengar sedikit norak. Kenapa hanya karena mendapatkan kiriman makanan harus saya ceritakan di sini? Toh, bagi sebagian orang, ramen mungkin hanya makanan biasa. Bisa dibeli kapan saja kalau sedang ingin makan.
Tetapi bagi saya, ramen dua porsi yang datang sore ini bukan sekadar ramen.
Ada cerita panjang di balik sekantong makanan yang tiba di rumah saya, di sebuah tempat yang menurut saya cukup jauh dari keramaian. Cerita tentang jarak, teknologi, persahabatan, kesuksesan, dan tentu saja tentang sebuah niat baik yang ternyata bisa menyeberangi negara.
Siang tadi saya mendapatkan pesan WhatsApp dari seorang teman yang tinggal di Doha, Qatar. Ia meminta alamat lengkap saya. Awalnya saya tidak menaruh curiga. Mungkin saja ada hubungannya dengan pengiriman dokumen atau sesuatu yang berkaitan dengan kerja sama yang sedang kami lakukan.
Ternyata, pertanyaan berikutnya justru membuat saya mulai bertanya-tanya.
“Apakah hari ini ada di rumah?”
Saya pun balik bertanya, “Memangnya mau mengirim sesuatu?”
Ternyata benar. Ia memang akan mengirimkan sesuatu ke rumah saya.
Saya bilang hari itu saya baru akan pulang sekitar pukul empat sore karena setiap Senin saya rutin mengikuti kajian agama. Sementara itu, ia mengatakan paket tersebut diperkirakan sampai sekitar pukul tiga.
“Kalau pergi, ada orang di rumah yang bisa ditemui?”
Untungnya ada kakak ipar yang rumahnya berada di depan rumah saya. Saya pun berangkat kajian dengan tenang.
Di tengah kajian, telepon masuk.
Ternyata dari kurir. Paketnya sudah sampai.
Saat pulang, saya langsung mengecek apa yang dikirimkan. Ternyata sebuah kantong berisi dua porsi ramen.
Ramen itu dikirimkan oleh Kang Bagja Nugraha Kurniawan, seorang teman yang sekarang tinggal di Doha, Qatar. Ia memesankan “Ramen Ya” dari tempat terdekat dengan rumah saya (itu pun masih berjarak satu jam lamanya jika perjalanan normal). kemudian mengirimkannya langsung ke alamat saya.
Saya sampai berpikir, bagaimana mungkin seseorang yang berada ribuan kilometer jauhnya bisa tiba-tiba mengirimkan makanan ke rumah saya yang lokasinya cukup jauh dari pusat keramaian?
Hari ini, teknologi selalu menjadi jawaban ketidak mungkinan. Jarak memang terasa semakin pendek. Seseorang bisa duduk di Doha, memilih makanan di Indonesia, membayar dari negara lain, lalu beberapa saat kemudian makanan tersebut diantar oleh kurir ke rumah seseorang yang bahkan berada jauh dari pusat kota.
Ada perbedaan waktu sekitar empat jam antara Indonesia dan Qatar. Tetapi rupanya perbedaan waktu itu pun tidak menjadi persoalan ketika seseorang memang sudah berniat berbagi. Saya rasa, inti dari cerita ini sebenarnya bukan tentang ramen.

Bukan Sekadar tentang Ramennya
Saya tidak sedang ingin bercerita betapa enaknya ramen kiriman dari Qatar. Saya juga tidak sedang ingin membanggakan bahwa ada teman yang tinggal di luar negeri lalu mengirimkan makanan kepada saya.
Sebenarnya Kang Bagja tidak harus melakukan itu. Kami memang sedang menjalin kerja sama dalam sebuah proyek yang berhubungan dengan dunia kepenulisan. Saya mendapatkan kepercayaan darinya untuk menggarap sebuah proyek yang merupakan salah satu mimpi seorang insinyur yang satu ini.
Tetapi mengirimkan makanan adalah hal yang sama sekali berbeda. Ia bisa saja hanya mengirim pesan, “Terima kasih sudah membantu proyek saya.” Selesai.
Namun ia memilih melakukan sesuatu yang sederhana. Memikirkan makanan yang mungkin saya sukai. Lalu mencarinya, memesannya, membayarnya dari Qatar, kemudian memastikan makanan itu sampai ke rumah saya. Sederhana, tetapi justru karena sederhana itulah saya merasa tersentuh.
Dari Panawangan Ciamis menuju Qatar
Hal lain yang membuat kiriman ramen ini terasa semakin istimewa. Saya mengenal Kang Bagja bukan sebagai orang asing. Ia adalah kakak kelas saya ketika SMP. Kami berasal dari daerah yang sama, bahkan satu kecamatan, yaitu Panawangan, Ciamis.
Sejak dulu ia memang dikenal sebagai siswa berprestasi di sekolah kami, SMPN 1 Panawangan. Anak yang cerdas, pekerja keras, dan punya kemampuan akademik yang membuat banyak orang melihat ada masa depan besar di dalam dirinya.
