Nilai diri tidak boleh ditentukan oleh seberapa sering kita dibutuhkan, tetapi oleh seberapa mulia kita menjaga amanah yang Allah titipkan.”
Mungkin kita pernah merasakan sebuah keadaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Saat itu, telepon hampir setiap hari berdering. Pesan-pesan datang silih berganti. Nama kita sering disebut dalam berbagai kesempatan. Pendapat kita diminta. Bantuan kita dicari. Kehadiran kita terasa begitu berarti.
Namun, perlahan semuanya berubah.Ketika apa yang kita miliki tak lagi dibutuhkan, telepon mulai sepi. Pesan mulai berkurang. Sapaan menjadi semakin jarang. Bahkan, ada orang-orang yang seolah menghilang begitu saja.Di situlah muncul sebuah pertanyaan yang mengusik hati.
Apakah selama ini yang mereka hargai adalah diri kita, atau hanya manfaat yang dapat kita berikan?
Pertanyaan itu memang tidak selalu nyaman. Namun, sering kali justru menjadi awal dari sebuah kedewasaan. Sebagai manusia, kita tentu ingin menjadi pribadi yang bermanfaat. Bukankah Rasulullah ﷺ bersabda bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya? Keinginan untuk membantu, berbagi, dan meringankan beban sesama merupakan akhlak yang mulia. Dunia memang membutuhkan lebih banyak orang yang peduli daripada orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri.
Akan tetapi, dalam perjalanan hidup, kita juga belajar bahwa tidak semua orang memaknai kebaikan dengan cara yang sama. Ada yang menghargai ketulusan, tetapi ada pula yang menganggap kebaikan sebagai sesuatu yang bisa dimanfaatkan tanpa batas.
Selama kita mampu membantu, kita dianggap penting. Selama kita bersedia mengalah, kita dianggap baik.Selama kita terus memberi, kita dianggap layak dipertahankan.
Namun ketika kita mulai berkata, “Maaf, kali ini kami belum bisa,” atau “Kami membutuhkan waktu untuk diri sendiri,” tidak sedikit yang berubah sikap. Hubungan yang semula terasa hangat mendadak menjadi dingin. Bukan karena kita berubah, tetapi karena harapan mereka tidak lagi terpenuhi.
Keadaan seperti inilah yang sering membuat hati lelah.Bukan lelah berbuat baik.Melainkan lelah karena merasa bahwa kebaikan hanya dihargai selama masih menguntungkan orang lain.Padahal Islam mengajarkan kita untuk saling menolong, tetapi bukan untuk saling memanfaatkan.Allah Swt. berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.”(QS. Al-Mā’idah [5]: 2)
Tolong-menolong adalah bagian dari keimanan. Akan tetapi, pertolongan yang diperintahkan Allah adalah pertolongan yang melahirkan kebaikan bagi kedua belah pihak, bukan hubungan yang hanya menguntungkan salah satu pihak sementara yang lain terus menanggung beban.
Karena itu, menjadi orang yang baik tidak berarti kita harus selalu mengiyakan semua permintaan.Ada saatnya kita perlu berkata “tidak”.Ada waktunya kita perlu beristirahat.Ada keadaan ketika kita harus menjaga jarak demi menjaga ketenangan hati.Semua itu bukanlah tanda bahwa kita kehilangan kasih sayang, melainkan tanda bahwa kita sedang menjaga amanah yang Allah titipkan kepada kita.Allah Swt. berfirman:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)
Kebinasaan tidak selalu berupa luka pada tubuh. Ada hati yang perlahan hancur karena terus memendam beban. Ada jiwa yang lelah karena merasa harus memenuhi harapan semua orang. Ada orang yang tetap tersenyum, padahal di dalam dirinya sedang kehilangan kedamaian.
Menjaga diri dari kelelahan seperti itu juga merupakan bagian dari menjalankan perintah Allah.Rasulullah ﷺ bahkan memberikan sebuah kaidah agung yang menjadi dasar dalam banyak persoalan kehidupan.
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh saling membahayakan.” (HR. Ibnu Mājah No. 2341, Malik dalam Al-Muwaṭṭa’, dan Ahmad)
Keseimbangan adalah tidak boleh menyakiti orang lain, tetapi kita juga tidak diperintahkan untuk terus membiarkan diri berada dalam keadaan yang menyakiti. Mungkin selama ini kita mengira bahwa semakin besar pengorbanan, semakin besar pula nilai diri kita. Padahal nilai seseorang tidak diukur dari seberapa sering ia mengorbankan dirinya hingga terluka. Nilai seorang mukmin justru terlihat dari kebijaksanaannya dalam menempatkan kasih sayang dan ketegasan pada tempat yang tepat.
Ada satu hadis Rasulullah ﷺ yang sangat relevan dengan keadaan ini.
لَا يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ
“Seorang mukmin tidak akan disengat dari lubang yang sama dua kali.” (HR. al-Bukhari No. 6133 dan Muslim No. 2998)
Ini bukan mengajarkan kita untuk mencurigai semua orang. Rasulullah ﷺ justru mengajarkan agar kita belajar dari pengalaman. Jika sebuah pengalaman berulang kali melukai kita dengan cara yang sama, maka sudah saatnya kita memperbaiki cara bersikap. Tetap memaafkan adalah kemuliaan, tetapi membiarkan diri terus mengalami luka yang sama bukanlah bentuk kebijaksanaan.
Bukan berarti setelah itu kita berhenti menjadi orang baik. Bukan pula berarti kita menutup pintu bagi semua orang. Yang berubah hanyalah cara kita menjaga diri. Kita belajar bahwa membantu orang lain adalah ibadah.Namun menjaga kesehatan jiwa juga ibadah.Meringankan beban sesama adalah amal saleh. Namun menjaga martabat diri juga bagian dari amanah.
Pada akhirnya, kita tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain memperlakukan kita. Akan selalu ada orang yang datang karena ketulusan, dan akan selalu ada yang datang karena kepentingan. Akan selalu ada yang tetap menghargai kita ketika kita tidak memiliki apa-apa, dan akan selalu ada yang pergi ketika manfaat itu telah hilang.
Namun, kita selalu memiliki pilihan. Kita dapat tetap menjadi pribadi yang murah hati tanpa kehilangan kebijaksanaan.Kita dapat tetap membantu tanpa membiarkan diri dimanfaatkan. Kita dapat tetap rendah hati tanpa merendahkan harga diri.Sebab nilai kita tidak pernah ditentukan oleh seberapa sering kita dibutuhkan. Nilai kita tidak bergantung pada banyaknya orang yang mencari kita.Nilai kita bukan ditentukan oleh tepuk tangan, pujian, atau kepentingan manusia.Nilai kita berasal dari Allah, Dzat yang menciptakan dan memuliakan setiap insan.
Karena itu, marilah terus menjadi pribadi yang bermanfaat. Ringankan beban sesama selama kita mampu. Tebarkan kebaikan dengan ikhlas. Namun, jangan pernah lupa menjaga batas agar kebaikan tetap menjadi ibadah, bukan menjadi jalan bagi orang lain untuk memanfaatkan ketulusan kita.
Sebab ketika kita memahami bahwa harga diri adalah amanah dari Allah, kita tidak lagi merasa berharga hanya saat dibutuhkan. Kita akan tetap bernilai, tetap bermakna, dan tetap mulia, bahkan ketika tidak ada seorang pun yang meminta apa pun dari kita.
