“Tidak ada orang tua yang menikmati air mata anaknya. Namun ada kalanya air mata hari ini menjadi penyelamat di akhirat nanti.”
Di sudut rumah, seikat sapu lidi berdiri bersandar di dinding. Barangkali ia hanya dianggap sebagai alat kebersihan yang tidak pernah menarik perhatian. Namun bagi sebagian orang tua pada masa lalu, lidi pernah menjadi simbol kasih sayang yang tegas. Ia bukan lambang kemarahan, apalagi kekerasan. Ia adalah pengingat bahwa mendidik anak tidak selalu cukup dengan pelukan; terkadang dibutuhkan ketegasan yang lahir dari cinta.
Hari ini, kata “memukul anak” menjadi sesuatu yang sangat sensitif. Tidak sedikit orang tua yang takut dicap kasar, kolot, atau tidak memahami psikologi anak. Akibatnya, sebagian memilih diam. Anak dibiarkan tumbuh tanpa aturan, tanpa disiplin, bahkan tanpa shalat. Kita lebih khawatir anak menangis karena diminta shalat daripada khawatir ketika kelak ia ditanya Allah mengapa meninggalkan shalat.
Padahal, dalam Islam, shalat bukan sekadar ibadah tambahan. Shalat adalah tiang agama, pembeda antara keimanan dan kekufuran, sekaligus amal pertama yang akan dihisab pada hari kiamat.
Allah Ta’ala berfirman:
وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْأَلُكَ رِزْقًا ۖ نَحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى
“Dan perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan akibat yang baik adalah bagi orang yang bertakwa.”
(QS. Thaha: 132)
Perhatikanlah ayat itu. Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk shalat. Allah juga memerintahkan kita agar menyuruh keluarga kita mendirikan shalat. Artinya, mendidik anak agar mencintai shalat bukan pilihan, melainkan amanah.
Rasulullah ﷺ kemudian memberikan tahapan pendidikan yang sangat indah. Beliau bersabda:
مُرُوا أَوْلَادَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرِ سِنِينَ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ
“Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat ketika mereka berusia tujuh tahun. Dan pukullah mereka apabila meninggalkannya ketika mereka berusia sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur mereka.” (HR. Abu Dawud)
Hadis ini sering dipahami secara sepotong. Sebagian hanya mengingat kata “pukullah”, tetapi lupa bahwa sebelumnya ada proses pendidikan selama tiga tahun. Tiga tahun adalah waktu yang panjang untuk memberi teladan, mengajak dengan lembut, membangunkan saat Subuh, mengingatkan dengan kasih sayang, memberikan penghargaan, mendoakan, dan membiasakan shalat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Maka, ketika sampai pada usia sepuluh tahun, ketegasan itu bukanlah ledakan emosi, melainkan puncak dari proses pendidikan.
Para ulama juga menjelaskan bahwa pukulan tersebut bukanlah pukulan yang menyakitkan. Tidak boleh mengenai wajah, tidak boleh melukai, tidak boleh meninggalkan bekas, dan tidak dilakukan ketika marah. Tujuannya bukan menghukum tubuh, melainkan membangunkan kesadaran.
Di sinilah sapu lidi menjadi sebuah simbol.
Lidi itu ringan. Bahkan sering kali lebih ringan daripada tangan orang tua sendiri. Ia bukan alat penyiksa, melainkan lambang bahwa ada saatnya cinta harus berbicara dengan bahasa ketegasan.
Ironisnya, zaman sekarang kita lebih tega melihat anak berjam-jam bermain gawai daripada melihatnya menangis lima menit karena diminta shalat. Kita rela mengeluarkan jutaan rupiah agar anak pandai matematika, bahasa asing, atau teknologi. Namun kita merasa sungkan ketika harus bersikap tegas agar ia menjaga hubungan dengan Allah.
Padahal keberhasilan seorang anak bukan hanya ketika ia menjadi dokter, insinyur, pengusaha, atau pejabat. Keberhasilan terbesar adalah ketika ia tetap berdiri menghadap kiblat meskipun kedua orang tuanya telah lama berada di alam kubur.
Bukankah kita semua berharap doa anak yang saleh menjadi amal yang tidak pernah terputus?
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ
“Apabila manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”(HR. Muslim)
Lalu bagaimana mungkin kita mengharapkan anak menjadi saleh jika sejak kecil kita membiarkannya meninggalkan shalat tanpa teguran?
Sering kali yang membuat kita tidak tega bukanlah karena cinta kepada anak, tetapi karena cinta kepada kenyamanan diri sendiri. Kita tidak ingin mendengar rengekannya. Kita tidak ingin menghadapi kemarahannya. Kita memilih damai sesaat daripada keselamatan yang kekal.
Padahal cinta sejati tidak selalu tampak lembut.
Seorang dokter terkadang harus menyuntik pasien yang menangis. Seorang guru harus memberikan nilai rendah kepada murid yang malas. Seorang hakim harus menjatuhkan hukuman demi keadilan. Semua itu bukan karena kebencian, melainkan karena tanggung jawab.
Demikian pula orang tua.
Ada kalanya pelukan dibutuhkan. Ada kalanya nasihat diperlukan. Ada saatnya hadiah diberikan. Namun ada pula waktu ketika ketegasan harus hadir, selama dilakukan sesuai tuntunan syariat, tanpa amarah, tanpa kekerasan, dan tanpa menyakiti.
Mungkin suatu hari anak akan berkata, “Ayah dan Ibu terlalu keras.”
Namun mudah-mudahan, ketika ia telah dewasa dan tetap menjaga shalatnya, ia akan memahami bahwa sapu lidi itu bukanlah lambang kebencian. Ia adalah tanda bahwa kedua orang tuanya lebih takut melihat anaknya jauh dari Allah daripada melihatnya menangis sesaat.
Semoga kita menjadi orang tua yang tidak hanya mewariskan rumah, tanah, kendaraan, atau tabungan. Semoga kita mampu mewariskan sesuatu yang jauh lebih mahal: kecintaan kepada shalat.
Karena pada akhirnya, seikat sapu lidi akan lapuk dimakan usia. Tetapi satu rakaat shalat yang terus dikerjakan anak kita hingga akhir hayatnya bisa menjadi cahaya yang tidak pernah padam, bahkan ketika kita telah lama berada di dalam liang kubur.
