Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan predikat makhluk sempurna. Mereka diberikan akal, hati nurani, perasaan empati, dan sisi kemanusiaan. Manusia dibekali akal untuk menentukan sesuatu yang baik dan yang buruk.
Akal baiknya digunakan untuk melakukan hal-hal yang positif serta menampilkan contoh terbaik pada orang lain. Seperti hari ini, di tengah arus globalisasi yang semakin tak terbendung, banyak sekali sesuatu yang bisa mempengaruhi kehidupan manusia. Banyak perspektif yang bisa diambil: mulai dari sisi psikologis, atau melalui pandangan agama.
Tetapi kali ini, saya menempatkan diri saya sebagai perempuan biasa. Seorang ibu dan istfi yang melihat sendiri fenomena di masyarakat saat ini, ketika saya tumbuh dewasa dan menjadi orang tua. Sebagai pembuka, artikel ini akan saya buat menjadi beberapa bagian.
Karena ternyata setelah disadari, menjadi perempuan tidaklah sederhana. Banyak sekali hal yang harus dibahas, bukan hanya soal kemampuan mengerjakan pekerjaan domestik, merias diri, atau pembawaan diri semata. Melainkan banyak sekali sesuatu yang harus diluruskan di kehidupan sehari-hari.
Banyak hal yang harus diklarifikasi dalam kehidupan kita sehari-hari sebagai perempuan. Tentunya hal ini sangat rawan, karena berkaitan langsung dengan kita sebagai perempuan. Sebagai ibu yang mengemban amanah, menjadi sekolah sekolah pertama bagi anak dan keturunan.
Jika kita tidak berhati-hati, nantinya akan menimbulkan efek domino. Inilah bukti, betapa berperannya akhlak dan kepribadian perempuan untuk membangun generasi selanjutnya. Sebelumnya, tulisan ini tidak mewakili redaksi, melainkan pandangan pribadi saya sebagai penulis.
Pada bagian ini, saya akan membahas satu hal yang memang sedang terjadi hari ini. Orang lihat mungkin hal sepele, namun saya rasa ini sangat berpengaruh pada pembangunan generasi selanjutnya. Kemajuan yang semakin sulit dibendung, merangsek masuk ke celah jendela, pintu dan hati seluruh anggota keluarga.
Kita sebagai perempuan, ibu dan istri di rumah harus bisa menjadi pengendali. Selain menjadi pengendali diri sendiri, tentunya sebagai ibu dan istri harus menjadi role model terdepan serta dan tolok ukur baik dan tidaknya seorang perempuan di mata anak-anak. Hari ini kita melihat sendiri, bagaimana cara berpakaian orang-orang di lingkungan kita.
Sedikit banyak, tentunya ada pengaruh yang masuk ke masyarakat. Paling tidak bisa kita lihat orang-orang di sekitar kita, ataupun anggota keluarga dan kerabat kita mengikuti trend berpakaian. Baik itu caranya, membeli model pakaian yang digandrungi, atau model-model yang menganut seseorang di media sosial.
Dari fenomena yang sederhana ini saja, kita semua tahu bahwa hari ini ada situasi yang terjadi di masyarakat dan sangat kompleks. Di mana di dalamnya ada banyak pergeseran cara perempuan mengekspresikan diri. Mereka menganggap bahwa berpakaian, adalah salah satu hal yang harus masuk dalam daftar tren.
Anjuran yang diberikan oleh agama Islam sudah jelas, bagaimana seharusnya perempuan berpakaian. Namun dalih bahwa mereka sedang mengalami perjalanan menuju kebaikan (orang-orang menyebutnya kini sebagai proses hijrah) selalu menjadi andalan. Sayangnya, proses itu selalu menjadi hal yang dianggap berlebihan ketika mengekspresikannya di media sosial.
