“Mencintai diri sendiri bukan berarti menempatkan diri di atas orang lain. Mencintai diri sendiri adalah menghargai amanah Allah yang bernama diri.”
“I LOVE ME”. Sebagian orang menganggapnya sebagai simbol kepercayaan diri, sementara yang lain memandangnya sebagai bentuk keegoisan. Tidak sedikit pula yang merasa bahwa mencintai diri sendiri bertentangan dengan ajaran agama yang mendorong manusia untuk berbuat baik, berkorban, dan mengutamakan kepentingan orang lain.
Persoalannya bukan pada slogan “I LOVE ME”, melainkan pada bagaimana slogan itu dimaknai. Jika dimaknai sebagai ajakan untuk mencintai diri secara berlebihan hingga meremehkan orang lain, tentu hal itu bertentangan dengan ajaran Islam. Namun, jika dimaknai sebagai kesadaran untuk menjaga kehormatan, kesehatan jiwa, dan martabat diri sebagai amanah dari Allah, maka makna tersebut justru sejalan dengan nilai-nilai Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang tumbuh dengan keyakinan bahwa menjadi pribadi yang baik berarti harus selalu mengalah. Menolak permintaan orang lain dianggap tidak sopan. Mengatakan “tidak” sering dipersepsikan sebagai tanda kesombongan. Bahkan, meluangkan waktu untuk diri sendiri terkadang dianggap sebagai bentuk keegoisan.
Akibatnya, tidak sedikit orang yang menghabiskan tenaga untuk membahagiakan semua orang, tetapi lupa menjaga dirinya sendiri. Mereka mudah membantu siapa pun, rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaannya. Sayangnya, tidak semua orang menghargai ketulusan itu. Ada yang menganggap kebaikan sebagai kewajiban, ada pula yang menjadikannya kesempatan untuk terus meminta tanpa pernah memikirkan beban orang yang memberi.
Islam sangat menganjurkan kasih sayang, kepedulian, dan sikap tolong-menolong. Namun, Islam juga tidak mengajarkan seseorang untuk membiarkan dirinya kehilangan martabat atau terus-menerus berada dalam keadaan yang merugikan. Allah Swt. berfirman:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
“Sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
(QS. Al-Isrā’ [17]: 70)
Ayat ini menunjukkan bahwa setiap manusia memiliki kemuliaan yang diberikan langsung oleh Allah. Kemuliaan itu bukan karena jabatan, kekayaan, ataupun penilaian manusia, tetapi karena Allah sendiri yang memuliakannya. Oleh sebab itu, menjaga harga diri bukanlah kesombongan, melainkan bentuk syukur atas kemuliaan yang telah Allah anugerahkan.
Mencintai diri sendiri dalam perspektif Islam berarti menjaga amanah tersebut. Amanah berupa tubuh yang sehat, jiwa yang tenang, hati yang bersih, dan martabat yang terpelihara. Karena itulah Allah juga mengingatkan:
وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ
“Janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 195)
Ayat ini sering dipahami dalam konteks peperangan atau keselamatan fisik. Namun para ulama menjelaskan bahwa larangan menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan memiliki makna yang luas. Seorang muslim tidak boleh sengaja membiarkan dirinya mengalami kerusakan, baik kerusakan fisik, mental, maupun spiritual.
Bukankah terus-menerus memendam luka batin hingga kehilangan semangat hidup juga merupakan bentuk kebinasaan yang harus dihindari? Bukankah membiarkan diri terus diperlakukan secara tidak adil juga termasuk sikap yang tidak bijaksana?
Islam justru mengajarkan keseimbangan. Berbuat baik kepada orang lain tidak boleh membuat seseorang lalai terhadap hak dirinya sendiri.
Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak atasmu.” (HR. al-Bukhari No. 5199)
Tubuh memiliki hak untuk dijaga kesehatannya. Pikiran memiliki hak untuk beristirahat. Hati pun memiliki hak untuk mendapatkan ketenangan. Seseorang tidak dapat terus-menerus memikul beban semua orang tanpa memberi kesempatan kepada dirinya sendiri untuk pulih.
