Sore itu kota terasa ramai seperti biasanya, suara motor saling bersahutan di jalan, angin berhembus dengan pelan melewati jembatan tua, sementara cahaya matahari mulai memantul di kaca gedung-gedung yang tinggi. Seorang remaja laki-laki duduk santai di pinggir sungai sambil memainkan pancing di tangannya. Jaket hitam yang dipakainya, sedangkan di sampingnya tergeletak kaleng umpan dan botol minuman dingin. Hampir setiap sore ia datang ke tempat itu hanya untuk memancing dan menghabiskan waktu sendirian. Remaja itu bernama Arieza Pratama.
Tidak jauh darinya, seorang pria tua sedang sibuk memunguti plastik-plastik tersangkut di bebatuan. Wajahnya dipenuhi garis-garis usia, tetapi tangannya masih begitu cekatan membersihkan pinggiran sungai. Orang-orang sekitar biasa memanggilnya Mbah Wahendra.
“Za, jangan lupa sampahnya dibuang ke tempatnya,” ucap Mbah Wahendra sambil tersenyum tipis.
Arieza mengangguk malas. “Iya, Mbah.”
Baginya, sungai itu hanyalah tempat mencari ketenangan setelah penat dengan keramain kota. Ia tidak terlalu peduli dengan keadaan sekitar, selama masih bisa memancing seperti biasa. Matahari mulai turun di balik gedung-gedung tinggi, membuat suasana sungai perlahan terlihat lebih redup. Arieza yang belum mendapatkan ikan, memilih bertahan lebih lama di pinggir sungai.
Tak lama kemudian, suara mesin mobil terdengar dari arah belakang gudang tua dekat jembatan. Sebuah truk besar berhenti di sana, Arieza mengernyit heran ketika melihat beberapa pria turun sambil membawa selang panjang. Awalnya ia tidak terlalu peduli. Namun beberapa detik kemudian, cairan hitam pekat mulai mengalir dari selang menuju sungai. Bau menyengat langsung memenuhi udara.
Arieza berdiri cepat. “Hei! Kalian ngapain?”
Salah satu pria menoleh tajam. “Udah, pergi aja kalau nggak mau kena masalah!”
Arieza mundur pelan. Jantungnya mulai terasa tidak nyaman. Dari kejauhan, ia melihat seseorang berdiri di dekat truk sambil memberi instruksi kepada para pekerja. Di sisi badan truk itu terlihat jelas logo pabrik Arunika Jaya, pabrik besar yang cukup terkenal di kota. Pria itu dikenal sebagai tangan kanan pemilik pabrik sehingga para pekerja selalu menuruti perintahnya tanpa banyak bicara. Karena itulah proses pembuangan limbah malam itu berjalan begitu lancar seolah sudah biasa dilakukan. Saat pria itu mendekat ke arah lampu jalan, mata Arieza langsung membesar.
“Kak Devano…?” gumamnya pelan.
Tubuhnya mendadak kaku. Ia mengenal wajah itu dengan jelas, yakni kakak kandungnya sendiri. Devano sempat menatap Arieza beberapa detik sebelum berjalan mendekat. Tatapannya begitu dingin.
“Za, anggap aja kamu nggak lihat apa-apa malam ini!!” ucap Devano pelan namun menekan.
“Tapi itu limbah, Kak. Sungainya-”
“Udah, pulang!!!” Devano memotong ucapan Arieza sebelum kembali berjalan menuju truk.
Malam itu Arieza pulang dengan pikiran kacau, bayangan cairan hitam yang mengalir ke sungai terus teringat di kepalanya. Ia bahkan sulit tidur hingga larut malam.
Keesokan paginya, suasana kota mendadak ramai. Banyak warga berkumpul di sekitar jembatan sambil menutup hidung karena bau busuk yang menyebar dari sungai. Air sungai berubah hitam pekat. Ribuan ikan mengapung mati di permukaan. Arieza hanya bisa berdiri diam memandangi sungai yang sering menjadi tempat favoritnya. Dadanya terasa sesak melihat ikan-ikan kecil terbawa arus begitu saja. Kondisi sungai yang semakin parah mulai direkam dan diunggah warga ke media sosial. Video air hitam penuh bangkai ikan dengan cepat menyebar dan menjadi perbincangan di seluruh kota. Tidak lama kemudian, warga mulai berdatangan ke depan Pabrik Arunika Jaya sambil membawa poster protes. Beberapa orang berteriak marah meminta pabrik ditutup karena dianggap merusak lingkungan dan membahayakan warga sekitar.
“Kalau terus begini, sungai ini bakal mati,” ucap Mbah Wahendra pelan di sampingnya.
Arieza menunduk gelisah. Bibirnya beberapa kali terbuka, tetapi ia tidak tahu harus mulai bicara dari mana.
