Panjaga Ruh Kata / Bab 1
Di suatu pagi yang sunyi, di lantai dua sebuah rumah kayu tua di kawasan Dago Atas, Bandung, Rara Gendis sedang menata lembaran-lembaran puisi yang ia ketik dengan mesin tik tua warisan kakeknya. Matahari baru saja menyembulkan sinarnya di antara kabut tipis. Di luar jendela, suara burung cangkurileung bersahut-sahutan seolah turut membaca bait-bait yang diletakkan Rara di tepi jendela:
“Kata adalah ruh yang bergetar,
Tak kasat mata, tapi membangun dunia.”
Ia membaca ulang bait itu dengan suara lirih, seakan menyucikan kembali apa yang ditulisnya. Di ruangan kecil penuh rak kayu, aroma kertas tua dan bunga kenanga kering bercampur dalam udara. Inilah dunia Rara Gendis, seorang pustakawan muda berusia 27 tahun yang hidupnya seakan dijalin oleh kalimat demi kalimat yang pernah lahir dari jiwa-jiwa penyair tanah air.
Sejak kecil, Rara selalu percaya bahwa kata bukan sekadar alat komunikasi. Kata adalah sesuatu yang hidup, memiliki napas dan memori. Mungkin karena itu pula ia begitu mencintai buku, terutama buku-buku sastra lama, puisi-puisi yang ditulis dengan darah dan pergulatan batin.
Hari itu, di antara tumpukan katalog dan kartu perpustakaan, sebuah amplop bergambar Menara Kembar Petronas mencuri perhatiannya. Ia menatap nama pengirim: Nusantara Melayu Raya (Numera), Kuala Lumpur. Tangannya gemetar saat membukanya. Di dalamnya, selembar undangan resmi tercetak rapi.
“Kepada: Rara Gendis
Pustakawan dan Peneliti Sastra
Diharapkan kehadirannya sebagai peserta undangan dalam:
SEMINAR SASTRA INTERNASIONAL – Menjaga Ruh Kata
Kuala Lumpur, 21 Maret 2014
Sebuah ruang pertemuan antara jiwa-jiwa yang percaya pada kekuatan aksara.”
Rara terdiam. Beberapa detik ia tak mampu membaca lanjutannya. Ia menatap undangan itu seperti menatap bayangan dirinya yang lain—yang berani, yang berpetualang, yang siap menyeberangi batas-batas geografi demi kata.
Namun keberanian bukan sesuatu yang otomatis tumbuh dari dalam dirinya.
Malam itu, saat langit Bandung mulai mendung, Rara duduk bersama Pak Banyu, mentornya di Perpustakaan Cikapundung. Seorang pria sepuh berwajah tenang, seperti sebuah buku tua yang lembut saat dibaca.
“Jadi?” tanya Pak Banyu setelah mendengar kabar itu.
Rara menarik napas dalam. “Saya… ragu. Saya belum pernah ke luar negeri sendirian. Bahkan ke Jakarta pun saya jarang.”
Pak Banyu tersenyum kecil. “Rara, kadang yang membuat kata-kata kita kuat bukan hanya apa yang kita baca, tapi apa yang kita alami. Perjalanan itu penting. Kau ingat nasihat Chairil Anwar?”
“Yang mana, Pak?”
“‘Aku ingin hidup seribu tahun lagi.’ Tapi hidup yang seperti apa? Hidup yang menggali dan menyelami makna. Mungkin ini saatnya kau mulai menggali dari luar kotak kecilmu.”
Rara terdiam. Lalu ia berkata pelan, “Tapi… saya takut tak bisa menjadi siapa-siapa di sana.”
“Tak perlu jadi siapa-siapa. Cukup hadir. Kata akan mengalir jika kita membuka diri.”
Ada getar pelan dalam suara Pak Banyu. Rara menatap mata lelaki tua itu—dan di sana ia temukan semacam restu yang tulus, seperti seorang bapak melepas anaknya ke gerbang baru.
**
Bandung hari itu menyisakan angin dingin yang menampar pelan wajahnya saat ia melangkah ke Stasiun Kereta Cepat. Dalam ranselnya, ia membawa beberapa buku puisi, pakaian sederhana, dan sepotong kenangan masa kecil tentang seorang ayah yang selalu membacakan puisi Sapardi Djoko Damono saat petang menjelang.
