Mendapatkan Informasi Bimtek Kepenulisan Dispusip Kabupaten Bandung
Malam hari, saat asam lambung tak bisa diajak kompromi dan kantuk menghilang entah ke mana, jari ini iseng membuka media sosial. Sebuah pesan masuk dari sahabat lama—kami pernah berjanji untuk saling menguatkan meski tinggal berjauhan.
“Teh, ikutan ini coba,” tulisnya.
Sebuah informasi tentang bimtek kepenulisan terpampang. Dipublikasikan oleh media sosial resmi dispusip kabupaten bandung. Kesempatan ini terbuka bagi para penulis untuk mengikuti Bimtek Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal Kabupaten Bandung, dengan kuota terbatas hanya 75 orang.
Senang? Tentu saja. Ini kesempatan langka. Jarang sekali ada ruang untuk bertemu dengan orang-orang yang satu frekuensi—mereka yang percaya bahwa menulis memang seasyik itu. Apalagi, saya baru tiga tahun berdomisili di Kabupaten Bandung.
Namun waktu pendaftaran hampir habis. Sudah pukul 23.00. Masih bisakah saya ikut? Pertanyaan itu terus mengganggu. Tanpa menunggu lama, saya langsung mendaftar.

Mendaftar di Detik Terakhir, Antara Harap dan Pasrah
Jujur, saya tidak terlalu berharap. Mendaftar di detik-detik terakhir membuat saya hanya bisa pasrah. Malam semakin larut, sementara sesak di dada akibat asam lambung masih terasa.
Laptop ditutup. Saya harus segera tidur. Jika tidak, bahkan jika lolos sekalipun, izin untuk pergi bisa saja batal—suami tentu khawatir karena GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) saya sedang kambuh.
Pengumuman yang Dinanti dan Sebuah Pertemuan Tak Terduga
Keesokan harinya, pengumuman peserta bimtek kepenulisan dispusip kabupaten bandung hadir seperti air sejuk di tengah dahaga.
Nama saya ada di sana.
Saya pun bersiap. Buku, pena, tumbler, dan semua keperluan sudah disiapkan sejak malam. Harus berangkat pagi karena lokasi cukup jauh.
Tak lama, sebuah pesan masuk:
“Ini Teh Diantika yang penulis novel itu?”
Sontak saya tersenyum. Ada yang mengenal saya, meski kami belum pernah bertemu.
Namanya Popi. Ia mengaku menyukai karya-karya saya. Alhamdulillah, setidaknya saya tidak akan benar-benar sendirian.
Namun ada satu hal yang sempat terlupa: meminta izin. Setelah berterus terang, izin pun diberikan—dengan satu syarat: saya harus memeriksakan diri ke dokter terlebih dahulu.

Belajar dan Bertumbuh di Bimtek Kepenulisan
Di lokasi, saya bertemu dengan sekitar 75 penulis dari berbagai latar belakang. Mereka luar biasa—dan membuat saya tak henti berdecak kagum.
Ada pegiat literasi dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM), penulis dengan ratusan karya, kreator komik, hingga anak-anak muda dengan semangat besar di dunia kepenulisan.
Meski saya sudah cukup produktif menulis, jujur saya merasa kecil di tengah mereka. Namun keakraban yang tercipta justru menghadirkan kenyamanan. Ada kehangatan dalam kebersamaan itu.
Para pemateri pun tak kalah mengesankan. Mereka menyampaikan materi secara mendalam, tetapi tetap mudah dipahami. Apa yang disampaikan benar-benar terasa “mendarat” di kepala.
Pulang dengan Semangat Baru dari Bimtek Kepenulisan Dispusip Kabupaten Bandung
Selama tiga hari mengikuti bimtek kepenulisan, sambil menahan kondisi tubuh yang belum sepenuhnya pulih, saya justru menemukan energi baru.
Saya pulang bukan hanya membawa ilmu, tetapi juga semangat untuk terus memperbaiki tulisan—dan diri sendiri.
Semoga kebersamaan yang terjalin selama kegiatan bimtek kepenulisan dispusip kabupaten bandung ini tidak berhenti di sini. Dan semoga literasi di Kabupaten Bandung terus berkembang, tumbuh, dan semakin kuat.
