6 Hal yang Patut Direnungkan Guru Pengajar Kekinian

Banyak sekali hal yang patut direnungkan dalam kehidupan kita sebagai manusia. Sebagai apapun profesinya, merenung dan mengevaluasi diri dipercaya mampu menjadikan diri seseorang berkeinginan untuk bangkit menjadi pribadi yang jauh lebih baik. Tidak terkecuali seseorang yang mengakui dirinya sebagai guru.

Memang, menjadi guru itu tidaklah mudah. Mengajarkan anak berbagai hal sampai ia bisa melakukan, perlu ketelitian yang maksimal. Apalagi di zaman serba canggih seperti sekarang, anak-anak tidak lagi belajar dari satu sumber. Mereka bahkan jauh lebih cepat mengakses informasi melebihi kecepatan akses yang dilakukan gurunya sendiri.

Agar tetap bisa mengimbangi kemajuan zaman dan anak-anak yang kadang-kadang memiliki pengetahuan lebih maju dari gurunya, ada beberapa hal yang patut direnungkan oleh seorang guru yang mengajar di era kekinian.

1. Guru bukan satu-satunya orang yang pintar seperti zaman dulu

Read More

Dulu, ketika zaman masih jauh dari sebaran teknologi dengan perangkat-perangkat canggihnya, sesuatu yang dianggap canggih dan pembawa pembaruan adalah guru. Manusia yang dengan sengaja mempelajari ilmu di jenjang pendidikan yang tinggi. Dielu-elukan sebagai seorang guru. Tempat orang belajar, bertanya sesuatu, menghabiskan rasa penasaran yang mengganggu. Kalau ada yang bingung, “tanya saja pada pak guru!”

Namun sekarang, sama sekali tidak sampai di situ. Ketika menemukan kebingungan cukup membuka laman Google semua orang tidak terkecuali anak-anak akan menemukan jawaban yang bahkan jauh lebih jitu dibandingkan dengan apa yang dipaparkan guru.

Maka andai seorang guru tidak rajin belajar dan memperkaya khazanah wawasan pengetahuannya, sudah dapat dibayangkan apa yang akan terjadi di kelas ketika siswa jauh lebih pintar daripada gurunya?

2. Dunia semakin maju jika tidak menyesuaikan maka akan ketinggalan

Masih ada hubungannya dengan bahasan yang di atas. Bahwa dunia semakin maju. Jika guru tidak menyesuaikan diri, berusaha selaras dengan apa yang sedang bergulir, apa yang sedang booming, dan apa yang sedang in sekarang, maka guru tidak lagi memiliki peran sebagai benteng pergaulan bagi anak-anak didiknya.

Mengikuti zaman bukan berarti harus mengikuti trend, larut, lalu terbawa arus. Namun sebagai guru harus mampu membaca situasi setiap saat. Sehingga jika timbul sebuah gejala tertentu pada siswa, maka berbekal wawasan yang cukup, seorang guru akan mudah menemukan akar permasalahannya.

Saya rasa, tidak ada salahnya jika Anda sengaja mencari tahu soal jenis-jenis permainan online yang kini sedang digandrungi anak-anak, soal mainan paling laris di aplikasi-aplikasi jualan online, film apa yang sedang booming dan ditonton, sampai kalimat atau kata gaul apa yang sekarang sedang in di kalangan remaja dan anak-anak. Hal-hal tersebut sangat penting dilakukan sebagai modal untuk menangani permasalahan-permasalahan yang sering muncul pada anak.

Bersemangat lah, sempatkan walau sejenak. Jangan sampai menjadi pribadi yang kurang up to date.

3. Guru bukan profesi, melainkan sebuah amanah yang sengaja Anda ambil dengan segala risikonya

Jika Anda mencari pekerjaan enak dan mengharapkan gaji yang lebih dari layak maka jangan pernah memilih menjadi guru. Walaupun di beberapa lembaga, menjadi guru mendapatkan bayaran yang fantastis, itu tidak serta merta membuat seorang guru menjadi profesi yang selalu menjanjikan.

Menjadi guru adalah tugas mulia sekaligus amanah besar yang tidak sengaja diambil dengan segala risikonya. Ada beban moral dan mental yang diperhitungkan di sana. Tidak terkecuali guru di lembaga kursus sekalipun. Apalagi di sebuah lembaga yang notabene sebagai lembaga pendidikan.

Tentu Anda pernah mendengar ungkapan-ungkapan semacam berikut,

“Anak soleh, karena bimbingan orangtuanya. Namun anak nakal, jelas karena gurunya yang tidak bisa mengajar etika dengan baik.”

“Anak cerdas itu karena genetika, tetapi ketika anak jadi tinggal kelas, maka sekolah yang dianggap tega.”

“Anak menang lomba tahfiz, karena bapaknya ustaz, tetapi jika anak tawuran itu karena gurunya yang tidak becus mengajarkan kebenaran. Selalu, sekolah yang disalahkan”

Artinya, menjadi guru adalah pekerjaan intelektual, harus dipupuk dengan spiritual, menjalaninya harus kuat mental, karena pertanggungjawabannya bukan hanya pertanggungjawaban profesi. Melainkan pertanggungjawaban moral, dunia dan akhirat.

Walaupun jam tugas sudah berhenti di jam tertentu, sebagai guru tidak lantas lupa pada perannya. Sebagai mahluk sosial dan beragama, guru harus senantiasa memperbaiki kualitas dirinya.

