Kemarin saya mendapat sebuah pelajaran kecil yang membuat saya kembali berpikir tentang self branding. Selama ini kita sering memahami self branding sebagai cara memperkenalkan diri, membangun citra, atau membuat orang lain mengenal kemampuan yang kita miliki. Padahal, semakin saya menjalani kehidupan, saya merasa bahwa self branding yang paling kuat justru dibangun dari hal-hal sederhana yang kita lakukan setiap hari.
Ada satu kelas yang tidak saya beri nilai kuis karena mereka tidak mengerjakan tugas yang menjadi bagian dari proses pembelajaran. Bagi saya, nilai bukan sekadar angka yang harus diberikan agar lembar penilaian terlihat lengkap. Ada proses yang harus dilalui, ada tugas yang harus dikerjakan, dan ada tanggung jawab yang perlu dihargai. Saya merasa keputusan itu punya alasan yang cukup jelas.
Namun ternyata, keputusan saya dipandang berbeda oleh orang lain. Sebagai manusia, tentu ada rasa tidak nyaman.Bukan karena saya tidak mau menerima teguran. Kalau memang ada yang keliru dari apa yang saya lakukan, saya tentu harus bersedia memperbaikinya. Yang membuat saya merenung adalah kenyataan bahwa sebuah persoalan yang sebenarnya bisa dibicarakan terlebih dahulu ternyata dapat berkembang menjadi sesuatu yang berbeda ketika sampai kepada orang lain.
Dari situ saya belajar bahwa dalam kehidupan, kita tidak selalu bisa mengendalikan bagaimana orang lain memahami tindakan kita.Kita bisa menjelaskan maksud dengan sebaik-baiknya, tetapi tetap saja akan ada kemungkinan seseorang melihatnya dari sudut pandang yang berbeda.
Kita tidak harus selalu merasa benar. Tetapi kita juga tidak harus selalu merasa bersalah hanya karena ada orang yang menganggap kita salah.
Ada kalanya kita memang perlu berhenti sejenak, bercermin, lalu bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ada sesuatu yang perlu saya perbaiki?” .
Namun jika setelah melakukan introspeksi kita merasa keputusan itu memang memiliki alasan yang dapat dipertanggungjawabkan, tidak perlu pula kita kehilangan kepercayaan kepada diri sendiri.
“Bercerminlah ketika dikritik, tetapi jangan kehilangan wajahmu hanya karena seseorang tidak menyukai bayanganmu.”
Mungkin inilah salah satu makna self branding yang sesungguhnya.
Bukan tentang bagaimana membuat semua orang menyukai kita, melainkan tentang bagaimana membangun karakter yang konsisten dalam pekerjaan dan kehidupan.
Seorang guru tentu senang jika disukai siswanya. Tetapi menjadi guru yang baik tidak selalu berarti menjadi guru yang paling disukai. Ada saatnya kita harus tegas. Ada saatnya kita mengatakan tidak. Ada saatnya kita memberikan konsekuensi atas sesuatu yang tidak dilakukan.
Tentu ketegasan tetap perlu disertai kebijaksanaan. Cara menyampaikan sesuatu perlu terus diperbaiki. Namun ketegasan tidak seharusnya hilang hanya karena kita takut dianggap tidak menyenangkan.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ
“Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil.” (QS. Al-Ma’idah: 8)
Ukuran kebenaran ternyata bukanlah seberapa banyak orang yang menyukai kita. Ada nilai yang lebih tinggi daripada sekadar penerimaan manusia, yaitu keadilan dan tanggung jawab di hadapan Allah.
Karena itu, saya pun belajar untuk tidak terlalu sibuk memikirkan bagaimana orang lain menilai saya.
Kalau ada yang menganggap saya terlalu tegas, saya akan mencoba mengevaluasi cara saya bersikap. Kalau ada yang merasa keputusan saya kurang tepat, saya akan mendengarkan penjelasannya. Tetapi saya tidak ingin membangun diri dari keinginan untuk selalu terlihat baik di mata semua orang. Sebab kita tidak akan pernah mampu memenuhi seluruh penilaian manusia.Ada yang menyukai kita.Ada yang biasa saja. Ada pula yang mungkin tidak menyukai kita, meskipun kita merasa sudah berusaha melakukan yang terbaik.
Dan itu bagian dari kehidupan.Yang juga penting adalah bagaimana kita menyikapi cerita tentang diri kita yang sampai kepada orang lain. Al-Qur’an mengajarkan kita untuk tidak tergesa-gesa menerima sebuah berita tanpa memeriksa kebenarannya.
Allah berfirman:
فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ
“Maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan.”(QS. Al-Hujurat: 6)
Ayat ini mengajarkan sebuah sikap yang sangat penting: tabayyun.
Barangkali dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan kerja, kita perlu lebih sering bertanya sebelum menyimpulkan. Mendengar penjelasan dari satu pihak memang penting, tetapi mendengar pihak lainnya juga merupakan bentuk keadilan.
Saya pun tidak ingin menjadikan pengalaman ini sebagai alasan untuk membalas dengan cara yang sama. Saya tidak ingin mencari kesalahan orang lain hanya agar diri saya terlihat lebih benar. Saya tidak ingin membangun nama dengan mengecilkan nama orang lain.
Kita tidak perlu membuat seseorang terlihat buruk agar diri kita terlihat baik. Nama baik yang dibangun dengan cara demikian mungkin bisa terlihat sesaat, tetapi karakter yang dibangun melalui kejujuran dan konsistensi akan jauh lebih bermakna.
Maka sekarang saya memilih untuk kembali pada hal-hal yang bisa saya kendalikan,memperbaiki cara bekerja, memperjelas komunikasi, menjalankan tanggung jawab dengan sebaik mungkin, dan belajar dari setiap kejadian.
Selebihnya, biarlah waktu yang berbicara. Sebab self branding yang sesungguhnya bukanlah tentang seberapa pandai kita menjelaskan siapa diri kita. Ia tumbuh dari apa yang kita lakukan berulang-ulang, bahkan ketika tidak ada orang yang sedang melihat.
Saya mungkin tidak bisa mengatur apa yang orang katakan tentang saya. Saya juga tidak bisa memastikan semua orang memahami keputusan yang saya ambil. Tetapi saya masih bisa memilih bagaimana saya meresponsnya.Saya bisa belajar tanpa merendahkan diri.Saya bisa menerima teguran tanpa kehilangan prinsip.Saya bisa memperbaiki kesalahan tanpa harus membenci orang yang menunjukkannya.Dan saya bisa tetap bekerja dengan baik meskipun tidak selalu mendapatkan apresiasi.Bukankah pada akhirnya kita memang tidak sedang berlomba untuk disukai semua orang?
Kita hanya sedang berusaha menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari.Manusia mungkin hanya melihat satu kejadian. Allah mengetahui seluruh perjalanan.
Maka, jika suatu hari nama kita dibicarakan dalam cerita yang tidak sepenuhnya sesuai dengan kenyataan, mungkin kita tidak perlu tergesa-gesa membela diri kepada semua orang. Cukup pastikan bahwa kita tahu siapa diri kita, mengapa kita melakukan sesuatu, dan kepada siapa semua perbuatan itu kelak dipertanggungjawabkan.
Karena branding terbaik bukanlah ketika semua orang memiliki penilaian yang baik tentang kita, melainkan ketika kita tetap menjaga karakter meskipun tidak semua orang memiliki penilaian yang sama.
