Kehidupan, pada hakikatnya, adalah serangkaian ketidakpastian yang disamar-samarkan sebagai rutinitas. Setelah bulan-bulan penuh keakraban, tawa yang renyah di kedai bakso, dan pesan-pesan sastrawi yang menyejukkan, tiba-tiba dunia Nurhayati seolah tertutup kabut tebal. Aku kehilangan kabar.
Awalnya, itu hanyalah keterlambatan membalas pesan. Aku berpikir ia pasti sibuk dengan ujian kenaikan kelas atau tumpukan administrasi sekolah yang tak ada habisnya. Namun, hari berganti minggu, dan minggu berganti bulan, hingga angka di layar ponselku tidak menunjukkan satu pun balasan. Profil media sosialnya yang dulu aktif, kini tampak seperti rumah kosong yang ditinggalkan penghuninya: sunyi dan tak berjejak.
Aku mencoba mengirim pesan sekali lagi, lalu sekali lagi. Namun, pesan-pesan itu hanya berhenti pada satu centang biru yang dingin. Tak ada jawaban. Tak ada penjelasan. Nurhayati seolah-olah menguap, ditarik kembali oleh gravitasi kehidupan yang tak lagi menyertakan diriku di dalamnya.
Di saat-saat seperti itulah, aku teringat kembali pada kegelisahan yang ditulis oleh Albert Camus: “Mungkin aku tidak yakin tentang apa yang benar-benar menarik minatku, tetapi aku benar-benar yakin tentang apa yang tidak menarik minatku.”
Apakah ketidakpastian ini adalah jawaban yang tidak menarik minatku? Atau apakah aku sedang menghadapi “ketidakpedulian dunia yang lembut” sebagaimana yang ia gambarkan dalam karyanya?
Aku mencoba bersikap rasional. Aku adalah seorang tukang ojeg, seorang ayah, seorang pria yang sudah memiliki dunianya sendiri. Namun, keheningan ini terasa begitu gaduh di kepalaku. Setiap kali aku menunggu penumpang di sudut jalan, tatapanku sering kali tidak sengaja mencari sosok dengan kerudung yang familiar, berharap ia tiba-tiba muncul di balik kerumunan, tertawa dan mengatakan bahwa ponselnya rusak atau ia sedang cuti dari dunia digital.
Tapi, hari-hari berlalu tanpa keajaiban. Kesibukan hidup pun mulai menarikku kembali dengan keras. Anak-anak membutuhkan perhatian, motor butuh servis, dan tagihan listrik tidak mengenal istilah “menunggu jawaban dari seseorang”. Aku terpaksa tenggelam kembali dalam ritme yang kasar dan menuntut.
Aku mulai mempraktikkan filosofi Camus tentang ketidakpedulian dunia. Bahwa dunia ini pada dasarnya tidak peduli dengan rasa kehilanganmu, tidak peduli dengan janji-janji yang tak terucap, dan tidak peduli dengan retaknya sebuah hubungan yang belum sempat bernama.
“Di tengah musim dingin, aku menemukan bahwa di dalam diriku terdapat musim panas yang tak terkalahkan.”
Aku mencoba menanamkan kutipan itu dalam relung jiwaku yang paling dalam. Bahwa meskipun Nurhayati menghilang tanpa jejak, dan meskipun aku merasa terasing di tengah kota yang bising ini, ada sesuatu di dalam diriku yang harus tetap hangat. Aku tetap menjadi ayah, aku tetap menjadi pekerja, dan aku tetap menjadi diriku yang—meski terluka oleh pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab—harus terus melangkah.
Aku mulai berhenti memeriksa ponsel setiap lima menit sekali. Aku mulai berhenti melamunkan alasan mengapa ia menghilang. Mungkin ia punya masalah pribadi yang berat, mungkin ia memutuskan untuk memutus rantai masa lalu, atau mungkin, memang itulah akhir dari narasi kami. Kami hanyalah dua karakter yang bertemu di sebuah bab, lalu dipisahkan oleh alur cerita yang tak kami tulis sendiri.
Kesibukan itu akhirnya menjadi benteng pertahananku. Saat aku memacu motor, aku membayangkan Nurhayati sedang menjalani hidupnya dengan tenang di suatu tempat. Dan itu sudah cukup. Aku tidak perlu memiliki jawabannya untuk bisa terus hidup.
Aku membiarkan bab ini menutup dirinya sendiri. Tanpa perpisahan yang formal, tanpa ucapan selamat tinggal, hanya sebuah hening yang panjang. Ternyata, kehilangan kabar adalah cara hidup yang paling jujur untuk mengingatkan kita bahwa pada akhirnya, setiap manusia memang berjalan sendirian di bawah langit yang sama, dengan beban yang harus dipikul masing-masing hingga ke puncak gunung.
