Suamiku Pemabuk dan Suka Main Perempuan

Suamiku pemabuk dan suka main perempuan

“Suamiku pemabuk dan suka main perempuan, Mbak,” katanya di antara isak tangis Rina.

Teman satu kampung yang sudah lama sekali tidak ketemu itu memutuskan untuk menceritakan segala kegelisahan yang ada dalam hati dan benaknya kepadaku.

“Aku sudah tidak tahan lagi menahannya sendirian. Keluarga besarku tidak boleh tahu. Makanya aku pendam sendirian.”

Ketika aku tanya kenapa harus memendam, bukankah lebih baik disampaikan kepada orang yang bisa dipercaya? Salah satunya pada keluarga.

Read More

Karena kadang, ketika kita punya masalah bukan solusi yang kita harapkan. Melainkan hanya sebuah bahu untuk bersandar. Sepasang telinga untuk mendengar seluruh keluh kesah dan sosok yang memahami apa yang kita rasakan, bukan malah membombardir dengan nasihat dan bahkan menyalahkan.

“Karena keluargaku sejak dulu sudah mewanti-wanti, saat aku bilang mau nikah sama dia. Aku dibesarkan oleh om dan tante, Mbak. Bukan ayah dan ibuku. Ayah dan ibu sudah sering bertengkar sejak aku kecil. Bahkan ayah sering didatangi perempuan yang mengaku sebagai istrinya. Aku melihat itu dengan nyata. Aku merasakan benar, sakitnya bagaimana. Makanya sekuat tenaga aku ingin keluargaku ini utuh.”

Aku cukup paham apa yang Rina rasakan. Ia tidak ingin apa yang terjadi padanya terulang kembali terjadi pada anak-anaknya.

“Belum lagi, sejak lama keluargaku banyak dibiayai suami. Aku bahkan tidak punya cukup nyali untuk menceritakan semua. Satu sisi, aku tidak mau menyakiti saudaraku yang sudah pernah mencegah aku menikah dengan suamiku yang notabene tahu riwayat keluarga suami yang dicap sebagai tukang main perempuan. Alasan lainnya adalah, jika aku mengeluh, itu hanya akan membuat suamiku semakin berani karena merasa berjasa pada kehidupanku.”

Rani tertunduk lemas ketika menceritakan semua. Kehidupannya yang kukira baik-baik saja ternyata begitu penuh drama.

Kisah pilunya ternyata sudah berawal sejak tahun-tahun awal pernikahan. Karir sang suami semakin meroket, penghasilan semakin banyak.

Seperti apa yang dikatakan banyak orang, kesetiaan perempuan diuji ketika tidak memiliki apa-apa. Sedangkan ujian kesetiaan lelaki diuji ketika ia sedang berkecukupan. Maka tidak heran, jika ujian suami Rina adalah perempuan.

Masalah berlanjut, ketika Rina memiliki anak ketiga. Sang suami mengaggap bahwa dirinya tidak pandai mengurus diri. Sementara suaminya tidak memfasilitasinya untuk sekadar memperbaiki tampilan.

“Anakku tiga, suamiku tidak memberiku uang untuk perawatan atau sekadar jalan-jalan untuk melepas penat di kepalaku, Mbak. Uang yang dia kasih, benar-benar uang untuk kami makan dan biaya sekolah anak-anak. Belum lagi usia anak sangat berdekatan. Bagaimana aku mengurus diri, menangani tiga bocah lelaki kami pun aku sudah kewalahan,” keluhnya.

“Kenapa? Kan dia banyak uang?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja. Seketika canggung muncul. Aku menyesal telah mempertanyakannya.

“Banyak, Mbak. Karier dan penghasilannya sudah baik sejak dulu. Hanya saja aku tidak pernah dikasih kesempatan memegang uang. Aku hanya diberi jatah bulanan untuk keperluan rumah dan anak-anak,” jawab Rina sambil tertunduk mengenang kesakitan yang dia rasakan.