Sejak kejadian itu, Arieza mulai jarang memancing. Setiap kali datang ke sungai, yang ia lihat hanyalah air keruh penuh sampah dan bau limbah yang begitu menyengat. Beberapa warga bahkan mulai menghindari area sungai karena takut terkena penyakit. Tidak ada lagi anak kecil yang bermain di dekat jembatan seperti dulu. Pedagang kaki lima yang biasanya ramai juga mulai pindah karena pembeli semakin sedikit. Suasana sungai perlahan berubah sepi dan suram.
Arieza hanya bisa berdiri diam sambil menatap permukaan air yang begitu gelap. Dalam pikirannya terus terbayang malam saat limbah hitam itu mengalir deras ke sungai. Ia sadar dirinya mengetahui semuanya, tetapi belum melakukan apa pun untuk menghentikannya.
Suatu malam saat makan malam, suasana rumah terasa sunyi.
“Pabrik lagi banyak masalah?” tanya ibu mereka pelan pada Devano.
Devano hanya mengangguk singkat. “Biasa.”
Arieza menatap kakaknya diam-diam, tangannya mengepal di bawah meja. Ia ingin marah, tetapi kata-kata terasa tertahan di tenggorokannya.
Malam itu Arieza tidak langsung tidur. Ia duduk sendirian di dekat jendela kamar sambil memandangi lampu-lampu kota dari kejauhan, kepalanya terasa penuh. Di satu sisi, Devano adalah kakaknya sendiri yang selama ini bekerja keras membantu keluarga mereka bertahan hidup. Namun di sisi lain, Arieza juga tidak sanggup melihat sungai semakin rusak setiap harinya.
Berkali-kali Arieza mencoba meyakinkan dirinya untuk diam. Akan tetapi, setiap melihat berita tentang sungai tercemar atau ikan-ikan mati mengapung di air, dadanya terasa semakin sesak. Ia mulai merasa ikut bersalah karena membiarkan semua itu terjadi. Beberapa hari kemudian, hujan deras mengguyur kota sejak sore. Sungai yang dipenuhi sampah dan limbah mulai meluap. Air cokelat kehitaman mengalir sampai ke jalanan. Kendaraan macet total dan beberapa rumah di dekat sungai mulai kebanjiran.
Di tengah hujan malam itu, Arieza berlari menuju sungai. Ia melihat Mbah Wahendra berdiri sendirian sambil menarik tumpukan sampah dari aliran air agar tidak menyumbat jembatan. Tubuh pria tua itu basah kuyup, tetapi ia tetap bertahan.
“Mbah, udah! Bahaya!” teriak Arieza.
Mbah Wahendra menggeleng pelan. “Kalau dibiarkan, airnya makin naik.”
Arieza langsung ikut membantu. Tangannya gemetar saat menarik sampah plastik dan ranting-ranting dari aliran sungai. Air hujan terus mengguyur tanpa henti. Arus sungai malam itu terlihat jauh lebih menyeramkan dari biasanya. Air hitam bercampur lumpur terus bergerak deras membawa sampah plastik, botol kosong, bahkan bangkai ikan yang terbawa arus. Suara petir bersahutan di langit membuat suasana semakin mencekam.
Beberapa warga terlihat berdiri cemas di pinggir jalan sambil memandangi air yang hampir masuk ke rumah mereka. Anak-anak kecil menangis ketakutan, sedangkan para orang tua sibuk mengangkat barang-barang agar tidak terkena banjir. Saat mereka berhenti sejenak di bawah jembatan, Mbah Wahendra menatap sungai dengan mata kosong.
“Dulu sungai ini jauh lebih bersih,” ucapnya lirih. “Ikan-ikannya banyak. Anak-anak sering berenang di sini.”
Arieza terdiam mendengarnya.
“Tapi semua berubah karena keserakahan manusia.”
Suasana mendadak hening beberapa detik sebelum akhirnya Arieza memberanikan diri berbicara.
“Mbah… aku tahu siapa yang buang limbah itu.”
Mbah Wahendra menoleh pelan “Siapa?”
“Kakakku sendiri. Dia kerja di Pabrik Arunika Jaya.”
Pria tua itu tampak terkejut. Namun bukan itu yang paling membuat Arieza bingung. Wajah Mbah Wahendra justru terlihat sangat terpukul ketika mendengar nama pabrik tempat Devano bekerja.
“Mbah kenapa?” tanya Arieza pelan.
Mbah Wahendra menghela napas panjang. “Karena dulu pabrik itu milik Mbah.”
Arieza membelalakkan mata.
Dengan suara pelan, Mbah Wahendra mulai menceritakan semuanya. Bertahun-tahun lalu, ia pernah menjadi pemilik pabrik besar di kota itu. Demi mempertahankan usahanya, ia membuang limbah ke sungai tanpa memikirkan dampaknya. Akibatnya, sungai rusak parah dan banyak warga kehilangan sumber air bersih.