Ia menatap langit yang mulai berwarna kelabu. “Kuala Lumpur…” gumamnya. Kota yang selama ini hanya ada di peta dan cerita-cerita para penulis yang ia kagumi: A. Samad Said, Dato’ Kemala, Zurinah Hassan.
Di kereta menuju Bandara Soekarno-Hatta, ia menuliskan sepotong puisi baru di notes kecilnya:
“Jika ruh kata memanggil dari seberang,
Haruskah kita tetap tinggal dan menunggu hujan reda?
Atau berjalan meski alas kaki belum siap menempuh badai?”
Sesekali, ia memandangi tiket pesawat di pangkuannya, seolah ingin memastikan bahwa ini semua nyata. Perjalanan ini bukan sekadar mimpi seorang pustakawan sunyi dari kota hujan.
**
Di Bandara KLIA, aroma asing menyergap Rara. Udara lembap yang berbeda dengan Bandung. Wajah-wajah yang tak ia kenal. Bahasa Melayu yang terdengar akrab namun juga asing di telinga. Ia menarik napas panjang.
“Selamat datang ke Kuala Lumpur,” ujar petugas imigrasi dengan ramah. Sebuah kalimat yang sederhana, tapi terasa seperti pintu yang perlahan terbuka ke dunia lain.
Ia menaiki taksi menuju hotel tempat ia menginap—The Majestic Hotel, bangunan bersejarah yang dulunya pernah menjadi rumah bagi pertemuan-pertemuan intelektual era kolonial. Dari balik jendela mobil, Kuala Lumpur menyuguhkan wajah modernnya: Menara Petronas menjulang seperti pena raksasa, lampu-lampu jalan memantul di aspal basah.
Namun saat taksi melintasi Dataran Merdeka, hatinya berdegup lebih kencang. Bangunan Sultan Abdul Samad berdiri anggun, bagai puisi dalam bentuk batu. Ia menatap menara jamnya yang tinggi, dan membayangkan suara lonceng yang memanggil para penyair dari masa silam.
Setiba di hotel, ia disambut oleh resepsionis yang ramah. Kamarnya menghadap ke arah taman kecil, di mana bunga kamboja jatuh perlahan seperti dalam gerak lambat. Ia duduk di ranjang, membuka catatannya, dan mulai menulis:
“Hari pertama.
Aku sampai, tapi belum tiba.
Tubuhku di kota ini. Tapi jiwaku masih mencari ruang untuk berpijak.
Mungkin besok aku akan mulai memahami
Mengapa aku dipanggil ke tempat ini.”
Ia lalu berdiri di jendela. Kota ini, pikirnya, seperti halaman kosong yang menanti untuk ditulisi. Tapi bukan dengan tangan biasa—melainkan dengan hati yang mendengar bisikan kata.
**
Di malam pertama itu, saat lampu kota mulai berpendar lembut, Rara duduk di kursi sudut kafe hotel. Ia memesan secangkir teh tarik dan mulai membaca ulang buku puisi Syurga ke Sembilan karya Dato’ Kemala yang ia bawa dari Bandung.
“Bahasa adalah pelita di lorong waktu,
Membakar bayang-bayang gelap sejarah.”
Ia membacanya dengan lirih. Kata-kata itu seolah hidup di hadapannya. Ia merasa bahwa perjalanan ini lebih dari sekadar seminar. Ada sesuatu yang menunggu untuk ditemukan—entah dalam puisi, dalam tempat, atau dalam dirinya sendiri.
Seorang pelayan lewat dan berkata dengan logat Melayu yang halus, “Puan nampak suka membaca sajak. Esok hari pertama seminar, ya?”
Rara tersenyum. “Ya. Pertama kalinya saya ikut.”
“Baguslah. Banyak penyair dari seluruh dunia. Tapi ada satu yang istimewa—Dato’ Kemala akan hadir juga.”
Nama itu seperti nyala lilin yang membuat jantung Rara sejenak berhenti berdetak. Ia menatap pelayan itu.
“Benarkah? Saya sudah lama membaca puisinya.”
“Ramai yang begitu. Kata-katanya ada ruh. Kalau jumpa beliau, jangan lupa bertanya tentang puisi ‘Langit Ziarah’—itu yang paling saya suka.”
Rara mencatat nama puisi itu. Malam itu ia tahu, takdir telah membawanya ke tempat yang tak hanya menjanjikan pengalaman, tapi pertemuan jiwa—dengan para penjaga kata, dan dengan dirinya sendiri.
Komentar (0)
- Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
