Iduladha dan Idul Fitri memang selalu berbeda, karena merelakan ternyata memang lebih berat daripada memaafkan.
Sejak menikah, ini adalah tahun ke lima saya melaksanakan salat Iduladha di lingkungan rumah, tepatnya di kampung halaman suami. Saya sering merasakan adanya perbedaan selama Iduladha dan Idul Fitri. Saya tak berniat menyepelekan animo masyarakat soal perbedaan dan antusiasme salat hari raya di tengah masyarakat.
Hari raya Idul Fitri adalah hari dimana orang akan mengenakan pakaian terbaik dan bersalam-salaman di lapangan depan balai dusun. Lagipun memang dianjurkan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai seseorang. Ciri khasnya jika Idul Fitri, panitia akan menginstruksikan bahwa perempuan diharuskan membawa alas salat.
Karena perempuan biasanya ditempatkan di lapangan terbuka, jamaah Idul Fitri selalu membludak. Beberapa orang memang menjadikan momen ini sebagai momen pulang kampung, dan momen silaturahmi dengan sanak saudara di kampung. Biasanya, saya akan melihat wajah-wajah baru di sekitar kampung dan melihat jamaah-jamaah asing setahun sekali.
Mereka berbicara menggunakan bahasa pengantar dengan bahasa Indonesia namun dialek daerahnya masih kental dan terbawa. Terdengar beberapa orang asing itu saya dengar percakapannya dengan anak, suami, atau istrinya. Hampir semuanya menggunakan bahasa Indonesia yang mengakibatkan kerabatnya di kampung juga ikut menyesuaikan.
Mereka sering terlihat berbeda karena kadang menggunakan atribut yang sangat mencolok dan tidak terlihat seperti orang desa. Semoga para pembaca terbayang bagaimana cara mereka berpakaian. Mulai dari gaun putih yang elegan, perhiasan minimalis, minyak wangi semerbak, dan memakai kacamata hitam karena salat di lapangan terbuka.
Mukenanya bagus, kekinian dan kita bisa melihat aura orang kota di dalam dirinya. Antrean yang panjang untuk bersalaman hampir membuat saya merasa kurang khidmat saat bersalaman. Bertukar kata dengan tetangga yang sewaktu-waktu direpotkan dan siapa tahu hati mereka sakit karena kita.
“Siapa dia? Anak atau cucu siapa ya?.” Ujar seseorang setelah bubar bersalaman di lapangan.
Memang, biasanya dalam antrean akan menyalami banyak sekali orang asing yang membuat kami bingung sebab benar-benar tak mengenal mereka.
Berbeda dengan Iduladha, mereka yang pulang dari kota hampir bisa dihitung dengan jari. Namun beberapa dari mereka kadang menjadi orang yang sangat ditunggu-tunggu meski orang kampung tak benar-benar mengenalnya. Mereka adalah perantau yang pulang saat Iduladha dan membawa hewan kurban untuk dipotong dan dibagikan di kampung.
“Cucunya pa Koswara mau kurban di kampung kita katanya.” Ucap seseorang setelah mendengar pengumuman nama dari panitia.

Keberadaan mereka membawa keberkahan bagi kami di kampung. Mereka yang hidup di kota, berasal dari kampung dan merantau lalu pulang untuk menjadi berkurban. Berita seperti itu sangat menyejukkan bagi kami yang hidup di kampung.
“Kurban ya, tahun ini.” Sapa seseorang sembari menjabat tangan kerabat yang namanya disebut panitia tadi pagi dalam laporan pelaksanaan kegiatan DKM.
“Iya, Alhamdulillah.” Ucap orang asing yang berdiri di depan masjid saat itu.
Ada beberapa wajah yang memang sering memberikan hewan khusus untuk dikurbankan di kampung. Kerabat saya pernah bercerita, bahwa memang baiknya berkurban itu di kampung saja. Karena orang-orang di sini mungkin benar-benar jarang menikmati daging dan bahkan beberapa dari mereka kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.
Ada perasaan yang berbeda di hati dan getaran penuh haru ketika perayaan Idul Fitri dan Iduladha di kampung. Saat penyembelihan hewan selesai dilaksanakan, saya tersentuh dengan kalimat dalam status WhatsApp teman yang sangat hangat dan sampai ke hati saya. Isinya menyatakan bahwa ‘Iduladha dan Idul Fitri memang selalu berbeda, karena merelakan ternyata memang lebih berat daripada memaafkan.’

Seketika saya terdiam menatap langit, memikirkan dalam-dalam betapa rela itu memang benar berat urusannya. Berkorban bukan hanya tentang perasaan, tapi sesuatu yang diperbuat, direlakan dan diikhlaskan. Orang yang berkurban menyisihkan separuh hartanya untuk mencari keberkahan dengan cara berbagi untuk sesama.
Giri Aw, seorang influencer yang juga penjual Awug pernah menulis caption yang maknanya membekas di hati saya.
“Rezeki berkah itu, saat kebahagiaannya tidak berhenti, tapi meluas dan menjadi manfaat bagi sesama.”Â
Rela itu ketika hati merasakan kebahagiaan yang luas, bahkan saat melepas sesuatu. Semoga kalian yang datang sebagai perantau yang berkurban di kampung kami, panjang umur, sehat selalu, dimudahkan rezeki dan lancar dalam segala usahanya. Semoga selalu dilindungi Tuhan dan diberi perasaan bahagia dalam kead
