Seperti yang pernah saya ceritakan dalam artikel sebelumnya yang berjudul Menyambut Serangga Hadir di Ruang Hijau yang Kami Ciptakan Sendiri, seekor bunglon muncul tetapi tidak pernah bisa memotretnya. Meski begitu, mengamati bunglon di ruang hijau yang tersisa adalah pengalaman yang selalu menyenangkan.
Sampai akhirnya kesempatan itu datang. Ketika kami hendak bersiap bakar sate daging kurban di sore hari, suami saya melihat seekor bunglon melompat ke arah taman vertikal.
“Ambil hape cepat!” teriaknya.
Saya pun bergegas mengambilnya dan menyalakan kamera. Benar-benar tak ingin melewatkan kesempatan itu lagi.
Kali ini kami benar-benar mengintipnya diam-diam agar bunglon itu tidak curiga dan merasa terancam. Dengan sangat hati-hati kami bergantian mengambil gambar hewan mimikri yang pandai berkamuflase itu.
Gambarnya pun diambil dari jarak yang tidak terlalu dekat, menggunakan fitur zoom supaya kehadiran kami tidak membuatnya merasa terganggu.
Ruang hijau yang tersisa di halaman belakang rumah kami ciptakan sendiri sejak dua tahun lalu. Memang tidak terlalu luas, tetapi sepertinya cukup nyaman untuk mengundang kumbang, kupu-kupu, hingga bunglon datang dan tinggal di sana. Rasanya menyenangkan melihat ruang kecil yang awalnya biasa saja perlahan berubah menjadi tempat hidup bagi banyak makhluk.
Bunglon itu sering terlihat dengan ekornya yang panjang serta warna tubuh yang berubah menyesuaikan tempat ia hinggap. Meski pandai berkamuflase, tetap saja mata manusia masih bisa menangkap keberadaannya di sela dedaunan.
Saya cukup heran ketika melihat ukuran bunglon kali ini jauh lebih besar dibandingkan bunglon yang pernah muncul sebelumnya. Yang dulu tubuhnya kecil, sedangkan yang sekarang terlihat lebih dewasa dan gagah. Kami pun mulai berkesimpulan bahwa kemungkinan besar bunglon yang datang memang bunglon yang sama. Ia tumbuh dan hidup di ruang hijau kecil yang kami ciptakan sendiri.
Logikanya, halaman belakang rumah kami tidak berdekatan dengan area hijau lain. Jadi besar kemungkinan bunglon itu memang menjadikan tempat tersebut sebagai habitatnya. Ia hidup di antara daun-daun Thunbergia yang merambat, semak-semak pakis boston, simbar menjangan, dan berbagai tanaman lain yang kami susun di vertical garden halaman belakang.
Kehadiran bunglon ini memberikan kami pelajaran bahwa menciptakan habitat dan ekosistem flora serta fauna ternyata bisa dimulai dari rumah sendiri. Manusia cukup membantu menciptakan ruangnya, lalu membiarkan alam bekerja dengan caranya sendiri.
Setelah tanaman tumbuh, tidak perlu terlalu banyak campur tangan. Daun-daun akan saling menaungi, tanaman menjadi tempat paling nyaman bagi hewan-hewan kecil untuk datang, bahkan membangun rumah mereka di sana.
Saya pun merasa senang setelah berhasil memotretnya. Setelah itu, bunglon tersebut saya biarkan melanjutkan aksinya melompat di antara rimbunnya tanaman Thunbergia. Mungkin di sanalah ia akan terus tumbuh semakin besar. Kali ini panjang tubuhnya sekitar 20 sentimeter, belum termasuk ekornya yang menjuntai panjang hingga total ukurannya bisa mencapai sekitar 50 sentimeter.
Taman vertikal dan rambatan bunga thunbergia di belakang rumah benar-benar telah menjadi ruang hijau yang memberikan kami banyak pelajaran.
