Ada satu hal yang mengingatkan saya pada sebuah pengalaman yang cukup menyakitkan. Ditinggal teman seperjuangan ketika sedang benar-benar harus berjuang ternyata membuat dada terasa sesak. Mulut tak mampu berkata-kata. Hanya bisa pasrah dan berkata, “sudahlah…” tanpa bisa berbuat apa-apa.
Beberapa tahun lalu, saya pernah memiliki tim yang super solid. Kompak dan benar-benar satu frekuensi. Lelah bekerja rasanya tak berarti lagi selama kami masih satu hati. Sesulit apapun bisa bekerja sama, bahu membahu. Sambil bekerja kami sudah sangat terbiasa berbagi beban. Apapun dilakukan asalkan tujuan tercapai dengan segera.
Sampai badai itu datang. Sesuatu terjadi membuat kami terpecah. Projek yang sedang kami lakukan bersama mengalami kegagalan. Saya sebagai leader, tentunya menjadi seseorang yang paling dicari banyak orang tidak terkecuali oleh atasan.
Beberapa pergi dan berhenti. Satu dua masih setia. Namun yang paling menyakitkan adalah, orang yang paling saya percayai bahwa dia akan selalu berada membersamai menyelesaikan masa-masa sulit memperbaiki semuanya, malah berbalik arah pindah haluan ke—arah lawan (saingan).
“Kalau tetap di sini, kita akan ada dalam bahaya. Aku tak mau kehilangan pekerjaan begitu saja,” katanya mengungkapkan alasan. Lalu pamit pegi membiarkan saya menanggung beban sendirian.
Mencoba Memahami Alasan
Sesakit apapun ditinggal teman ketika jatuh, selalu saya sisakan dalam hati ruang-ruang untuk memahami alasan. Sebab sedekat apapun orang lain tidak akan selalu satu pemikiran. Akan ada masanya seseorang itu pergi dan tidak lagi bersama kita.
Saya pun berusaha memahaminya. Alasannya memang cukup logis. Mungkin dia pergi bukan untuk semngaja meninggalkkan, tetapi “menyelatkan diri” berlindung di tempat yang lebih aman. Meskipun bebannya jadi bertumpuk di pundak saya seluruhnya kala itu.
Entah kenapa saat yang lain “cuci tangan” dan pergi, saya tidak terlalu merasa ditinggalkan. Namun ketika sahabat dekat itu mulai berbeda pendapat dan memilih meninggalkan saya ketika kami jatuh, saya benar-benar merasa dibiarkan jatuh sendirian.
Ia lebih memilih mengikuti seseorang yang dianggap lebih bisa menaungi dan menyelamatkan. Tidak peduli apapun yang akan dilakukannya nanti adalah pilihan yang dia lakukan saat itu.
Saya hanya menatapnya pergi tanpa bisa berkata-kata. Bukankah saat terpuruk, pilihan-pilihan sulit akan datang. Kamu harus memilih satu yang menurutmu paling selamat.
Sementara saya, tak bisa lari. Satu-satunya pilihan adalah menyelesaikan tanggung jawab. Mengambil konsekuensi yang ada. Berbulan-bulan berada dalam posisi serba salah sendirian. Padahal jika boleh membela diri, kesalahan ini bukan hanya saya yang buat. Kami tim, kami … Ah sudahlah.
Belajar dari Pengalaman Ditinggal Teman
Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa memahami kekuatan diri jauh lebih penting daripada bergantung pada keberadaan seorang teman. Fokus pada apa yang dilakukan diri jauh lebih berguna daripada meratapi kepergian seorang teman.
Berkali-kali saya menghibur diri dengan satu keyakinan: mempertahankan harga diri dan tetap menjadi diri sendiri adalah hal yang wajib dilakukan oleh setiap orang. Jika kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang benar, maka ikutilah suara hati.
Jangan mudah terpengaruh oleh orang-orang yang menghujat atau menekan kita untuk mengikuti arah yang berbeda. Apalagi harus menjilat dan mengelu-elukan seseorang demi agar keberadaan kita diakui.
Tidak ada gunanya berada dalam kelompok besar jika pada akhirnya kita hanya dijadikan alat, dimanfaatkan, atau bahkan dipaksa mendukung sesuatu yang kita yakini salah. Jumlah tidak selalu menentukan kebenaran.
Tidak Lagi Takut Kehilangan
Pengalaman ditinggalkan teman seperjuangan justru membuat saya semakin yakin bahwa mempercayai kemampuan diri sendiri dan mendengarkan hati nurani jauh lebih penting. Saya tidak ingin dijajah, ditekan, atau diintimidasi hanya demi mendapatkan posisi yang aman dan nyaman.
Tidak mengapa jika saya harus terbuang dari sebuah kelompok selama saya berada di jalan yang saya yakini benar. Saya tidak ingin diterima hanya karena menjilat atau mengorbankan prinsip yang saya pegang.
Kini saya tidak lagi terlalu takut kehilangan seseorang. Yang lebih saya takutkan justru kehilangan diri sendiri. Saya memilih jalan sendiri. Semakin dewasa, semakin mengerti bahwa ternyata kita bisa mengandalkan diri sendiri. Bisa memilih mana yang benar dan salah.
Berdiri sendiri dan mengambil pendapat-pendapat terbaik bagi diri sendiri jauh lebih menyenangkan dan menenangkan.
Menurut saya, bentuk kebebasan tertinggi yang dapat dimiliki seseorang adalah kebebasan untuk berekspresi dan mengaktualisasikan dirinya tanpa ancaman atau tekanan dari siapa pun.
Coba pikirkan. Apa gunanya memiliki jabatan tinggi jika hidup berada di bawah kendali orang lain? Apa gunanya kekayaan dan pendapatan besar jika pekerjaan yang dijalani bertentangan dengan hati nurani?
Karena itu, jangan takut ditinggalkan teman selama kita berada di pihak yang benar. Tetaplah berdiri tegak, meskipun harus sendirian.