Hari ini, anak dari daerah yang bagi sebagian orang mungkin dianggap “pedalaman” itu sudah menjadi seorang insinyur lulusan ITB dan bekerja sebagai profesional engineer di Doha, Qatar. Ia pernah terbang ke berbagai negara untuk bekerja dan kini menetap di negeri orang. Bagi sebagian orang, perjalanan seperti itu mungkin terdengar seperti mimpi yang terlalu tinggi.
Akan tetapi Kang Bagja sudah membuktikannya. Ia tidak lahir dari keluarga yang bergelimang harta. Ada doa orang tua yang menyertainya sejak awal, ada kerja keras, ada kecerdasan yang terus diasah, ada keberanian mengambil kesempatan, dan tentu saja ada perjalanan panjang yang tidak mungkin semuanya terlihat dari luar.
Ketika melihat orang yang sudah ada di tempat tinggi, kita hanya melihat kesuksesan, pekerjaannya yang menteren, dan gaji yang besar. Namun kita lupa bahwa di belakang semua itu ada perjalanan yang panjang.
Bagi saya, kisah Kang Bagja adalah salah satu pengingat bahwa orang dari daerah pun bisa memiliki mimpi besar dan pergi jauh untuk mewujudkannya.
Teknologi Membuat Jarak Terasa Dekat
Kalau dipikir-pikir, sebenarnya ada sesuatu yang menarik dari kejadian sederhana ini. Dulu, kalau seseorang berada di luar negeri dan ingin berbagi makanan kepada teman atau keluarganya yang ada di Indonesia, mungkin pilihannya adalah membawa oleh-oleh ketika pulang atau mengirim paket yang membutuhkan waktu lebih lama.
Sekarang sudah jauh bebeda ya. Dengan telepon genggam di tangan, seseorang yang berada di Qatar bisa mengetahui alamat rumah kita, membuka aplikasi, memilih makanan, melakukan pembayaran, lalu makanan tersebut diantar oleh kurir sampai ke depan rumah.
Jarak ribuan kilometer seolah hanya menjadi angka di peta, tetap teknologi mampu membuat banyak hal menjadi mudah. Namun tetap saja teknologi sebenarnya hanya alat, yang membuatnya bermakna adalah manusia yang menggunakannya.
Aplikasi bisa membantu memilih makanan. Sistem pembayaran bisa memproses transaksi. Kurir bisa mengantarkan paket, tetapi untuk sampai sejauh itu, tetap saja semuanya berasal dari niat hati.

Sukses Tidak Seharusnya Membuat Kita Lupa Berbagi
Pelajaran yang saya ambil dari sekantong ramen ini, kesuksesan ternyata bukan hanya tentang seberapa jauh seseorang pergi. Bukan hanya tentang pekerjaan yang bagus, penghasilan yang besar, atau negara mana yang sekarang menjadi tempat tinggal.
Ada hal yang jauh lebih sederhana tetapi menurut saya tidak kalah penting: seberapa banyak kita masih mengingat orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan kita.
Tidak sedikit orang-orang yang ketika sudah sukses dan tinggal jauh di negeri orang, perlahan lupa dengan kampung halamannya. Akan tetapi masih ada orang-orang yang justru semakin jauh melangkah, semakin banyak melihat dunia, tetapi hatinya tetap punya ruang untuk mengingat orang-orang di rumah. Saya kira Kang Bagja termasuk yang kedua.
Ia boleh saja sekarang tinggal di Doha, Qatar. Boleh saja pekerjaannya membawanya terbang ke berbagai negara. Tetapi sekantong ramen yang tiba di rumah saya sore ini seolah mengatakan bahwa jarak tidak selalu membuat seseorang menjadi jauh. Dari jarak yang sangat jauh, perhatian bisa datang dengan cara yang tidak kita duga.
Saya Tidak Bisa Membalas dengan Ramen dari Indonesia
Saya tentu tidak bisa membalas kiriman ramen itu dengan cara yang sama. Tidak mungkin duduk di rumah, membuka aplikasi di Indonesia, lalu mengirimkan makanan ke apartemennya di Doha sambil berharap makanan itu tiba dalam beberapa menit.
Saya memilih menuliskan ini dalam sebuah cerita untuk mengabadikan sebuah kebaikan kecil yang sore ini membuat saya tersenyum.
Terima kasih, Kang Bagja. Terima kasih untuk ramennya, tetapi lebih dari itu, terima kasih karena sudah mengingat saya dari tempat yang begitu jauh.
Semoga kerja sama yang sedang kita jalankan bisa menjadi jalan kebaikan, tidak hanya untuk kita berdua, tetapi juga memberikan manfaat bagi orang lain. Dan semoga, sejauh apa pun langkah kita nanti, sesukses apa pun perjalanan kita, kita tetap menjadi manusia yang tidak lupa mengingat orang-orang yang pernah berjalan bersama kita.
