Adakah di sini yang hobi mengoleksi tanaman hutan? Kalau ada, tos dulu, kita samaan. Jika senang mengoleksi tanaman hutan, mungkin Anda pernah mendengar atau bahkan mengenal kumpai ekor tupai.
Tanaman yang satu ini memang bukan tanaman hias populer seperti monstera atau philodendron. Tumbuhan yang satu ini bentuknya unik, aromanya khas, dan keberadaannya kini semakin sulit ditemukan di alam.
Saya sendiri memiliki kenangan tersendiri dengan tanaman ini, bahkan sejak saya pertama kali ikut masuk hutan di masa kecil dulu.
Mengenal Kumpai Ekor Tupai
Kumpai ekor tupai memiliki nama ilmiah Lycopodiella squarrosa. Konon tanaman ini termasuk kelompok tumbuhan paku purba (lycophyte) yang telah ada sejak jutaan tahun lalu.
Ciri khasnya sangat mudah dikenali. Batangnya tumbuh menjuntai hingga menggantung ke bawah dengan daun-daun kecil berbentuk seperti jarum yang tersusun rapat memenuhi batang. Dari kejauhan, bentuknya benar-benar menyerupai ekor seekor tupai yang lebat. Hanya saja, ekor tupainya berwarna hijau.
Semakin panjang batangnya, tanaman ini akan mengeluarkan banyak percabangan sehingga tampilannya semakin rimbun dan cantik.
Berbeda dengan tanaman berbunga, kumpai berkembang biak menggunakan spora. Spora tersebut berkumpul di bagian ujung batang yang ramping sehingga membentuk rumbai-rumbai kecil yang menjadi ciri khasnya.
Sayangnya kumpai ekor tupai yang ada di halaman rumah saya belum bercabang dan karena belum lama ditanam.
Tanaman ini termasuk tanaman epifit, alias tanaman yang hidup menempel pada batang pohon tanpa mengambil makanan dari pohon inangnya. Ia hanya memanfaatkan batang pohon sebagai tempat hidup, sementara kebutuhan air dan nutrisinya diperoleh dari udara, embun, hujan, serta sisa-sisa bahan organik di sekitarnya.
Saya sendiri menyiramnya setiap dua kali sehari ketika musim kemarau. Sedangkan tempat menempelnya hanyalah batang pohon yang sudah mati.
Dulu Mudah Dijumpai di Hutan
Semasa kecil, kumpai ekor tupai bukanlah tanaman yang sulit ditemukan. Biasanya tanaman ini tumbuh menempel pada batang pohon cengkeh, aren, kelapa, atau pohon-pohon tua lain yang permukaannya dipenuhi lumut. Habitatnya adalah hutan yang masih lembap dan teduh.
Masih ingat dalam ingatan, ketika ada yang sengaja membawakan kumpai ekor tupai ini sepulang dari mengambil nira aren. Kami memanggilnya “Abah Udi” seorang pengrajin gula aren yang selalu akrab dengan keluarga kami.
“Abah nemu pas lagi manjat pohon aren,” katanya sambil memberikan serumpun kumpai. Tentu saja ayah saya sangat senang menerimanya. Ayah pun langsung menanamnya dengan menempelkannya di pohon jeruk dengan media sabut kelapa dililit menggunakan tali.
Sayangnya, tidak lama kemudian ada saudara sepupu dari Bandung yang juga menyukai tanaman hutan. Kumpai itu akhirnya ikut dibawa pulang dan berpindah pemilik.
Kumpai Ekor Tupai yang Semakin Sulit Ditemukan
Seiring bertambahnya usia, saya justru semakin menyukai tanaman, terutama tanaman-tanaman yang berasal dari hutan. Setiap pulang ke kampung halaman, saya selalu menyempatkan diri berjalan bersama orang tua menyusuri kebun dan hutan yang masih tersisa. Dalam hati saya selalu berharap bisa menemukan kumpai ekor tupai lagi.
Bahkan beberapa kali bertanya pada Abah Udi, barangkali ia sempat menemukannya ketika mengambil nira aren. Seandainya ada, saya siap membayarnya.
Namun, harapan itu hampir selalu berakhir sia-sia. Selain Abah Udi, orang-orang yang masih rutin menyadap nira aren pun mengatakan bahwa tanaman ini sudah sangat jarang terlihat. Padahal dahulu hampir selalu ada di pohon aren atau batang-batang pohon tua.
Saya menduga berkurangnya kawasan hutan, meningkatnya suhu udara, serta menurunnya kelembapan menjadi salah satu penyebab semakin sulitnya menemukan tanaman ini di habitat alaminya. Karena sangat bergantung pada lingkungan yang lembap, perubahan kondisi hutan sangat memengaruhi kelangsungan hidupnya.
Membeli Demi Melestarikan Kenangan
Karena keinginan memiliki tanaman ini begitu besar, akhirnya saya memutuskan untuk membelinya di sebuah toko tanaman hias. Waktu itu harganya sekitar Rp30.000.
Bagi saya, tanaman ini memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada angka pembeliannya. Kumpai ekor tupai membawa kembali kenangan masa kecil sekaligus menjadi pengingat bahwa tidak semua tanaman hutan masih mudah ditemukan.
Sekarang kumpai ekor tupai sudah menempel cantik pada batang pohon di halaman belakang rumah. Melihatnya tumbuh subur memberikan kepuasan tersendiri. Rasanya seperti berhasil membawa sedikit suasana hutan ke rumah.
Aroma Hutan yang Menenangkan
Selain bentuknya yang unik, kumpai ekor tupai juga memiliki aroma yang khas. Harumnya lembut, segar, dan sedikit mengingatkan pada aroma daun cemara setelah hujan. Tidak heran jika di beberapa daerah tanaman ini pernah dimanfaatkan sebagai bahan alami untuk memberikan aroma segar pada ruangan agar tercium harum.
Meskipun pemanfaatan tersebut belum banyak diteliti secara ilmiah, aroma alami yang dimilikinya memang menjadi salah satu daya tarik tanaman ini. Beberapa orang menyukai aroma hutan, saya salah satunya.
Kini kumpai ekor tupai menjadi salah satu koleksi favorit saya di rumah. Di sana, ia hidup berdampingan dengan berbagai tanaman hutan lain yang sedikit demi sedikit saya kumpulkan.
Merawat tanaman bukan sekadar soal hobi. Ada kebahagiaan yang saya rasakan ketika berhasil menjaga kehidupan tumbuhan yang mulai jarang dijumpai di alam. Semoga suatu hari nanti anak-anak kita masih bisa melihat kumpai ekor tupai tumbuh di hutan, bukan hanya dari foto atau cerita.
Saya pun masih memiliki banyak kisah tentang tanaman-tanaman hutan lain yang menghiasi halaman rumah. Insyaallah akan saya ceritakan pada tulisan berikutnya.