Dalam perspektif saya sebagai perempuan dan ibu, rasanya hal itu bisa dilihat dari dua sisi. Satu hal dilihat sebagai perubahan menuju akhlak yang lebih, satu sisi lainnya mereka lebih kepada menampakan wajah, lekuk tubuh, dan ekspresi yang mengundang lawan jenis bereaksi. Katanya tren dan baunya selalu positif, lebih baik dari kemarin.
Sebagai perempuan, apa yang bisa kita lakukan adalah menjaring apapun yang akan kita bagikan ke khalayak ramai. Kita sendiri yang menjaga diri kita dari sesuatu yang tidak diinginkan. Menjadi tontonan, menjadi media visual yang tidak-tidak oleh pria diluar sana, atau banyak lagi hal berisiko lainnya.

Dalam beberapa fase belajar berpakaian, saya juga menggunakan pakaian yang belum sempurna secara agama. Namun saya menyoroti bagaimana banyak perempuan membagikan visual mereka dengan berbagai tren berhijab dan padu padan pakaian yang semakin beragam. Saya menulis ini bukan berniat menggurui dan mengkritisi seseorang atau banyak.
Saya memposisikan diri sebagai perempuan dan ibu, apalagi saya memiliki anak perempuan. Saya sangat merasakan betul efek yang terjadi hari ini, di mana trend sangat mudah masuk ke kaum perempuan. Saya melihat betul anak perempuan dengan penutup kepala tanpa pentul, dan berkerudung menutupi dada dengan satu pentul.
Saya pun melihat dan memilih bagaimana cara perempuan mengekspresikan diri di media sosial. Sekali lagi perspektif itu bisa dilihat dengan mata kita masing-masing, apakah benar-benar cara berhijrah atau hanya mengekspresikan diri mereka saja. Banyak hal yang perlu perempuan saring di masa kini, untuk dirinya dan untuk lingkungan terdekatnya.
Bukan soal tren, berpakaian mengikuti syariat beragama adalah hal penting. Namun kita harus bisa memilih apa yang terbaik untuk diri kita sendiri. Kita bisa melihat dan mencoba beberapa tutorial berkerudung yang sedang tren.
Namun cara berpakaian yang baik dan benar tetaplah menggunakan kerudung yang panjang dan menutupi dada. Pakaian yang benar tetaplah pakaian longgar yang menutupi seluruh badan. Saya pun belum sempurna menjalani syariat yang harus dijalani oleh seorang perempuan dalam agama.
Tulisan ini hanya berisi dinamika dalam bermasyarakat, saya hanya seorang ibu yang belajar memilih tren dan berhati-hati menerapkannya. Karena saya menyadari penuh, anak akan melihat saya terlebih dahulu sebagi ibunya. Melihat saya secara utuh, bagaimana cara dia melihat hidup perempuan, melihat perempuan mengontrol dirinya di dunia.
Saya sama sekali tidak menganggap buruk tren yang sedang terjadi. Karena jujur, perempuan pun ingin terlihat cantik dan modis tanpa menghilangkan kewajiban berpakaian yang baik. Bagi saya pribadi, menjadi ibu banyak tantangannya.
Banyak keteladanan di masyarakat yang harus dicerna baik-baik oleh saya selaku manusia yang menjadi perempuan. Mau tidak mau saya akan menjadi contoh bagi anak saya nanti, dimana sayapun akan mendidik calon ibu. Jadi sejak dini, saya memperlihatkan bahwa di luar sana terdapat banyak hal positif dan lainnya.
Kuncinya hanya diri, hati, dan pikiran anak yang bisa mengendalikan itu semua. Jadi tugas saya terlebih dahulu mempersiapkan dasar dan pola pikir yang baik bagi anak saya. Saya masih perlu banyak belajar menjadi ibu, perempuan, dan istri.
Apa yang saya tulis di sini adalah satu sudut pandang pribadi dan sama sekali tidak menjelekkan tren apapun. Semua berproses, semua baik, dan semua hal pasti ada sisi positifnya. Sampai jumpa di artikel selanjutnya mengenai perempuan dan tren bagian dua.
