24 Agustus 2017. Pagi itu, kota Bandung masih memeluk dingin yang menusuk tulang. Jam baru menunjukkan pukul 04.30 saat aku melangkah keluar rumah, meninggalkan hangatnya selimut dan wajah-wajah terlelap yang paling kucintai. Aku sempat berhenti sejenak di ambang pintu, menatap kamar anak-anakku, lalu memandang istriku yang tidur dengan napas teratur.
“Sehatlah kalian,” bisikku dalam hati. “Ayah pergi bukan untuk meninggalkan, tapi untuk menjemput potongan jiwanya yang entah tertinggal di mana.” Istriku, perempuan yang tak pernah sekalipun mempertanyakan obsesi anehku pada sastra, adalah penopang terkuat di balik punggungku. Tanpa dukungannya, aku mungkin sudah lama berhenti menjadi pemimpi.
Namun, drama kehidupan dimulai bahkan sebelum petualangan sesungguhnya dimulai. Aku tiba di pool Primajasa Pasirkoja dengan keyakinan penuh, namun nyatanya, bus pertama sudah meluncur pergi sedetik sebelum kakiku menyentuh aspal. Sial. Kepanikan kecil sempat menyerang. Aku tidak punya waktu untuk mengutuk nasib. Aku segera putar arah, berlari kecil menyeberangi jalan di depan pool, lalu mencegat angkot yang lewat dengan napas terengah.
“Turun di lampu merah!” teriakku pada sopir.
Setelah turun, aku kembali beralih ke bus Primajasa jurusan Leuwipanjang. Ongkos lima belas ribu rupiah kupindahkan ke tangan kondektur dengan perasaan tak karuan. Bus ini melaju menuju titik transit di rest area KM 125. Di sana, aku harus berjuang lagi untuk menyambung bus menuju Bandara Soekarno-Hatta. Waktu seolah menertawakanku, berdetak lebih cepat dari biasanya. Akhirnya, aku tiba di Bandara Soekarno-Hatta tepat pukul 13.44. Sisa waktu menuju keberangkatan jam 16.00 kuhabiskan dengan duduk termangu di sudut ruang tunggu, menatap lalu-lalang manusia dengan perasaan yang asing.
Saat pesawat akhirnya lepas landas dan ban-bannya meninggalkan tanah Indonesia, jiwaku ikut terangkat, namun hatiku terasa ditarik kembali oleh beban tak kasat mata bernama Nurhayati.
Di ketinggian puluhan ribu kaki, di antara gumpalan awan yang tampak seperti kapas raksasa, pikiranku melayang liar. Aku sedang menuju Kuala Lumpur, sebuah tanah asing yang belum pernah kupijak seumur hidupku. Ini adalah sejarah.
Seorang Didin Tulus, yang dulunya hanya penjaga stan buku kumal di pojok pameran, yang kemudian mencoba peruntungan sebagai penulis lepas amatiran, kini terbang menyeberangi samudera. Aku hanyalah seorang tukang ojeg panggilan yang menulis di sela-sela menunggu penumpang. Siapa sangka, tulisan-tulisanku yang lahir dari debu jalanan itu mampu menyeberang hingga ke tanah Melayu, dibaca oleh para pecinta sastra di sana, hingga membawaku pada undangan kongres ini.
Di seminar nanti, aku akan berdiri di depan para sastrawan besar, membicarakan Utuy Tatang Sontani—tokoh yang bagi kami, aku dan Nurhayati, adalah guru kehidupan.
Namun, di tengah rasa gembira yang membuncah, ada lubang hitam di dadaku. Nurhayati. Di mana dia sekarang? Apakah dia sedang menatap langit yang sama dari bawah sana? Ke mana dia pergi saat kabut itu menelannya bulat-bulat? Setiap awan yang kulihat dari jendela pesawat membayangi wajahnya. Aku merasa seolah sedang mengejar bayang-bayang di negeri orang.
Pesawat mendarat di KLIA tepat pukul 19.00 waktu Malaysia. Suasana bandara yang megah itu terasa kontras dengan realitas hatiku yang sedang compang-camping. Kuala Lumpur adalah bab baru. Kuala Lumpur adalah tanda tanya.
Aku teringat masa lalu. Dulu, aku sering merasa rendah diri karena hanya seorang penulis amatiran. Aku sering bertanya-tanya, apakah kata-kataku layak dibaca? Kini, di tengah kerumunan manusia di bandara ini, aku merasa seperti Sisyphus yang batunya akhirnya sampai di puncak, namun di puncak itu, aku tidak menemukan harta karun, melainkan sebuah pencarian baru.
Aku menarik napas panjang, menghirup udara asing yang terasa lebih lembap. Kepada anak-istriku di Cimahi, doaku terkirim bersama setiap desah napas. Kalian adalah rumahku yang paling nyata. Namun kepada Nurhayati, aku mengirimkan sebuah janji yang tak terucap: Jika kamu masih di sini, di tanah ini, aku akan mencarimu, meski harus membelah setiap sudut Kuala Lumpur.
Dunia sastera telah memberiku tiket untuk kembali. Sekarang, giliran takdir yang menentukan apakah ini adalah awal dari sebuah pertemuan, atau akhir dari sebuah pelarian. Aku berjalan keluar dari pintu kedatangan, bukan lagi sebagai tukang ojeg yang hanya tahu jalanan Cimahi, melainkan sebagai seorang pembelajar yang sedang mencari jawaban atas teka-teki paling rumit dalam hidupnya: tentang makna rindu, dan tentang seseorang yang namanya selalu kusebut di setiap sujud, meski kabarnya telah lama hilang tertelan sunyi.
Kuala Lumpur malam itu tampak gemerlap dari balik kaca taksi. Aku membayangkan Nurhayati di suatu tempat di kota ini, mungkin sedang menatap lampu-lampu yang sama, mungkin sedang membaca buku yang sama, atau mungkin, sedang mencoba melupakanku seperti aku yang dulu mencoba melupakannya. Tapi hari ini, aku tidak akan lari lagi. Aku datang dengan membawa nama Utuy, membawa jiwa Nusantara, dan membawa secuil harapan yang tersisa di dasar hati.