Sejak saat itu, rasa bersalah terus menghantuinya. Mbah Wahendra akhirnya menyerahkan pengelolaan kepada orang lain dan memilih menghabiskan sisa hidupnya menjaga sungai sebagai bentuk penebusan dosa.
“Mbah nggak mau kesalahan itu terulang lagi,” ucapnya lirih.
Arieza menatap aliran sungai yang keruh dengan perasaan campur aduk. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa diam hanya akan membuat semuanya semakin buruk.
Keesokan harinya, Arieza memberanikan diri melaporkan pembuangan limbah itu kepada pihak berwenang. Ia juga mengunggah kondisi sungai ke media sosial hingga vidionya ramai dibicarakan warga kota. Sejak video itu viral, beberapa pekerja pabrik mulai memandang Arieza sinis. Bahkan ada yang menyalahkannya karena dianggap membuat banyak orang terancam kehilangan pekerjaan. Hal itu membuat Arieza semakin tertekan, tetapi ia tetap memilih bertahan demi menyelamatkan sungai.
Saat Devano mengetahui hal tersebut, pertengkaran besar tidak bisa dihindari.
“Kamu sadar nggak apa yang udah kamu lakuin?!” bentak Devano marah.
“Aku cuma mau sungainya berhenti rusak!” balas Arieza.
“Kalau aku kehilangan pekerjaan gimana?!”
“Terus kalau sungainya mati gimana?!”
Suasana rumah menjadi kacau. Ibu mereka menangis melihat kedua anaknya saling berteriak.
Untuk pertama kalinya, Arieza melihat Devano benar-benar kehilangan kendali. Wajah kakaknya memerah penuh emosi, sementara napasnya terdengar berat. Namun di balik kemarahannya, Arieza bisa melihat rasa takut yang selama ini disembunyikan. Devano sebenarnya sadar bahwa perbuatannya salah, hanya saja ia terlalu takut kehilangan pekerjaan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarganya. Sayangnya, ketakutan itu justru membuatnya memilih jalan yang menghancurkan lingkungan.
Beberapa minggu setelah kasus itu terbongkar, pabrik tempat Devano bekerja mendapat penyelidikan serius. Banyak warga mulai ikut membantu membersihkan sungai. Arieza dan teman-temannya juga turun langsung memunguti sampah di sekitar jembatan.
Membersihkan sungai ternyata tidak semudah yang dibayangkan Arieza. Hampir setiap hari, ia bersama warga lain harus turun langsung ke pinggir sungai untuk mengangkat tumpukan sampah dan lumpur hitam yang mengendap di dasar aliran air. Bau limbah yang menyengat sering membuat beberapa orang memilih menyerah di tengah jalan.
Namun Mbah Wahendra tetap bertahan. Meski usianya sudah tua, pria itu selalu datang paling awal sambil membawa karung besar dan tongkat kayunya. Tangannya penuh kerutan halus bergerak memunguti sampah satu per satu tanpa mengeluh sedikit kata pun. Melihat hal itu, Arieza mulai sadar bahwa menjaga lingkungan bukan sesuatu yang bisa dilakukan dalam sehari. Dibutuhkan kesabaran dan usaha yang terus dilakukan meski hasilnya tidak langsung terlihat.
Devano sempat membenci Arieza. Namun suatu sore, ia melihat sendiri anak-anak kecil menutup hidung saat melewati sungai yang hitam dan bau. Untuk pertama kalinya, rasa bersalah mulai muncul di dalam dirinya. Perlahan, Devano mulai membantu membersihkan sungai bersama Arieza, Mbah Wahendra dan warga lainnya. Meski hubungan mereka belum sepenuhnya membaik, setidaknya Devano mulai menyadari kesalahannya.
Suatu sore setelah selesai membersihkan sungai, Arieza duduk di bawah jembatan sambil memandangi air yang mulai terlihat lebih jernih dari sebelumnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat beberapa ikan kecil berenang di dekat bebatuan. Senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.
“Ternyata sungai ini masih mau bertahan,” gumam Arieza pelan.
Beberapa bulan kemudian, keadaan sungai perlahan berubah. Airnya memang belum sepenuhnya jernih, tetapi bau limbah sudah mulai berkurang. Ikan-ikan kecil kembali terlihat berenang di dekat pinggiran.
Sore itu Arieza kembali duduk di tempat favoritnya sambil memegang pancing. Angin berhembus pelan melewati jembatan tua, sementara cahaya matahari sore memantul di permukaan air yang mulai bersih. Tidak jauh darinya, Mbah Wahendra tersenyum kecil sambil memunguti sisa sampah di pinggir sungai. Kali ini, Devano ikut berdiri di samping pria tua itu membawa kantong sampah hitam besar. Arieza menatap sungai cukup lama sebelum akhirnya tersenyum tipis. Ia akhirnya sadar bahwa alam akan tetap bertahan jika masih ada orang yang peduli dan mau menjaganya.
~SELESAI~