Prinsip menjaga diri juga ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam sebuah kaidah agung:
لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ
“Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan tidak boleh saling membahayakan.” (HR. Ibnu Mājah No. 2341, Malik dalam Al-Muwaṭṭa’, dan Ahmad)
Hadis ini menjadi salah satu kaidah besar dalam fikih Islam. Islam melarang seseorang menyakiti orang lain, tetapi pada saat yang sama juga melarang seseorang membiarkan dirinya terus berada dalam bahaya atau kemudaratan. Kita sering melupakan hal ini. Banyak orang berusaha menjadi pribadi yang baik, tetapi lupa bahwa dirinya sendiri juga tidak boleh dizalimi, bahkan oleh dirinya sendiri.
Mencintai diri sendiri bukan berarti berhenti membantu sesama. Justru seseorang yang mampu menjaga dirinya akan lebih mampu memberi manfaat kepada orang lain secara sehat. Ia membantu bukan karena takut ditolak, bukan karena ingin dipuji, dan bukan pula karena merasa tidak enak. Ia membantu karena mengharap ridha Allah.
Ada kalanya mengatakan “tidak” justru merupakan bentuk kejujuran. Ada saatnya menjaga jarak menjadi cara menjaga hati.Ada waktunya beristirahat menjadi bagian dari ikhtiar.Semua itu bukanlah egoisme apabila dilakukan dalam batas yang benar.
Allah juga mengingatkan Nabi Muhammad ﷺ agar bersikap lembut sekaligus bijaksana dalam mengambil keputusan.
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللَّهِ لِنتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauh dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 159)
Kelembutan tidak sama dengan kelemahan. Memaafkan tidak berarti membiarkan kesalahan terus berulang. Setelah bermusyawarah dan mempertimbangkan keadaan, seseorang tetap diperintahkan untuk mengambil keputusan dengan tegas dan bertawakal kepada Allah.
Begitu pula dalam kehidupan. Tetap berbuat baik bukan berarti harus selalu mengorbankan diri. Tetap memaafkan bukan berarti membuka pintu bagi kezaliman yang sama untuk kembali terjadi.
Dalam Islam, keseimbangan adalah kunci. Hak orang lain harus dipenuhi, tetapi hak diri sendiri juga tidak boleh diabaikan. Seorang muslim yang sehat jiwanya akan lebih mampu menjadi pasangan yang baik, orang tua yang bijaksana, sahabat yang tulus, tetangga yang peduli, dan anggota masyarakat yang bermanfaat.
Slogan “I LOVE ME” pada akhirnya bukanlah seruan untuk mencintai diri secara berlebihan. Slogan ini adalah pengingat bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah yang dimuliakan. Diri ini bukan milik manusia semata, melainkan amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
Karena itu, menjaga kesehatan, menjaga hati, menjaga harga diri, menjaga waktu, dan menjaga ketenangan batin merupakan bagian dari rasa syukur kepada Allah.
Mencintai diri sendiri juga bukan berarti menutup pintu untuk mencintai orang lain. Sebaliknya, seseorang yang berdamai dengan dirinya akan lebih mudah menyebarkan kasih sayang tanpa rasa terpaksa. Ia memberi dengan ikhlas, membantu sesuai kemampuan, dan tetap memiliki keberanian untuk menetapkan batas ketika diperlukan.
Maka, ketika seseorang berkata “I LOVE ME”, sesungguhnya yang dimaksud bukanlah, “Aku lebih penting daripada orang lain.” Yang dimaksud adalah, “Aku ingin menjaga amanah yang Allah titipkan kepadaku.”
I LOVE ME bukanlah kalimat kesombongan. Ia adalah pengingat bahwa diri ini juga berharga. Bukan karena penilaian manusia. Tetapi karena Allah telah memuliakannya.
