Apa yang terbayang di benak anda saat seseorang bertanya tentang rumah. Apakah rumah orang tua lebih nyaman, rumah mertua lebih menyenangkan, atau rumah sendiri yang lebih menenangkan. Tentunya kita semua akan memilih rumah sendiri, yang isinya suami istri dan anak.
Berumah tangga tentunya tidak selamanya mulus, selalu ada sumber kelelahan dan masalah kecil hingga besar yang sebenarnya harus kita selesaikan dengan kepala dingin. Diselesaikan oleh diri kita sendiri, berdiskusi dengan pasangan, dan banyak lagi hal lainnya. Mencari cara paling minimal untuk mempercepat penyelesaian masalah.
Namun dalam penerapannya ternyata dalam rumah tangga memang tidak sepenuhnya semua masalah harus benar-benar kita telan sendiri. Banyak hal yang memerlukan pandangan orang lain, salah satunya adalah orang tua. Kita mungkin tidak bisa membeberkan masalahnya secara terperinci, namun dengan bertemu orang tua dan mencari hiburan di rumah orang tua, adalah salah satu cara untuk menyegarkan kembali mental pikiran dan beban yang menumpuk di dalam kepala dan hati kita.
Jika suami bisa mengajak saya dan anak untuk pergi ke rumah mertua, lain lagi dengan saya. Meskipun saya memiliki Ayah yang sangat pengertian dan menenangkan, namun tidak bisa saya pungkiri, saya selalu menemukan celah dan kekurangan saat saya pulang ke rumah orang tua. Rumah orang tua saya sekarang sudah tidak sesempurna yang bayangkan.

Ayah saya yang kuat, bijaksana, dan sempurna tetaplah orang biasa dan manusia yang tidak bisa mengendalikan takdir. Ayah harus berpisah dengan ibu saya, dan ibu saya dimakamkan di samping rumah. Saya selalu menyebutnya sebagai rumah baru ibu, karena saya masih menganggap bahwa ibu saya masih hidup di benak hati dan kepala saya.
Bahkan raganya masih hidup dalam perwujudan saya hari ini. Setelah saya menjadi Ibu, banyak sekali sesuatu yang ingin saya ceritakan pada ibu saya. Keluhan saya saat hamil, keluhan saya saat pertama kali memiliki putri, saat mendidik anak, dan keluhan saya saat menghadapi banyak masalah dengan suami.
Jika perempuan lain berkata, setelah menjadi ibu rasanya nyaman sekali sesekali pulang dan menjadi anak. Hal itu juga yang ingin saya rasakan. Baiknya ternyata, Tuhan lebih percaya bahwa saya bisa lebih mudah menjalani itu semua tanpa ibu.
Setiap saya pulang ke rumah orang tua, saya hanya bisa menyambangi rumah baru ibu saya. Bercerita di sana panjang lebar, saya memperkenalkan anak dan suami saya, memperkenalkan diri saya sebagai individu baru dan semuanya saya ceritakan. Biarlah orang berkata apa pada saya.
Saya menyetujui satu satu kalimat yang mungkin orang anggap aneh dan mengerikan.
“Pemakaman tidak lagi menakutkan setelah orang yang kita cintai menjadi salah satu penghuninya.”
Karena cinta yang saya punya, dan ikatan yang ada pada diri saya dan ibu membuat saya selalu senang dan bersemangat untuk bertemu dengan ibu di rumah barunya.
Rumah baru Ibu sangat sederhana, batu bata dan tanah yang disusun rapi menjadi penanda sejak rumah Ibu pindah ke sana. Desainnya sangat sederhana seperti karakter dan kepribadiannya yang pernah saya kenal dulu. Meskipun di waktu yang sangat singkat itu, tapi saya tahu betul bahwa ibu saya adalah orang yang sederhana.
Ia tidak terlalu suka berhias dan merias diri, namun ia tetap cantik di mata saya. Menyambangi rumah baru ibu sebagai perempuan dan ibu baru, tentunya sangatlah berat. Namun saya percaya, Tuhan bersama saya sampai saat ini.
