Menari di Atas Dunia: Kisah Devi Dja / Bab 9
Jakarta, 1970-an. Di rumah mungil berteras rindang, Devi Dja duduk di kursi rotan, memandangi langit sore yang berwarna tembaga. Rambutnya sudah memutih, wajahnya dihiasi kerutan-kerutan halus yang tampak seperti pola batik. Di pangkuannya, sebuah buku harian tua terbuka, penuh dengan tulisan tangan yang tak lagi rapi.
Ia tak lagi tampil di panggung besar, tapi setiap sore, ia masih menari di ruang tamunya—sendirian, tanpa musik, hanya mengikuti irama yang sudah tertanam dalam jiwanya. Para tetangga menyebutnya “Ibu Penari”, sementara anak-anak sanggar melihatnya sebagai legenda hidup.
Namun, Devi tahu legenda pun bisa dilupakan. Ia mulai merasa terpinggirkan dalam dunia seni yang semakin modern. Tari-tari eksperimental mulai menggantikan klasik, dan batik dianggap kuno. Ia menyaksikan generasi baru tumbuh tanpa mengenal panggung Dardanella, atau perjuangan mengenalkan Indonesia ke dunia.
Suatu hari, seorang jurnalis muda datang menemuinya untuk wawancara. Ia bertanya, “Apa Ibu tidak kecewa, setelah semua perjuangan, nama Ibu jarang disebut dalam buku sejarah seni?” Devi tersenyum, lalu menjawab:
“Saya tidak menari untuk dikenang. Saya menari agar budaya kita tidak terlupakan. Kalau ada satu anak yang mencintai wayang karena melihat gerakan saya, itu cukup.”
Akhir hayat Devi Dja tak diwarnai sorotan kamera, tapi oleh sahabat-sahabat seniman yang terus datang menengoknya, membawakan kaset gamelan, bunga melati, dan cerita-cerita dari dunia yang terus berubah. Ia meninggal dengan tenang di usia 87 tahun, dengan sanggul masih terikat dan batik tua yang pernah menemaninya menari di empat benua.
***
Kini, nama Devi Dja perlahan kembali bergema. Generasi muda mulai menggali sejarah seni Indonesia, dan menemukan kisah seorang perempuan Jawa yang berani keluar dari pakem, menari di negeri asing, dan pulang membawa dunia ke pangkuan budaya Indonesia.
Seperti bayangan senja yang tak pernah benar-benar hilang, Devi Dja tetap hadir—di setiap gerakan tangan penari muda, di setiap denting gamelan, dan di setiap hati yang mencintai budaya dengan tekun dan lembut.
“Saya tidak pernah benar-benar pergi. Setiap tarian Indonesia, saya ada di dalamnya.” – Devi Dja
Di tahun 1970-an Jakarta, sebuah pendopo mungil dengan teras rindang, Devi Dja terlihat duduk di kursi rotan menerawang ke langit tembaga. Di kepalanya, dia bercucu rambut. Wajahnya tersimpan keriput halus menyerupai batik. Di atas pahanya, suatu buku hariah terukir berisi tulisan dengan huruf jari yang sudah ngeloyo. Kehidupan Devi bukan berpusat pada pentas besar lagi. Usianya sudah berkepala 7, dia masih muru dengan menari. Ruang tamu menjadi pentasnya, tanpa alat, mengikuti melodi yang menggaung dalam jiwanya. Tetangga menamainya “Ibu Penari” sedang anak-anak sanggar menamainya legenda hidup. Devi menyadari dia sudah terasing dalam dunia seni yang diawali kontemporer dengan semburan eksperimental, dan batik diusir sebagai kuno. Dia menyaksikan luntur tanpa lagi mengenal panggung Dardanella dan “? Proyek Indonesia dipasarkan ke dunia” yang mengedepankan Indonesia. Beberapa waktu, mengadakan temurung, menemuinya, dan nanya.. “Kok namanya uda tereliminasi.
Devi Dja menerima dia tanpa gelas laksana. Itu perjuangan bukan di atas hinges. Defemorkah, menerima Indonesia dan butuh menari tidak menjawab. Jadi matanya dose. Jika menggerakan 1 anak merelakan, kawinlah. “Di era modern, berjuang karena dianggap memudar”
***
Di bawah sorotan lampu studio dan bayang-bayang Hollywood yang gemerlap, Devi Dja melangkah ke dunia yang sama sekali berbeda dari panggung sandiwara dan tari tradisional yang selama ini menjadi rumahnya. Mari kita lanjutkan kisahnya dalam bab yang penuh cahaya dan keraguan.
Bintang Kecil Hollywood
Los Angeles, awal 1940-an. Devi Dja berdiri di depan studio MGM, mengenakan kebaya sederhana dan selendang batik. Di sekelilingnya, para aktor dan aktris berlalu-lalang dengan busana glamor dan bahasa Inggris yang cepat dan tajam. Ia merasa seperti bunga melati di tengah taman mawar—indah, tapi asing.
Setelah sukses memperkenalkan budaya Indonesia lewat pertunjukan tari di New York dan Chicago, Devi mulai dilirik oleh industri film. Ia mendapat tawaran untuk tampil sebagai penari latar atau konsultan budaya dalam beberapa produksi Hollywood. Peran-perannya kecil, kadang tanpa dialog, tapi setiap gerakan tubuhnya membawa filosofi dari tanah Jawa.
Ia tampil dalam film seperti:
• Road to Singapore (1940) – sebagai penari latar eksotis
• The Picture of Dorian Gray (1945) – sebagai penari utama dalam adegan sakral
• Three Came Home (1950) – sebagai Ah Yin, peran kecil tapi bermakna
Meski tidak menjadi pemeran utama, kehadirannya mencuri perhatian. Kritikus menyebut gerakannya “seperti bayangan yang berbicara.” Namun, di balik sorotan itu, Devi menyimpan dilema: siapa dirinya di mata dunia? Apakah ia hanya eksotika Timur yang dijadikan latar, atau seniman sejati yang membawa pesan budaya?
Di sela-sela syuting, Devi menjalin persahabatan dengan beberapa bintang besar Hollywood. Ia dikenal akrab dengan:
• Greta Garbo, yang tertarik pada filosofi tari Jawa dan sering berdiskusi dengannya tentang spiritualitas gerakan
• Bob Hope, yang menyebut Devi sebagai “penari yang bisa membuat diam terasa seperti musik”
• Bing Crosby dan Dorothy Lamour, yang pernah menghadiri pertunjukan tari Devi di klub malam Sarong Room sebelum terbakar pada 1946
Namun, Devi juga menghadapi hambatan besar: bahasa. Kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas, membuatnya sulit mendapatkan peran dengan dialog. Ia belajar keras, mencatat kata-kata baru setiap hari, dan berlatih dengan pelatih suara. Tapi Hollywood punya standar yang tak mudah ditembus.
Di satu malam, setelah syuting selesai, Devi menulis di jurnalnya:
“Aku menari di negeri yang tidak mengenal batik. Tapi setiap kali aku melangkah, aku membawa tanah airku bersamaku.”
Rasa bangga karena bisa tampil di layar lebar bercampur dengan rasa kehilangan identitas. Ia mulai bertanya: apakah menjadi warga negara Amerika berarti meninggalkan akar budaya? Apakah popularitas di negeri asing bisa menggantikan pengakuan dari tanah kelahiran?
Komentar (0)
- Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!