Aku membayangkan bagaimana rasanya menjadi Rina. Suaminya ketahuan selingkuh sejak empat tahun lalu dengan beberapa perempuan yang berbeda.

Penemuan lipstik di mobil, foto suami dengan perempuan lain, belum lagi kebiasaan suami clubbing dan pulang dalam keadaan mabuk dan bau alkohol.

“Aku memikirkan anak-anak, Mbak. Bagaimana jadinya mereka nanti? Aku khawatir anak-anak malah belajar hal-hal yang tidak baik dari ayahnya. Aku juga sering stres dan marah-marah gak jelas ke anak, aku nyesel, Mbak. Dan aku gak tahu harus berbuat apa.”

Mendengar cerita Rina aku pun tidak tahu harus memberikan saran seperti apa. Kecuali aku menyarankan agar semua dikembalikan kepada yang Maha Kuasa. Karena Dia lah yang membolak-balikan hati seseorang. Dia Yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu.

“Terus doakan ya. Pintakan semua pada Allah. Jangan menyerah sama keadaan. Kalau ingin nangis, nangis aja sama Allah. Bilang kalau kita sudah gak kuat!” kataku pada Rina.

Kalimat itu lebih kepada hal yang sering aku lakukan jika sedang menghadapi ujian hidup dari Allah. Bersyukur, hingga sekarang masih diberikan kesempatan untuk mendapatkan hidup yang jauh lebih baik. Allah memang selalu baik pada Hamba-Nya.

Aku coba menenangkannya. Padahal entah kenapa, setelah mendengar semuanya kepala dan batinku pun ikut berkecamuk.

“Mbak….”

“Ya?”

“Aku ingin belajar mandiri dan independen seperti Mbak. Aku gak mau lagi ketergantungan sama suami. Aku udah terlalu lelah. Aku udah merasa hampir gila. Tubuh kami memang berada dalam atap yang sama. Tetapi kami tidak saling sapa. Kami bicara hanya sebatas urusan anak-anak. Tapi tidak sebagai pasangan. Aku hanya ingin dia yang memulai untuk membahas masalah keluarga. Aku sering bawa bahasan ini, tetapi dia tidak pernah menanggapinya dengan serius. Seolah menguap begitu saja. Aku istrinya, tetapi dia bersenang-senang dengan perempuan lain.”

“Kamu sendiri maunya gimana?” tanyaku pada Rina.

“Entah, bertahan atau lepas, rasanya aku tidak mampu memilih. Anak-anak dan segala hal menjadi bahan pertimbangan yang membebaniku saat ini. Mungkin, aku akan melanjutkan sabar yang selama ini aku lakukan, Mbak.”

Lagi-lagi air mata Rina mengalir membasahi pipinya. Aku hanya terpaku. Bingung apa yang harus dilakukan.

Memeluknya dengan erat adalah satu-satunya hal yang bisa kulakukan. Dengan harapan bisa sedikit menenangkan perasaannya.

“Nanti lagi, kalau ada apa-apa, tidak perlu sungkan ya. Bicara saja. Siapa tahu, dengan bicara hatimu sedikit lega,” ucapku pada Rina.

“Iya, Mbak. Doakan aku ya.”

“Selalu, insyaallah,” jawabku.

“Sekarang kamu mau lanjut kemana?” tanyaku.

“Aku mau pulang. Suamiku pasti sudah datang dari Jakarta.”

“Lah, pergi ternyata?” Kukira ada di rumah akhir pekan begini,” ucapku sambil terkekeh.

“Enggak, Mbak. Akhir pekan jadwalnya dia dugem di Jakarta.”

Allahu Akbar.

Aku menelan saliva dan menghela napas panjang. Tidak habis pikir anda aku yang ada di posisinya.

“Sabar ya, Rin…!”

Rina mengangguk. Seraya menyeka genangan air di sudut matanya.

*Cerita ini ditulis berdasarkan kisah nyata seorang teman

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *