Pagi tadi kami bangun lebih cepat dari biasanya. Udara dingin yang menyelimuti pagi sama sekali tidak mampu mengalahkan semangat yang sudah memenuhi hati. Rasa kantuk seolah hilang begitu saja karena hari ini bukan hari biasa. Kami akan menghadiri reuni keluarga besar keturunan Aki Sukinta yang diselenggarakan di Villa Kancil, Kecamatan Solokan Jeruk.
Saya membayangkan, di rumah-rumah keluarga yang lain pun suasananya mungkin sama. Semua sibuk bersiap, mengenakan pakaian terbaik, lalu bergegas menuju tempat yang sama. Sebuah tempat untuk saling melepas rindu setelah sekian lama tidak berkumpul.
Dari berbagai daerah, Ciamis, Cianjur, Sukabumi, Jonggol, Bogor, Kota Bandung dan Kabupaten Bandung sebagai tuan rumah sekarang, datang untuk menghadiri acara yang sama. Mengobati rindu, mengantar hangat silaturahmi sesama keturunan Aki Sukinta. Anak, cucu, hingga cicit kecil yang baru berusia tiga tahunan.
Aki Sukinta memiliki lima orang anak. Namun, satu di antaranya telah lebih dahulu dipanggil oleh Allah Swt. Reuni kali ini dihadiri oleh empat keluarga besar yang kini telah berkembang menjadi lebih dari 75 anggota keluarga. Anak, cucu, cicit, menantu, semuanya berkumpul dalam suasana yang sederhana tetapi penuh kehangatan.
Setiap keluarga tentu memiliki alasan mengapa mereka mengadakan reuni. Umumnya sama, yaitu mempererat tali silaturahmi dan saling mengenal antargenerasi. Setiap tahun jumlah anggota keluarga terus bertambah. Anak-anak tumbuh menjadi remaja, remaja menjadi dewasa, kemudian menikah dan memiliki anak. Jika tidak ada momen seperti ini, bukan tidak mungkin suatu hari nanti saudara sedarah justru saling tidak mengenal.
Namun, bagi saya, reuni siang tadi memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar temu kangen.
Ada pelajaran berharga yang saya bawa pulang.
Salah seorang sesepuh keluarga, anak keempat Aki Sukinta, menceritakan kembali perjalanan hidup ayahnya. Beliau mengisahkan bagaimana Aki Sukinta begitu bersungguh-sungguh menanamkan pentingnya pendidikan kepada anak-anaknya. Bukan sekadar pendidikan formal, tetapi juga pendidikan agama dan akhlak.
Satu kalimat yang disampaikan benar-benar membekas di hati saya.
“Kalau bapak membekali harta, itu tidak akan cukup untuk menjalani hidup. Maka bapak akan membekali kalian dengan ilmu sebagai penerang kehidupan.”
Kalimat sederhana itu terasa sangat dalam. Harta bisa habis, bisa hilang, bahkan bisa menjadi sumber perselisihan. Namun ilmu akan tetap tinggal, menerangi jalan hidup seseorang ke mana pun ia melangkah.
Tidak mengherankan jika hingga hari ini keluarga besar kami masih memegang teguh nilai tersebut. Hampir semua orang tua berusaha memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anaknya, baik melalui sekolah hingga ke perguruan tinggi, maupun dengan memasukkan mereka ke pondok pesantren. Pendidikan dipandang sebagai warisan paling berharga yang bisa diberikan kepada generasi berikutnya.
Selain tentang ilmu, saya juga tersentuh oleh kisah mengenai anak pertama Aki Sukinta yang ternyata jauh lebih inspiratif dari yang selama ini saya tahu. Ia adalah uwak saya (rahimahullah). Allah sudah memanggilnya lebih dulu belasan tahun lalu.
Beliau dipanggil “Kaka Gede” oleh aki dan adik-adiknya. Sebagai sosok kakak tertua, ia berakhlak baik dan menjadi teladan bagi adik-adiknya sejak muda. Kharismanya tidak lahir dari jabatan ataupun kekayaan, melainkan dari keteladanan hidup yang dijalaninya setiap hari.
Beliau memegang teguh prinsip untuk tidak pernah meninggalkan salat. Sikapnya lembut, sabar, tidak mudah marah, dan selalu menasihati dengan cara yang menenangkan. Keteladanan seperti itulah yang ternyata mampu membentuk karakter adik-adiknya hingga sekarang.
Menyaksikannya dan mendapatakan teladan secara langsung bahwa Uwak memang sosok salih yang khariamatik adalah sebuah keberuntungan. Banyak nasihat baik yang saya dapat dari beliau di masa kuliah saat beliau masih ada.
Saya menyadari bahwa nasihat yang paling kuat memang bukan berasal dari kata-kata, melainkan dari contoh yang terus-menerus diperlihatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak heran, anak cucu uwak pun merupakan orang-orang yang bertutur kata lembut, karakternya tenang, mayoritas lulusan pesantren.
Rasa bangga lain menyeruak dalam dada. Saya merasa begitu beruntung berada di tengah-tengah keluarga yang super repek, perhatian dan saling mendukung satu sama lain.
Keluarga besar Bandung, Cianjur, Ciamis, Jonggol, Bogor Sukabumi adalah suport sistem terbaik yang selalu menerima, mendukung, dan mendoakan. Apapun kondisinya, keluarga besarlah yang selalu ada. Meskipun kadang keadaan diri sedang tidak baik-baik saja.
Reuni keluarga kali ini mengingatkan saya bahwa warisan terbesar sebuah keluarga bukanlah rumah, sawah, atau harta benda. Warisan yang sesungguhnya adalah nilai-nilai yang terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya: pentingnya menuntut ilmu, menjaga agama, berakhlak baik, serta merawat silaturahmi.
Saya merasa bangga menjadi bagian dari keluarga besar Aki Sukinta yang hingga kini masih berusaha menjaga nilai-nilai tersebut. Tentu kami tidak sempurna, tetapi kami memiliki teladan yang layak untuk terus dikenang dan diteruskan.
Reuni hari ini memang berlangsung sederhana. Tidak ada kemewahan yang berlebihan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah saya menemukan kehangatan, melepas rindu, mempererat silaturahmi, sekaligus membawa pulang banyak pelajaran hidup.
Barangkali, itulah makna sesungguhnya sebuah reuni keluarga. Bukan sekadar berkumpul untuk berfoto bersama, tetapi menjadi ruang untuk mengingat kembali dari mana kita berasal, nilai apa yang diwariskan kepada kita, dan seperti apa jejak yang ingin kita tinggalkan untuk generasi setelah kita.
Semoga silaturahmi ini terus terjaga.