Di luar rumah, saat ia tidak mengajar di hari libur, guru harus tetap melakukan hal-hal positif seperti, memberikan nasihat kepada keluarga, memberikan teladan kepada anak-anak di rumah, kepada masyarakat di sekitar tempat tinggal dan pada siapa saja yang bertemu. Karena menjadi guru bukan sedang main sandiwara, dimana hanya memerankan peran protagonis dan menyenangkan ketika di dalam kelas saja.

4. Orangtua siswa adalah orang-orang yang berpikiran maju yang tidak mudah menerima sebuah hal mentah-mentah

Orangtua siswa zaman sekarang adalah orang-orang yang sama-sama hidup di era milenial. Mereka adalah generasi yang dididik dalam lingkungan yang beragam. Membuat wawasan mereka pun begitu luas dan dalam. Jika guru masih betah jalan di tempat, bersiaplah untuk tidak lagi diperhitungkan. Banyak contoh kasus yang membuat orangtua meragukan kredibilitas seorang guru.

Seorang anak di kelas bawah mendapatkan nilai hafalan doa harian yang kurang memuaskan dari gurunya. Anak tersebut dinyatakan belum bisa melafalkan doa sebelum tidur. Padahal di rumah, anak tersebut bukan hanya hafal, ia pun sudah sangat terbiasa mengaplikasikan doa tersebut setiap hari.

Orangtuanya merasa heran, dan merasa penasaran. Ketika pembagian laporan pendidikan adalah kesempatan bagus untuk mengetahui hal yang sebenarnya. Ternyata, belakangan diketahui jika di sekolah tersebut mengajarkan satu jenis doa sebelum tidur. Hal yang sangat disayangkan adalah, guru yang mengajar belum terlalu paham bahwa ada lebih dari lima lafal doa sebelum tidur dan dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam.

Menjadi cerdas bukan hanya mempelajari hal-hal baru. Melainkan terus membuka diri pada kebenaran, termasuk kembali mempelajari ajaran dasar, Alqur’an dan Sunnah, agar tidak mudah menyalahkan.

5. Anak-anak diciptakan Allah dengan kesempurnaan

Guru adalah pengajar yang memiliki hak dan kewajiban untuk membimbing dan mengarahkan. Namun nyatanya anak-anak memiliki kebiasaan, karakter dan kepribadian unik yang tentunya lebih banyak dipengaruhi oleh  lingkungannya di luar sekolah yang hanya belajar beberapa jam saja.

Dalam hal ini guru bukan hanya harus berhati-hati memberikan pengertian dan penjelasan kepada siswa ketika ia melakukan hal yang keliru dan melenceng dari apa yang telah diajarkan. Namun, guru pun perlu meningkatkan kepekaan terhadap kemungkinan-kemungkinan yang menjadi pemicu kekeliruan siswa.

Contoh kasus kecil di berikut ini menjadi gambaran bahwa kesalahan yang dilakukan siswa tidak selamanya salah.

Anak kelas dua Sekolah Dasar mendapatkan pertanyaan pilihan ganda pada soal akhir semester mengenai kegiatan sehari-hari. Di kelas, sang guru sudah menjelaskan urutan kegiatan normatif yang dilakukan anak sekolah pada pagi hari. Bahwa setelah bangun tidur itu mandi, sikat gigi, sarapan lalu pergi ke sekolah. Anak tersebut memilih jawaban dengan opsi “Membantu orangtua.” Padahal jawaban yang diharapkan adalah sarapan. Akhirnya jawaban anak tersebut mutlak salah. Anak tidak mendapatkan poin nilai dari satu soal tersebut.

Sementara di sisi lain, anak tersebut memang aktivitas terakhir sebelum berangkat ke sekolah adalah menyapu dan membuangkan sampah ke tempat sampah utama setiap pagi. Mari renungkan, dalam kasus ini siapa yang salah?

6. Di dunia ini hidup jutaan miliar manusia dengan pemahaman dan pola pikir yang berbeda tidak terkecuali siswa Anda.

Memang, tidak ada manusia yang sempurna. Namun harus diingat, tak ada yang lebih bisa mengalahkan kebodohan kecuali rasa ingin tahu yang terus tumbuh dalam diri seseorang. Guru yang harus serba tahu bukan berarti harus mahir dalam segala bidang. Yang perlu dilakukan adalah terus membuka diri pada pembaruan dan terus sadar diri dengan adanya perbedaan sehingga tidak serta merta gampang menyalahkan.

Selain itu, menjadi gur pun harus mengerti dan paham situasi. Termasuk ketika menerima jawaban anak atas pertanyaan-pertanyaan yang ada di buku pelajaran atau soal apapun yang ada di buku-buku atau kurikulum.

Ingat, buku pun buatan manusia. Jika guru harus patuh pada kurikulum yayasan atau kurikulum dari dinas pendidikan maka jika ada jawaban siswa yang berbeda dengan keharusan yang tertera di buku atau kurikulum yang ada seharusnya guru memberikan pemakluman, penjelasan dan bimbingan yang mencerahkan kepada siswa.

Contoh kasus terakhir. Seorang anak selesai mendapatkan pelajaran tentang energi dan energi cadangan serta penggunaannya. Ketika di buku ada soal yang harus diisi, bunyinya begini,” Ibu mencuci menggunakan energi…. Anak tersebut membubuhkan “energi listrik.”

Karena jawaban yang diharapkan adalah energi air, maka jawabannya salah. Padahal memang ibunya menggunakan mesin cuci untuk mencuci. Lantas, jika sudah begitu, bagaimana sebenarnya penjelasan dan tindakan tepat yang harus dilakukan oleh guru?

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *